
"Kita kemana dulu ini? Langsung ke rumah Syahdu atau mampir ke suatu tempat dulu?" tanya Juno pada Thalita.
"Ke kantor polisi dulu saja lah," sahut Thalita membuat Juno yang mendengarnya langsung terkaget-kaget.
"Ngapain ke kantor polisi?"
"Mau melihat Sauna ditahan," ujar Thalita sambil tersenyum sumringah.
"Siapa itu Sauna?" tanya Juno tidak paham.
"Orang yang telah menjebak aku dan Yudha dulu dan telah menyebar video itu."
"Oh wanita itu? Nggak kapok dia berbuat jahat?"
"Nggak tahu Mas, mungkin dia sudah ditakdirkan menjadi orang jahat kali," ujar Thalita lagi.
"Mungkin saja," ujar Juno lalu terkekeh.
Juno pun terus mengikuti mobil Vierdo karena yakin istrinya ingin melihat Sauna menyesal atau menderita nantinya. Juno yakin istrinya itu pasti akan puas melihat Sauna dihukum.
"Eh Mas lihat tuh kayaknya ada yang mencurigakan di mobil Vierdo.
Sontak Juno dan Syahdu menggeser kaca mobil yang berada di samping mereka masing-masing dan mengintip ke arah mobil Vierdo yang melaju dengan kecepatan sedang di depan mobil mereka.
__ADS_1
"Benar Lit sepertinya kaca mobil Vierdo bergetar. Apa mereka berkelahi ya di dalam sana atau mungkin salah satu diantara kedua penjahat itu malah berusaha untuk melarikan diri melalui kaca mobil tersebut.
Baru saja Syahdu berkata seperti itu, tiba-tiba ada seorang wanita yang melompat dari dalam mobil Vierdo.
"Itu Sauna sedang berusaha melarikan diri!" teriak Thalita.
Bug.
Ciit!
Juno tidak mengindahkan perkataan Thalita dan fokus mengerem mobilnya secara mendadak, sebab tubuh Sauna yang melompat tadi sudah berada di bawah mobil Juno.
"Jun kau menabraknya!" teriak Syahdu.
Juno langsung turun dan memeriksa bagian bawah mobilnya. Ternyata benar apa yang dikatakan Thalita tadi bahwa orang yang telah ditabraknya itu adalah Sauna yang melompat dari mobil Vierdo.
Mobil Vierdo pun terlihat berhenti juga saat menyadari satu penjahat yang telah mereka tangkap melarikan diri.
"Hei kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Juno pada Sauna. Sauna tidak menjawab, melainkan masih berusaha untuk melarikan diri ketika melihat Fikran dan rekannya turun dari mobil Vierdo dan mencari dirinya.
"Hai berhenti, jangan melarikan diri!" teriak Juno. Namun, Sauna sama sekali tidak mengindahkan teriakan Juno. Dia terus berusaha berlari meski kakinya sekarang terlihat pincang karena sudah tertabrak oleh mobil Juno.
"Jangan berlari!"
__ADS_1
"Dor, dor, dor!"
Suara teriakan Fikran beradu dengan bunyi pistol yang mereka tembakan ke udara.
Sauna sama sekali tidak peduli dengan tembakan dan teriakan itu. Yang dia pikirkan sekarang dirinya harus terus berlari saat ini juga, bagaimanapun caranya dan bagaimanapun kondisi tubuhnya.
Dor dor dor.
Akhirnya suara tembakan berbunyi lagi dan salah satu tembakan yang dilemparkan oleh Juno mengenai sasaran. Pelurunya mengenai betis Sauna sehingga yang tadi pincang malah tidak bisa berjalan lagi.
Melihat Sauna sudah dapat dilumpuhkan Fikran dan rekannya langsung berlari dan memborgol kembali tangan Sauna dengan dua lapis borgol untuk mencegah dia bisa melarikan diri kembali sehingga walaupun wanita itu tetap berhasil melarikan diri maka orang-orang akan tahu bahwa wanita tersebut adalah buronan.
Thalita turun dari mobil dan berjalan menghampiri Fikran dan temannya itu. Juno menyusulnya di belakang, juga Vierdo turun dari mobil dan berjalan ke arah teman-temannya yang sedang berkumpul. Hanya satu yang memilih tetap berada dalam mobil yaitu Syahdu yang bersama baby Athar dalam pangkuannya.
"Wah, wah, wah. Hebat sekali dirimu Sauna. Cewek-cewek, nekad jadi pengedar narkoba. Apa kau sudah dipecat dari kafe itu dan tidak ada yang mau menerima kamu bekerja sehingga pekerjaan apapun kau ambil demi memenuhi kebutuhan hidupmu." Thalita berkata sambil bertepuk tangan.
"Kurang ajar kamu ya Lit, pasti kamu yang melaporkan diriku pada polisi itu dasar wanita tidak tahu diuntung. Beraninya saja kau memfitnah orang lain dengan mengatakan diriku adalah seorang pengedar narkoba. Mana buktinya?" tantang Sauna.
"Kalau kamu mau bertanya tentang bukti jangan tanya padaku, tapi tanyakan saja pada Pak polisi. Bukankah polisi tidak akan menangkap orang sembarangan? Tidak ada asap kalau tidak ada api, bukan?" Thalita menjeda ucapannya sebentar untuk menarik nafas panjang.
"Seharusnya kau sadar diri. Hari ini Tuhan telah menunjukkan keadilannya. Dulu kau telah menghancurkan hidupku dan sekarang hidupmu akan hancur juga karena kau akan menjalani sisa hidupmu di penjara. Selamat ya," ujar Thalita dengan senyuman mengejek.
Bersambung.
__ADS_1