
"Lebih baik kau ikut aku," ajak pria tersebut.
Thalita menggeleng. "Kenapa aku harus ikut kamu kenal aja nggak!" ketusnya.
Tanpa persetujuan gadis di depannya pria tersebut langsung menarik masuk ke dalam mobil dan membawa gadis tersebut ke apartemen miliknya. Thalita yang sudah tidak memiliki gairah hidup pasrah saja ketika tangannya ditarik begitu saja.
"Tinggallah di sini. Ini apartemenki yang sudah lama tidak ditinggali." Infonya padahal gadis di depannya sama sekali tidak perduli.
"Hei kok diem aja?" tanyanya ketika melihat orang yang diajak bicara malah tidak merespon.
"Aku nggak mau tinggal di sini," kekeuh Thalita.
"Trus kamu maunya tinggal di mana? Di kuburan?" candanya.
"Ah, kamu belum kenal udah ngeselin apalagi kalau udah kenal."
"Kalo udah kenal pasti sayang lah."
"Cih." Thalita mengerucutkan bibirnya.
"Sudah ayo masuk!"
Thalita pun masuk mengekor di belakang pria tersebut. "Kok masih bersih katanya udah lama tidak ditinggali?" Thalita terpukau melihat apartemen mewah yang katanya tidak ditinggali, tetapi masih bersih dan rapi.
"Iyalah karena setiap hari aku menyuruh bibi datang kemari untuk membersihkan apartemen ini."
"Oh." Thalita hanya manggut-manggut mendengar penjelasan pria di hadapannya.
"Apartemennya bagus rapi besar mewah tapi kok kamarnya cuma satu?" tanyanya ketika melihat- lihat apartemen tersebut yang ternyata lebih banyak di gunakan sebagai ruang tamu ketimbang kamar.
"Iyalah orang aku juga sendiri yang tinggal di sini buat apa kamar banyak kalau nggak ada yang nempatin juga."
"Emang kalo ada tamu pengen nginap tidur dimana?"
"Nggak ada kalo tamu pasti langsung main ke rumah. Ini nih apartemen cuma aku tinggalin pas aku pengen lagi sendiri aja."
__ADS_1
"Oh."
"Udah ya aku pergi dulu mau kerja. Entar siang aku kesini lagi buat temenin kamu belanja ngisi kulkas di dapur. Kamu juga nggak bawa pakaian ganti juga, kan?" Pria itu berlalu dari hadapan Thalita tanpa menunggu jawaban darinya. Namun, sebelum benar-benar pergi dia sempat memesan makanan secara online untuk Thalita.
Seperginya pria tersebut Thalita termenung seorang diri. Bagaimana mungkin dia menyetujui usul pria tersebut untuk tinggal di apartemennya padahal namanya saja dia tidak tahu. Benar-benar konyol.
Lama Thalita merenungi nasibnya dia bertekad untuk tidak mudah percaya saja pada seorang lelaki. Dia harus waspada takut-takut pria yang menolongnya itu punya niat terselubung di balik kebaikannya. Kisahnya dengan Yudha benar-benar harus dia jadikan pelajaran untuk bersikap ke depannya walaupun di dalam hati dia tidak bisa membohongi bahwa dia sebenarnya tertarik pada pria bermata teduh itu. Entah mengapa walaupun baru kenal beberapa saat, tetapi dia menyukai sikap pria yang menolongnya ini.
"Ah sudahlah aku harus beristirahat dulu biar pikiranku nggak ngelantur kemana-mana." Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size yang sekarang untuk sementara menjadi miliknya.
Tiba-tiba ada yang memencet bel. Thalita beranjak dari tidurannya dan membuka pintu apartemen, ternyata seorang pengantar makanan yang membawa pesanan pria yang menolongnya tadi, untuknya.
"Silahkan dinikmati Mbak!" kata pengantar paket tersebut.
"Makasih Mas, tapi ini sudah dibayar belum?" tanyanya khawatir karena saat ini dia tidak sedang memegang uang.
"Oh sudah Mbak. Bapaknya yang bayar tadi."
"Oh makasih kalau begitu Mas!"
Setelah Mas pengantar paket pergi, buru-buru Thalita membuka boks makanan tersebut. Ternyata pria tersebut memesankan dia nasi dengan lauk ayam goreng mentega dan juga pepes ikan pesmol. Thalita memakan makanannya dengan lahap hingga tandas tak bersisa. Dia memang kelaparan karena semenjak pagi dia belum makan. Rencananya dia akan makan pagi di cafe tempatnya bekerja. Namun, bukan makanan yang menghampirinya, tetapi kabar buruk yang mengharuskan dia harus out dari tempatnya bekerja.
