
"Jangan macem-macem sama Kekasih gue ya! Dia hanya milik gue," kata Yudha dengan suara khas orang mabuk.
Mendengar ancaman Yudha, Regan akhirnya melepas pegangan tangannya dari tangan kanan Thalita karena tidak mungkin dia berselisih dengan sahabatnya sendiri. Kemudian dia ganti menarik tangan Sauna untuk di bawa ke kamar di lantai atas.
"Ayo ikut aku kau harus menggantikan dia menemaniku."
"Jangan Pak biar nanti saya bawakan gadis lain untuk Bapak!" Sauna memohon.
"Tidak bisa sudah terlambat. Suruh siapa kamu malah membawa kekasih Yudha."
"Tapi itu bukan salah saya Pak. Bapak kan bisa merebut gadis itu dari Yudha." Sauna masih saja membela diri.
"Tidak bisa memang kamu mau melihat saya bertengkar dengan Yudha hah!" ucap Yudha dengan Setengah membentak.
"Ti-dak Pak tapi ku mohon lepaskan saya Pak. Saya tidak punya pengalaman bermain begituan Pak jadi saya tidak akan bisa memuaskan Bapak," kilahnya.
Mendengar pernyataan Sauna justru Regan menaikkan sudut bibirnya. "Kamu tahu gadis seperti itu yang saya cari."
Glek.
Sauna menelan ludahnya kasar mendengar pernyataan Regan.
"Salah ngomong deh kayaknya aku," pikirnya.
Regan terus menarik tangan Sauna yang terus melakukan perlawanan. Dikira dirinya tidak akan menang Sauna menyerah.
"Baik Pak saya akan melayani Bapak tapi saya dapat apa?" Tidak mau rugi begitu saja.
__ADS_1
"Nah begitu dong kalau begini dari tadi kan saya tidak harus narik- narik. Saya akan berikan apapun yang kamu mau."
"Tapi saya izin dulu mau ngerekam adegan mereka." Menunjuk Thalita yang ditarik Yudha menuju hotel di seberang jalan.
"Buat apa sih!" Regan lalu menelpon orang suruhannya untuk mengambil rekaman pasangan tersebut.
"Beres!" Katanya setelah menutup telepon. Kemudian kembali menarik Sauna ke kamarnya di lantai atas karena kebetulan sebagai pemilik club ini Regan memiliki kamar pribadi di lantai dua club tersebut.
Terjadilah adegan panas yang sama di dua tempat yang berbeds, tetapi dengan keadaan yang berbeda pula. Pasangan yang satu melakukan dengan penuh kesadaran sedangkan pasangan yang lainnya melakukan dengan setengah kesadaran karena pengaruh obat dan alkohol.
Setelah adegan panas berakhir Sauna terlihat bahagia dengan segepok uang di tangannya. Rupanya Regan benar-benar membayar mahal harga keperawanannya dan itu membuat Sauna benar-benar tidak tampak menyesal telah menyerahkan mahkotanya. Keluar dari club tersebut Sauna langsung bergegas menuju Mall. Dia benar-benar ingin menikmati uang haramnya dengan berbelanja barang-barang mewah.
Berbeda dengan Sauna Thalita yang baru sadar apa yang telah terjadi dengannya menangis di bawah guyuran air shower di kamar mandi hotel. Adegan demi adegan yang telah selesai dia perankan terngiang di ingatannya sehingga air matanya tambah deras sederas air yang keluar dari lubang shower kamar mandi tersebut. Apalagi ditambah dia tidak mendapati tubuh Yudha ketika dia terbangun dari tidur akibat kelelahannya tadi. Pikirannya makin kacau saja. Dia berpikir Yudha akan meninggalkannya setelah apa yang terjadi padanya.
Beberapa hari berlalu Yudha sepertinya berubah sikapnya terhadap Thalita. Dia tidak pernah lagi menjawab sapaan Thalita apalagi sampai mengantar dan menjemputnya seperti sebelumnya. Lebih menyakitkan lagi dia terlihat selalu menjemput Sauna ke cafe tanpa menghiraukan perasaannya. Entah apa yang sudah dilakukan Sauna terhadap Yudha sehingga membuat Yudha semakin menempel padanya. Namun, semua ini masih membuat Thalita masih bisa bersabar.
Hingga suatu hari.
