
Setelah sehari dirawat di rumah sakit akhirnya Itnas diperbolehkan pulang. Mama Refi meminta Itnas untuk pulang ke rumah mereka. Namun, Itnas memaksa akan pulang ke rumahnya sendiri. Itnas hanya meminta bibi Santi, asisten rumah tangga di rumah mamanya dikirimkan ke rumahnya. Setelah perdebatan panjang dengan sang mama akhirnya Itnas diizinkan pulang ke rumahnya sendiri tapi mama Refi untuk sementara akan tinggal bersamanya.
Sesampainya di rumah mama Refi menyuruh Itnas untuk beristirahat ke kamar. "Istirahatlah dulu biar kesehatanmu cepat pulih!"
"Itnas Bosen Ma tiduran terus. Itnas mau ketemu sama Beti dan Betran dulu."
Itnas melangkahkan kakinya ke taman belakang untuk menemui sepasang kelinci yang selalu menjadi temannya dikala ia kesepian.
"Kalian hebat ya sejak dulu kalian selalu bersama tidak mau berpisah sedikit pun. Kalian benar-benar dua sejoli yang tak terpisahkan." Katanya kepada Beti dan Betran sambil mengelus-elus bulu mereka yang halus.
Itnas kemudian menggendong dan memangku Beti di dadanya sambil mengamati tubuh kelinci tersebut.
"Kamu cantik dan lucu pantas Betran menyayangimu. Kalau aku cantik dan menggemaskan sepertimu apakah mas Yudha akan menyayangiku?" tanyanya pada si Beti. Namun, yang ditanya hanya diam membisu. Tak terasa bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipi Itnas.
Beralih ke Betran, "Kamu benar-benar lelaki yang setia ya!" Padahal bulan lalu Itnas menemukan kelinci betina yang berkeliaran di jalan dan dia memungutnya. Itnas membawanya pulang dan merawatnya. Dia meletakkan kelinci betina itu bersama Beti dan Betran di taman belakang tetapi, sepertinya Betran enggan di dekati kelinci betina tersebut. Terbukti ketika kelinci betina tersebut mendekat, si Betran selalu menghindar.
Mama Refi muncul dari balik pintu belakang "Sayang ada tamu."
"Siapa Ma?"
"Mama tidak tahu sayang."
"Yasudah suruh masuk saja Ma! Itnas mau cuci tangan dulu."
"Iya." Mama Refi berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Setelah mencuci tangan Itnas menghampiri tamunya yang ternyata sudah duduk di sofa ruang tamu sambil mengobrol bersama mamanya.
"Eh ummi Ana. Apa kabar Ummi?"
"Baik. Kamu sendiri apa kabar? Sudah sehat? Kata mamamu tadi kamu dirawat di rumah sakit. Pantesan semalam kata Rendi lampu di rumah ini padam ternyata kamu tidak pulang toh."
"Iya Ummi saya sempat demam tinggi tapi sekarang sudah sembuh kok."
"Saya tidak ditanya?" Tiba-tiba Rendi nyeletuk karena Itnas hanya menyapa umminya saja.
"Iya kamu apa kabar Ren?" Masak kamu iri sama umminya sendiri sih! Kalau saya menyapa ummi anggap saja saya juga menyapa kamu."
Rendi mencebik. Etdah lah mbak Anas!"
"Itnas bukan Anas."
"Sama aja."
__ADS_1
"Terserahlah Rindu."
"Rendi bukan Rindu."
"Suka-suka gue."
Mereka berdua pun sama-sama tertawa. Ummi Ana hanya menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya. Sedangkan Mama Refi menarik kesimpulan bahwa mereka sudah saling akrab.
Mama Refi berbisik. "Nas mereka siapa? Kenapa kalian terlihat akrab?"
"Oh mama belum kenal. Saya pikir sudah kenalan tadi karena sudah ngobrol."
"Ummi, Rendi, perkenalkan dia ini Mama saya namanya Mama Refi." Katanya sambil menunjuk sang mama.
"Mama dia ummi Ana dan ini anaknya, Rendi," lanjutnya sambil menunjuk keduanya secara bergiliran dan mereka bertiga saling berjabat tangan.
"Mama, mereka itu pemilik panti asuhan Kasih Bunda yang ada diseberang jalan di depan rumah ini."
"Oh." Mama Refi hanya ber oh ria. "Kalian sepertinya akrab ya?"
