
Kreett.
Mobil tersebut berhenti mendadak, tanpa aba-aba Itnas langsung membuka pintunya dan masuk ke dalam mobil. "Jalan Pak!"
Setelah masuk ke dalam mobil Itnas meminta pemiliknya untuk melajukan mobilnya dengan kencang.
"Tolong aku! Tolong cepetin laju mobilnya karena orang itu mengejarku." Seraya menunjuk moge di belakang mobil itu dari kaca spion.
"Oke siap." Kata Juno. Ya pemilik mobil itu adalah Juno. Dia mendatangi perumahan itu untuk mencari keberadaan Thalita setelah mendapat kabar dari orang suruhannya bahwa Thalita tinggal di sekitar perumahan itu.
Juno kemudian menginjak gas melajukan mobilnya membelah jalanan dengan kencang. Namun, semakin kencang Juno menyetir semakin kencang pula Yudha mengendarai motornya sehingga terjadilah kejar-kejaran diantara keduanya. Hampir setengah jam mereka melakukan aksi kejar-kejaran dan sekarang hampir saja motor Yudha mendekati mobil Juno sehingga membuat Itnas ketar-ketir saja. Juno kemudian semakin mempercepat laju mobilnya. Untunglah ada persimpangan jalan dan ternyata Yudha memilih jalan yang berbeda dengan jalan yang dipilih Juno.
"Huffth." Itnas bernafas lega ketika menyadari Yudha kehilangan jejak dirinya. "Makasih ya," ucapnya tanpa memandang wajah Juno.
"Iya sama-sama. Tapi kamu punya hutang budi loh sama saya."
"Ih pamrih aja. Nolongin orang itu harus ikhlas biar hidupmu jadi berkah." Itnas berbicara sambil menolehkan wajahnya ke arah Juno. Begitu pun Juno yang melihat ke arah Itnas.
"Itnas?"
"Juno?"
Ucapan mereka hampir bersamaan.
"Ngapain tuh orang ngejar kamu? Kamu juga mencurigakan pakai jubah seperti itu. Jangan -jangan kamu melakukan kejahatan ya?"
"Nuduh orang tuh jangan sembarangan. Memangnya aku ada tampang jahat gitu?"
"Terus ngapain aja kamu sehingga di kejar-kejar orang?"
"Lagi melakukan penyelidikan."
"Oh kamu jadi detektif abal-abal nih ceritanya."
"Terserah deh kamu mau bilang aku apa. Detektif abal-abal kek detektif Connan kek terserah!"
"Cih, detektif Connan apaan baru ketahuan dikit udah kabur."
"Biarin daripada membiarkan diri dalam bahaya."
"Hahaha...." Juno tertawa lepas tepatnya menertawakan Itnas.
"Bagaimana kabar Vierdo?"
Itnas hanya mengendikkan bahu.
"Lho kok nggak tahu? Emangnya hubungan kamu sama dia gimana?"
"Sudah kandas," kata Itnas ketus. Mengapa orang-orang yang menolong dirinya selalu orang yang dekat dengan Vierdo. Kemarin Leon sekarang Juno.
"Kamu kan sahabatnya? Kenapa harus tanya sama aku? Harusnya kamu yang tahu keadaan dia."
__ADS_1
"Semenjak dia menempuh kuliah di Inggris kami tidak pernah bertemu dan kami pun seperti hilang kontak tidak ada diantara kami yang saling menghubungi."
"Cih, sahabat apaan tuh kalo macam itu?"
"Ya mau gimana lagi kita sama-sama sibuk. By the way gimana kabar gadis cantik yang selalu bareng kamu dulu?"
Mendengar pertanyaan Juno Itnas merasa tertampar. Ternyata rasa persahabatan dirinya lebih parah ketimbang persahabatan antara Juno dan Vierdo. Dia bahkan tidak berani lagi mengunjungi sahabatnya yang depresi itu akibat sering di usir bunda Lila.
"Maksud kamu Gladis?"
"Ah, iya itu."
"Entahlah. Ngapain kamu tanyain dia memangnya kamu naksir dia?"
"Cuma tanya aja. Iya sih dulu aku pernah naksir dia, tapi ketika aku tahu dia naksir orang lain aku mundur."
"Haah." Itnas menghela nafas. Cinta itu butuh perjuangan Jun, kalo baru segitu aja nyerah bagaimana kamu bisa mendapatkan cinta kamu. Apalagi kamu itu lelaki harus bisa menghadapi segala tantangan."
"Iya kamu benar makanya sekarang aku lagi sudah payah memperjuangkan cinta aku."
"Sama siapa? Gladis kah?"
"Bukan, sama wanita lain."
"Oh kukira ... semoga sukses ya!"
"Amin. Bantuin doa ya!"