Awalnya Thalita berpikir kesalahan apa yang telah dia perbuat sehingga sampai Reihan memutuskan memecat dirinya. Namun, kemudian dia semakin syok ketika Reihan memperlihatkan video panasnya bersama Yudha.
"Jadi maafkan saya. Saya harus memecat kamu. Ini demi kebaikan bersama. Saya tahu pasti kamu juga akan merasa tidak enak bekerja di sini karena video ini sudah menyebar di kalangan para pekerja di sini!"
"Pantas saja teman-teman pada bisik-bisik kalau melihat aku sejak kemarin," pikirnya dalam hati.
"Baiklah Pak saya terima keputusan Bapak karena saya akui itu memang kesalahan saya. Apakah Bapak percaya dengan semua itu. Maksud saya apakah Bapak percaya saya sebejat itu?"
"Entahlah melihat video itu sepertinya memang asli, tapi sampai saat ini saya belum percaya kalau kamu seperti itu."
__ADS_1
"Terima kasih kalau Bapak masih percaya padaku terus terang saya saja masih tidak percaya saya bisa melakukan hal itu karena sebenarnya saat itu saya setengah tidak sadar."
"Saya pun menyimpulkan seperti itu sepertinya kamu dalam pengaruh obat."
"Entahlah saya tidak mengerti."
"Kamu yang sabar sebagai sahabat saya akan berusaha menghentikan video itu sehingga tidak tersebar ke luar cafe dan saya akan meminta para karyawan untuk menghapus video itu dan jangan sampai ada yang menyimpannya."
"Terima kasih Pak." Hanya itu yang bisa di ucapkan Thalita kepada sang manager sekaligus sahabatnya itu.
Thalita pergi meninggalkan cafe itu setelah berpamitan dan meminta maaf pada para sahabatnya. Dia tidak memesan taksi ataupun ojek online ketika meninggalkan cafe tersebut tetapi memilih berjalan kaki sambil merenungi nasibnya sendiri. Aku harus kemana? Harus kerja apa ?Apakah aku harus kembali ke kampung? Begitulah pertanyaan yang ada dalam hatinya kini. Kemudian dia teringat akan Yudha.
"Brengsek! Apa sebenarnya yang diinginkan pria itu? Tidak cukupkah dia merenggut kehormatanku sehingga dia harus menyebar video itu?" Thalita menghembuskan nafas kasar.
"Ya Tuhan kenapa aku harus mengenalnya? Dosa apakah aku sehingga harus menanggung kehinaan ini?" Tak terasa air matanya kembali mengalir dan lama-kelamaan tangisannya menjadi isakan yang memilukan. Untung jalan dalam keadaan sepi sehingga tidak ada orang yang melihatnya berlutut sambil menangis di pinggir jalan raya.
Kemudian setan apa yang merasukinya sehingga ketika melihat jembatan di salah satu sisi jalan dia langsung berniat untuk terjun ke bawah sana. Lebih baik mati daripada harus menanggung malu seumur hidup, begitulah kira-kira pemikirannya.
Tanpa berpikir panjang dia mendekati jembatan dan berdiri di depan jembatan itu sambil memejamkan mata. "Bapak, ibu, maafkan aku yang tidak bisa menjaga kehormatan seperti yang bapak dan ibu inginkan. Lebih baik aku menyusul kalian daripada harus menanggung malu seumur hidup." Setelah mengatakan itu Thalita bersiap untuk melompat. Namun tiba-tiba ada tangan yang menariknya ke belakang.
"Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah," kata seorang pria yang menarik tangannya tersebut.
Thalita menoleh. "Kamu, ngapain kamu menolong aku? Aku sudah tidak berniat meneruskan hidupku. Aku sudah lelah!"
"Memangnya siapa kamu yang berhak memutuskan hidup dan matimu? Meski sepuluh kali pun kamu bunuh diri kalau Tuhan masih menginginkan kamu hidup maka kau tidak akan pernah mati. Palingan kamu bakalan cedera dan itupun tambah akan menyiksa hidupmu dan mungkin juga akan menyusahkan orang lain."
Thalita terdiam dia memikirkan perkataan pria itu entah mengapa dirinya membenarkan perkataan orang yang bahkan tak pernah dikenalnya ini.
__ADS_1
"Lebih baik kau ikut aku," ajak pria tersebut.
Bersambung....