"Ya begitulah Jeng. Awalnya Itnas mengunjungi panti kami dan memberikan donasi untuk panti asuhan Kasih Bunda. Karena ternyata tempat tinggal kami berdekatan akhirnya kami saling berkunjung dan menjadi akrab."
"Oh begitu, tapi benar Itnas memberikan donasi untuk panti asuhan milik Ummi?" tanya Mama Refi tidak percaya.
"Ah Ummi terlalu berlebihan. Saya kan cuma nyumbang sedikit. Saya suka mengasuh mereka karena saya memang suka anak kecil. Apalagi mereka lucu-lucu, tapi sayangnya saya jarang ada waktu untuk mereka karena saya juga harus bekerja. Maaf ya Ummi!"
"Tidak apa-apa. Nak Itnas tidak perlu meminta maaf. Nak Itnas kan punya kehidupan sendiri. Dan untuk donasi ummi benar-benar berterima kasih pada Nak Itnas karena walaupun kata Nak Itnas itu sedikit, tetapi itu sangat berarti buat kami."
Mama Refi terkejut dan terharu ternyata Itnas punya rasa kemanusiaan yang tinggi dan dia juga bingung dapat darimana Itnas uang untuk menyumbang panti asuhan padahal semenjak Itnas bekerja dia tidak mau lagi menerima uang dari kedua orang tuanya. Dia benar-benar ingin belajar mandiri.
"Apakah gajinya cukup?" tanya Mama Refi dalam hati.
"Ma saya ke dapur dulu ya mau memanggil bibi masa ada tamu tidak disuguhi minuman."
"Ya ampun mama lupa tadi untuk kasih tahu sama bik Santi bahwa ada tamu. Dia pun pasti tidak sadar kalau ada tamu karena sedang sibuk menata belanjaan,
"Maaf ya Ummi!"
"Tidak apa-apa Jeng."
"Nak Itnas tidak usah repot-repot!"
"Tidak repot kok Ummi." Bicara sambil berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Itnas kembali membawa orange juice dan beberapa potong kue serta camilan yang sempat dibeli bik Santi tadi sebelum datang ke rumah ini.
Mereka pun asyik menyantap kue dan camilan sambil bersenda gurau.
Tiba-tiba
Tok tok tok.
Terdengar suara pintu di ketuk dari luar padahal pintu dalam keadaan setengah terbuka. Itnas hendak beranjak dari duduknya, tetapi ditahan oleh Mama Refi. "Biar mama saja."
Mama Refi melangkah menuju Pintu. "Anda siapa dan mencari siapa?"
"Saya Thalita saya mencari Itnas."
Dahi mama Refi mengkerut mengingat sesuatu sepertinya dia pernah dengar nama itu tapi siapa ya? Dia lupa.
"Silahkan masuk!"
Thalita masuk dan menghampiri Itnas. "Kamu ya yang namanya Itnas?"
Itnas mengangguk. "Kamu siapa?"
"Saya Thalita saya minta kamu menjauhi mas Yudha!" Tanpa basa-basi Thalita langsung menyampaikan keinginannya.
"Maksud kamu apa? mas Yudha kan ...."
"Pakai nanya lagi. Heh pelakor mas Yudha itu suami saya, jadi saya minta kamu menjauhi dia!" Thalita langsung menyerang Itnas dengan kata-kata tajam.
"Kamu tahu mas Yudha sekarang jarang pulang ke rumah pasti karena kamu yang menggodanya kan?!"
"Astaghfirullah hal adzhim." Itnas meraup wajahnya. Cobaan apalagi ini kenapa dia harus menghadapi gadis bodoh seperti dia? Apakah dia tidak tahu bahwa orang yang telah menikahinya sudah beristri? Itnas tertegun tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah dia marah karena telah disebut pelakor ataukah dia harus tertawa karena kebodohan Thalita.
"Hei maling kok teriak maling. Dirimu yang pelakor malah menuduh orang lain," jawab Mama Refi karena Itnas tak bersuara juga.
"Maksud Tante apa?"
"Masih belum mengerti. Kamu yang telah merebut Yudha dari Itnas karena sebelum kamu menikah dengan Yudha Itnas telah lebih dulu menikah dengannya."
"Itu tidak mungkin Tante pasti berbohong. Tante ingin membela anak Tante itu kan? Sudahlah Tante kalau pelakor, pelakor saja tidak usah mengelak."
Mendengar perkataan Thalita Mama Refi menjadi geram. "Nas ambil surat nikahmu biar tahu ini orang siapa yang sebenarnya pelakor. Kamu atau dia!"
Bersambung....
__ADS_1