Tiba-tiba motor Yudha berada di depan mereka. Rupanya Yudha menempuh jalan pintas untuk mengejar mereka.
"Jun itu yang mengejar kita ada di depan. Gimana ini Jun?" Itnas berkata dengan bibir bergetar karena ketakutan.
"Tenangkan dirimu Nas, aku akan mencoba mencari solusi."
Juno kemudian mengarahkan mobilnya ke kantor polisi.
"Kok ke arah sini sih?" Itnas bingung dengan jalan yang ditempuh Juno.
Yudha pun memutar balik motornya ketika menyadari mobil yang dikejarnya berbelok ke arah lain. Namun, ketika mobil yang diikutinya masuk ke halaman kantor polisi Yudha tidak mengikutinya dia malah mengendarai motornya dengan kencang lurus ke depan.
Tiga puluh menit mobil Juno terparkir di depan kantor polisi untuk memastikan apakah Yudha masih mengejar mereka. Dirasa aman Juno pun menghidupkan mobilnya dan kembali ke jalanan.
"Kita kemana sekarang?"
"Kamu antarkan aku ke rumah saja ya!" pinta Itnas.
"Siap bos!"
Setelah sampai di sekitaran rumah Itnas meminta Juno menghentikan mobilnya. "Berhenti di sini!" pintanya.
"Lho kok disini? Memangnya rumahmu sudah dekat?"
__ADS_1
"Itu di sana." Itnas menunjuk rumahnya. "Sudah dekat, kan? Jadi aku turun di sini aja biar tidak menimbulkan kecurigaan.
Juno mengernyitkan dahi tidak mengerti, tetapi dia tetap tidak bertanya.
"Boleh aku minta tolong lagi?"
"Apalagi!" keluh Juno.
"Nih." Itnas mengulurkan jubahnya kepada Juno. "Tolong buang jubah ini ke tempat sampah ya! Eh ada lagi boleh tukeran sandal?"
Juno memelototkan matanya pada Itnas. Mana mungkin dia memakai sandal perempuan kalau Itnas sih bisa saja memakai sandal Juno.
"Sudahlah kalau tidak mau saya nyeker aja, tapi tolong buang sandal saya ya!"
Juno semakin menatap Itnas keheranan.
"Aneh nih orang, kesambet setan mana dia," ucapnya dalam hati.
Itnas yang mengerti akan tatapan Juno berbisik, "Untuk menghilangkan jejak!" ucapnya sambil berlalu dari hadapan Juno.
Juno menggelengkan kepala semakin merasa aneh dengan tingkah Itnas.
"Menghilangkan jejak, kayak orang jahat aja." Juno bergidik ngeri.
ππ π π π
Sesuai prediksi Itnas Yudha pulang ke rumah. Untungnya dia sudah mengantisipasi semuanya. Itulah alasan mengapa dia meminta Juno untuk menghentikan mobilnya agak jauh dari kediamannya. Jubah dan sandal bisa saja sudah dilihat oleh Yudha waktu mengejarnya makanya dia meminta Juno membuang semua itu.
"Kamu darimana aja Dek aku tunggu kok lama datangnya?"
"Oh aku abis lari pagi sekaligus jalan-jalan di taman kota."
"Nyeker gitu, kok nggak pakai sepatu?"
"Oh ini, aku keingat omongan oma dulu. Katanya orang jaman dulu jarang pakai sandal makanya mereka sehat-sehat karena kata Oma di kaki kita itu ada saraf-saraf yang terhubung ke organ lain tubuh kita. Jadi waktu kita jalan kaki tanpa sandal seperti melakukan pijat alternatif."
"Oh begitu ya."
"Kata Oma sih gitu. Eh ngomong-ngomong Mas Yudha kok sudah kembali? Katanya takut kenapa-napa kalau Thalita ditinggal sendiri."
"Oh itu ... aku tadi tiba-tiba kepikiran kamu. Jadi langsung aja meluncur ke sini takut terjadi sesuatu sama kamu soalnya firasatku tidak enak."
"Ah Mas Yudha tenang aja, aku baik-baik saja kok."
"Syukurlah kalau begitu." Padahal dalam hati bersyukur karena ternyata orang yang di kejarnya tadi ternyata bukan Itnas. Dalam pikirannya mungkin orang tadi hanya kebetulan lewat di depan rumah kontrakannya dan masalah pot bunga yang pecah mungkin karena angin atau cuma ulah kucing.
Sedang dalam hati Itnas merasa lega karena ternyata Yudha sama sekali tidak mencurigainya.
"Hah Syukurlah kali ini aku aman tapi lain kali aku harus berhati-hati," ucapnya dalam hati.
Jangan lupa likenya ya readers, kalo ada vote dan hadiahnya juga boleh.
__ADS_1