Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 40. Panjer


__ADS_3

"Terima kasih," ucapnya lagi lalu berjalan mendekat ke arah Itnas dan memeluk mantan kekasihnya itu. Salah bukan mantan, tetapi calon istri.


Itnas melepaskan pelukan Vierdo. "Lepas Kak malu dilihat orang." Semburat merah semakin menyala di wajah Itnas. Dia benar-benar merasa malu sekarang.


"Mana ada orang?" goda Vierdo.


"Tuh!" tunjuk Itnas pada Yudha.


Vierdo menoleh, Yudha tampak terbatuk-batuk. Batuk yang dipaksakan.


"Ehem, dikira aku ini kucing apa?" Yudha berdeham, Virgo tersenyum geli, "Sorry aku lupa ada kamu di sini."


"Tidak apa-apa lanjutkan!" kelakar Yudha lalu terkekeh.


"Maukah kau menikah denganku?" tanya Vierdo sambil mengeluarkan cincin dari dalam saku jas kerjanya.


Itnas tampak terbelalak dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan Vierdo sekarang. Bukankah sebelumnya Vierdo belum tahu bahwa Itnas dan Yudha belum bercerai. Vierdo kan baru tahu sekarang mengapa sudah ada cincin di tangannya. Kapan vierdo menyiapkan itu?


Sementara Itnas tampak terbengong dengan pikirannya, Vierdo yang melihat Itnas tidak menjawab begitu yakin bahwa Itnas tidak suka dengan cara Vierdo mengajaknya nikah.


Vierdo yang sedari tadi berdiri akhirnya duduk berjongkok sambil berjinjit.


Mengulang tanya apakah kamu mau menikah denganku dengan meraih tangan Itnas.


"Kau serius Kak dengan apa yang kau ucapkan?" tanya Itnas kemudian. Tiba-tiba saja dia teringat akan wanita yang dia lihat bersama Vierdo di Bali tempo itu.


"Aku serius Nas, apa aku terlihat seperti ragu atau bermain-main?" tanya balik Vierdo pada Itnas.


"Maaf, tapi cincin ini sebenarnya kau siapkan untuk siapa?" Itnas seakan ragu. Jangan-jangan cincin ini untuk wanita yang ternyata belakangan Itnas ketahui wanita tersebut adalah asisten Leon yaitu Leona.


"Ya buat kamu lah memang buat siapa lagi? Aku menyiapkan ini sudah dari dulu. Aku membelinya di Inggris agar saat pulang langsung bisa melamarmu dengan cincin ini." Vierdo menjeda ucapannya.


"Kau tahu saat kecelakaan cincin ini sempat hilang karena keluar dari dompetku. Aku selalu mengantonginya, berharap akan melupakan rinduku setiap kali aku merindukanmu dimana saat itu aku sudah kehilangan kontakmu. Aku sangat yakin kalau cincin ini masih terus berada padaku maka kau memang jodohku. Ternyata benar orang yang menolongku dulu memberikan cincin ini pada mommy saat dia menemukan cincin ini tergeletak di pinggir jalan raya."


"Kak Vier," ucap Itnas dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa kau masih meragukanku? Kau tahu aku juga selalu memandangi cincin ini saat tahu kau sudah menikah dengan orang lain. Ketika aku bertemu denganmu aku memang sangat kesal, tapi jauh di dalam sini sebenarnya aku masih sangat merindukanmu." Vierdo menyentuh dadanya sendiri.

__ADS_1


Itnas semakin terharu mendengarkan penjelasan Vierdo. Matanya yang berembun tadi mulai meneteskan air mata. Air mata bahagia karena dibalik apa yang terjadi kepada keduanya ternyata Tuhan masih tetap menjaga kemurnian cinta mereka.


"Tapi Kak, wanita itu?" Dalam keadaan seperti itu masih saja mengingat akan Leona. Perempuan yang ia lihat tertawa lepas di Bali bersama Vierdo.


Pria itu mengernyitkan dahi. "Wanita? Wanita siapa maksudmu?" tanya Vierdo sama sekali tidak tahu-menahu tentang wanita mana yang Itnas maksud.


"Leona, asisten Pak Leon," jawab Itnas to the poin. "Sepertinya Kak Vier ada hubungan khusus dengannya." Setelah mengatakan itu Itnas menunduk dengan raut wajah yang sedih. Dia sering lupa untuk menanyakan akan hal itu pada Leona saat dirinya berada di kantor.


Yudha menatap Vierdo dengan perasaan bimbang. "Jangan melakukan hal sama denganku, menduakan Itnas dengan wanita lain. Cukuplah aku yang mengkhianatinya jangan ada lagi pria yang melakukan itu padanya. Kasihan dia Vierdo."


Mendengar perkataan Itnas dan Yudha, Vierdo malah tertawa terbahak-bahak.


