
Sampai suatu malam Thalita dengan rambut basahnya sehabis keramas menunggu kepulangan Juno. Tidak biasanya Juno pulang selarut ini. Biasanya selama tinggal bersama Thalita paling malam Juno pulang jam 7 malam dan sekarang sudah jam 8.
Tok- tok- tok.
Terdengar suara pintu apartemen diketuk.
Thalita melangkahkan kakinya untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka ternyata Juno yang berdiri di depan pintu.
"Ih kebiasaan sih Mas udah tahu kode pintu apartemennya masih pake ngetuk pintu segala," protes Thalita padahal dia tidak pernah mengubah kode pintu apartemen.
"Iyalah kan aku ngehargai pemilik apartemen."
"Cih siapa juga pemiliknya? Lagian aku nggak minta dihargain, emang barang gitu dihargai?"
"Emang aku ngomong ngehargai pakai uang? Aku tuh ngehargai kamu pakai perasaan," jawabnya sambil terkekeh.
"Bukan pakai ketukan pintu," ledek Thalita
"Ah, itu kan untuk kesopanan aja."
"Memang apartemen ini milik aku tapi hati pemilik apartemen ini adalah milikmu," lanjutnya.
"Gombal. Yasudah ayo masuk!"
Juno kemudian berlalu ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian dia keluar dengan mantel mandinya dan menghampiri Thalita yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Kamu keramas ya? Kok nggak dikeringkan? Bukannya di luar sedang hujan dan biasanya kamu alergi dengan udara dingin?"
"Oh itu tadi aku sudah mencari hair dryer tapi tidak ketemu."
Juno lalu berjalan ke arah nakas dan membuka lacinya. Dia mengeluarkan hair dryer dari dalam sana.
"Sini aku bantu keringkan!"
"Tidak usah aku bisa sendiri."
"Sudah ayo sini!"
Akhirnya Thalita membiarkan Juno membantu mengeringkan rambutnya. Juno mengeringkan rambut Thalita sambil menciumi rambut tersebut.
"Harum, pakai shampo apa?"
"Orang aku pakai shampo kamu."
"Oh ya?"
Seperti biasa Thalita hanya mengangguk. Juno dengan hati-hati mengeringkan rambut Thalita kemudian mencepolnya ke atas.
"Gini kamu kelihatan lebih cantik," pujinya sambil menciumi leher jenjang Thalita.
"Mas hentikan, geli tahu!"
Namun Juno tidak mendengarkan kata-kata Thalita malah tangannya merayap entah kemana.
"Mas, stop!" Sambil menjauhkan tangan Juno dari tubuhnya.
"Boleh ya?" pinta Juno dengan suara parau dan tatapannya sudah terlihat sayu.
"Boleh apa?" tanya Thalita tidak paham.
"I- itu?"
"Itu apa?!" Kesal Thalita.
"Ih nggak peka. Main bola," protes Juno membuat Thalita semakin bingung.
Juno lalu menarik Thalita ke dalam pelukannya. Kemudian melakukan hal-hal yang memancing gairah Thalita. Hingga akhirnya Thalita pasrah dengan apa yang dilakukan Juno terhadapnya. Terjadilah pergumulan panas yang memancing keringat antara kedua anak manusia yang sedang dilanda asmara hingga dinding kamar apartemen itu menjadi saksi bisu kelakuan dosa dan ******* yang keluar dari mulut keduanya.
Selesai melakukan ritualnya Juno mengecup kening Thalita dan memeluknya.
__ADS_1
"Keringat kamu harum kemangi," ucap Juno sambil menciumi leher Thalita yang masih bermandikan keringat.
Thalita hanya tertawa melihat candaan Juno. Sejak tahu dia suka melalap kemangi Juno memang sering menggodanya. Namun bersamaan dengan itu air mata mengalir di kedua pipinya.
"Kamu kenapa?" Tanya Juno karena melihat pipi Thalita yang basah. Dia memandang lekat-lekat wajah kekasihnya itu.
"Hei kamu menangis?" Namun pertanyaan Juno malah membuat tangis Thalita semakin terisak.
"Maafkan aku. Kamu menyesal kan?" Sambil mengusap air mata di pipi Thalita.
Thalita hanya menggeleng. Bohong kalau dia tidak menyesal karena diapun tahu dan sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah kesalahan besar. Namun, ada yang lebih dia takutkan. Dia takut kejadian yang lalu menimpa dirinya lagi. Dia takut Juno akan meninggalkan Thalita setelah apa yang mereka lakukan seperti Yudha meninggalkannya dulu.
"Lalu kenapa?"