Setelah makan dia kembali ke peraduannya lagi, melanjutkan istirahatnya yang sempat tertunda.
Siang pun menjelang, tetapi Thalita masih bergelut dengan gulingnya hingga saat Juno menghampiri apartemennya dia masih tertidur pulas. Awalnya Juno memencet bel apartemennya. Namun, ketika tidak ada jawaban dari dalam terpaksa dia membuka pintu apartemen dengan pass kodenya dan kebetulan pintu kamarnya tidak ditutup sehingga Juno langsung bisa membangunkan Thalita.
"Hei bangun!" perintah Juno sambil mengguncang tubuh Thalita. Dia lupa menanyakan nama gadis tersebut tadi pagi sehingga bingung ketika membangunkannya harus memanggil dengan nama apa.
"Hei, hei bangun!"
"Eugh." Thalita hanya melenguh, tetapi beberapa saat kemudian langsung terduduk seketika karena terkejut, nyawanya masih belum terkumpul seutuhnya.
"Sana mandi kita harus belanja siang ini!" perintah Juno.
Dengan mata yang masih setengah mengantuk ia beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Setengah jam di kamar mandi akhirnya dia keluar dengan baju yang sama.
__ADS_1
"Kok nggak ganti baju? Aku keluar dulu ya kalo kamu masih mau ganti baju." Beranjak keluar seperti biasa tanpa menunggu jawaban yang di tanya.
Thalita hanya memoles wajahnya dengan bedak secara tipis saja. Setelah memasang liptin dan menyemprotkan parfum dia keluar dari kamar.
"Lho kok ...." Juno terkejut karena Thalita belum mengganti pakaiannya juga tetapi ia segera menutup mulutnya sendiri kala mengingat gadis di depannya memang tidak membawa pakaian ganti.
"Udah yuk berangkat!" Dia meralat ucapannya.
Akhirnya kedua insan yang tidak saling mengenal itu berjalan beriringan menuju mobil yang akan mengantarnya ke pusat perbelanjaan.
Sesampai di sana Juno mengambil troli dan mendorongnya ke tempat bahan-bahan dapur. "Silahkan ambil barang-barang yang kamu butuhkan!"
Akhirnya kedua insan tersebut berbelanja kebutuhan pokok sambil berdiskusi apa saja yang harus di beli layaknya sepasang suami istri. Selesai berbelanja kebutuhan pokok Juno membawa Thalita ke tempat pakaian. "Silahkan kamu cari baju ganti di sini. Kamu boleh membelinya sebanyak yang kamu mau."
Namun Thalita menggeleng. "Nggak usahlah lebih baik kamu anterin aku ke kosan aku aja aku mau ngambil bajuku di sana."
"Itu mah gampang nanti aku antar ke sana, tapi untuk saat ini belilah dulu biar tidak repot soalnya habis ini aku harus kembali ke kantor."
Akhirnya dengan pertimbangan Thalita mengangguk dan mengambil sepasang kemeja dan rok panjang di sana.
Karena melihat Thalita hanya mengambil satu akhirnya Juno memilihkan pakaian untuknya. Total ada tiga pasang pakaian yang mereka beli di toko tersebut.
"Sudahkah belanjanya? Nggak ada yang ketinggalan?"
"Kayaknya udah semua," jawabnya ceria seolah melupakan kesedihan dirinya yang hampir bunuh diri.
"Kalo begitu waktunya makan siang. Yuk!" Juno menarik tangan Thalita untuk dibawa ke restoran yang berada di dalam Mall tersebut.
Juno memanggil waiters dan memesan makanan, tetapi sebelumnya dia menanyakan Thalita ingin makan apa. Yang ditanya hanya berkata, "Samain aja. Aku bisa makan apa aja kok asalkan halal."
Sambil menunggu makanan datang, Juno teringat bahwa mereka belum saling mengenal. "Oh ya nama kamu siapa?" tanyanya sambil terkekeh karena aneh saja mereka seolah sudah akrab, tetapi kenyataannya nama saja tidak tahu.
"Oh ya nama saya Thalita nama kamu siapa?" Sambil menyodorkan tangan.
"Nama saya Juliano panggil saja Juno!" Sambil menerima uluran tangan Thalita dan keduanya pun tertawa karena merasa lucu.
__ADS_1
Bersambung...