"Ish, kenapa malah tertawa sih? Kalau Kak Vier ada hubungan khusus dengan dia, Itnas mundur. Itnas tidak mau menikah dengan Kak Vier. Itnas tidak mau merebut kekasih orang lain."


Vierdo malah semakin kencang tertawa membuat Yudha dan Itnas semakin kesal.


"Lebih baik kamu pergi saja kalau hanya untuk menyakiti dia. Biarkan dia mencari jodoh yang lain untuknya," kesal Yudha.


"Tidurlah Bro kau masih sakit, jangan terlalu banyak pikiran," ucap Vierdo membuat Yudha semakin geram saja. Yudha tidak suka Vierdo memanggilnya dengan sebutan Bro, bagi Yudha kata-kata itu seakan mengejek dirinya. Aneh memang Yudha, bukannya banyak anak muda yang sering memanggil temannya dengan sebutan itu.


"Ah, kupikir. Sorry," ucap Yudha merasa bersalah telah menuduh Vierdo macam-macam.


"Tapi Kak Vier pernah kulihat berlibur dengannya di Bali." Itnas tampak cemberut.


Untuk sementara Vierdo nampak berpikir, kapan dia berlibur seperti yang dikatakan Itnas itu.


"Oh waktu itu ya?" Vierdo kemudian mengingat bahwa dirinya memang pernah mengantarkan Leona pulang ke Bali.


"Waktu itu aku hanya mengantar dia pulang ke Bali karena pada saat itu dia sedih dan kecewa pada Leon."


"Kecewa sama Pak Leon?"


"Iya, Leona itu menyukai Leon, tapi Leon-nya justru cuek malah perkataanya sering membuat dia bersedih. Kebetulan waktu itu dia berpikir akan menerima saja perjodohan yang diinginkan kedua orangtuanya dengan orang luar. Leona pikir dengan cara itu dia bisa melupakan rasa cintanya pada Leon. Namun, ternyata pada saat itu dia diminta pulang oleh kedua orang tuanya untuk menghadiri acara pernikahan adiknya justru dengan orang yang ingin dijodohkan tersebut."


"Wah pasti sedih ya Leona?"


"Jangan ditanya, makanya pas dia mau pulang Keysa memintaku untuk mengantarkannya. Saat kau melihatku mungkin saat itu aku sedang berusaha untuk menghiburnya agar bisa tersenyum lagi."

__ADS_1


"Oke Kak, aku ngerti," ucap Itnas kemudian.


"Gimana nasib nih cincin, kok dianggurin dari tadi?" Vierdo menatap memelas pada cincin di tangannya seolah merasa kasihan. Padahal dirinya yang seharusnya dikasihani karena sejak tadi digantung oleh Itnas.


Itnas tampak tersenyum dan menutup mulut melihat ekspresi Vierdo.


"Gimana terima nggak cincin ini? Mau nggak menikah denganku?" tanyanya lagi untuk memastikan apakah Itnas menerima lamarannya ini.


"Nggak ada romantis- romantisnya ya ngelamar aku," gurau Itnas.


"Kurang romantis?" Vierdo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bingung harus bagaimana.


"Kurang lah, nggak ada bunga juga," goda Itnas lagi.


"Emang harus pakai ya? Ya sudah kalau begitu aku keluar beli bunga dulu," ucap Vierdo seperti orang bodoh lalu berbalik hendak keluar dari ruang rawat Yudha.


"Eh, eh tunggu Kak!" Itnas meraih tangan Vierdo agar tidak pergi.


"Ada apa?"


"Aku cuma bercanda kok, nggak usah pakai bunga segala. Aku mau kok menikah dengan Kak Vier," ucap Itnas malu-malu dengan wajah yang bersemu merah kembali.


Vierdo meraih tangan Itnas yang memegangnya lalu menyematkan cincin itu di jari manis Itnas.


"Terima kasih ya sudah menerimaku kembali." Vierdo kembali meraih tubuh Itnas dalam pelukannya.


"Harusnya aku yang mengatakan itu pada Kak Vier."


"Ehem-ehem, cukuplah sudah aku menjadi obat nyamuk," protes Yudha.


"Nggak apa-apa kan sudah cukup umur lagipula dari pada menjadi nyamuk mendingan menjadi obat nyamuk saja biar berguna untuk manusia," kelakar Vierdo lalu terkekeh.


"Kalian terlalu terburu-buru ya. Sudah main menyematkan cincin segala. Ingat masih ada masa iddah, kalian tidak bisa menikah secepatnya."


"Tidak apa-apa, cincin ini hanya untuk panjer saja agar Itnas tidak menerima lamaran orang lain," ujar Vierdo membuat Yudha hanya menggeleng melihat pria itu yang gerak cepat.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2