"Aku hanya takut ...."
"takut apa?" potong Juno.
"Takut kamu meninggalkan aku seperti Yudha dulu."
Mendengar nama Yudha disebut Juno mengepalkan kedua tangannya. Api kemarahan berkobar di wajahnya.
"Mas Juno kenapa?" tanya Thalita saat menyadari wajah Juno yang memerah.
"Apa Yudha yang sudah mengambil pw kamu?"
Thalita mengangguk sambil menunduk. Dia takut melihat kemarahan di wajah Juno.
"Sialan! Dia memang suka menghancurkan hidup orang." Padahal dia belum tahu Yudha yang ada dalam pikirannya apakah sama dengan Yudha yang disebut Thalita.
"Ma ... maksud Mas Juno?" tanya Thalita gugup dia masih menunduk tidak berani memandang wajah Juno. Bahkan seluruh tubuhnya bergetar.
Juno yang melihat Thalita ketakutan akhirnya tersadar. Ia lalu memeluk Thalita untuk menyalurkan ketenangan.
"Maafkan aku yang telah membuatmu takut, tapi kamu tidak perlu takut karena aku tidak akan pernah meninggalkanmu seperti pria brengsek itu."
Melihat Juno begitu benci pada Yudha ingin rasanya Thalita bertanya apa yang telah terjadi diantara keduanya, tetapi kata tanya yang ia rangkai hanya tercekat dalam angan-angan karena selebihnya dia tidak punya keberanian.
4 bulan berlalu.
"Huek- huek." Thalita muntah-muntah di pagi hari. Juno menghampiri Thalita di kamar mandi dan memijit lehernya.
"Kita ke rumah sakit ya!" ajak Juno
"Nggak usah lah palingan aku masuk angin. Abis minum obat nanti pasti sembuh sendiri."
"Tapi kamu nggak apa-apa aku tinggal kerja?"
"Nggak apa-apa kamu kerja aja."
Setelah Juno pergi Thalita tampak berpikir.
Apa benar aku cuma masuk angin? Tapi mengapa tubuhku agak gemukan dan nafsu makanku bertambah? Apa jangan-jangan aku hamil?
Thalita menggeleng-gelengkan kepala untuk menyingkirkan pikirannya sendiri. Namun, semakin dia berusaha melupakan semakin dia gelisah. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke apotik dan membeli tespect kemudian menyimpannya di laci untuk digunakan besok pagi, karena penggunaan tespect lebih efektif digunakan di pagi hari yaitu menggunakan kencing pertama saat bangun tidur. Bahkan tidak tanggung-tanggung Thalita sampai membeli tespect tiga buah.
Semalaman Thalita gelisah dia tidak sabar menunggu pagi untuk melakukan tes. Bahkan malam itu dia sampai tidak bisa tidur.
"Kamu kenapa sih?" tanya Juno yang melihat Thalita uring-uringan di kasur.
"Tidak apa-apa." Thalita berbohong. Dia mencoba memejamkan mata. Sampai hampir pagi barulah dia tertidur.
Dia terbangun ketika Juno mengecup keningnya. Thalita lalu berlari ke dalam kamar mandi sambil membawa plastik dan sebuah gelas. Juno yang melihat tingkah Thalita keheranan. Namun, meskipun begitu dia tetap membiarkan Thalita melakukan apa yang dia inginkan.
Thalita lalu menaruh air seninya ke dalam gelas setelah itu mencelupkan tespeck tersebut ke dalam gelas tersebut. Untuk sesaat Thalita terdiam menunggu hasil tesnya.
Thalita menganga saking kagetnya karena di tespect tersebut malah muncul garis dua yang menandakan dirinya benar-benar hamil. Namun, garis yang satunya seolah pudar.
"Ini tidak benar." Thalita mengambil tespect yang kedua, tetapi hasilnya malah muncul garis dua yang bahkan kelihatannya lebih jelas.
__ADS_1
"Tidak mungkin." Dia lalu mengambil tespect ketiga berharap hasil kali ini mematahkan hasil keduanya. Namun, tes ketiga malah semakin memperkuat hasil sebelumnya.
Thalita keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat. Dengan lesu dia menjatuhkan bokongnya di tepi ranjang.
Melihat gelagat aneh Thalita semenjak kemarin yang muntah-muntah dan semalam yang gelisah ditambah hari ini yang sepertinya lesu dan tidak bergairah Juno tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Kamu kenapa sih sebenarnya kok aneh gitu?"
Thalita menggelengkan kepala. Namun beberapa saat kemudian.
"Aku hamil Mas."
"Apa! Kamu hamil?" Juno tidak kalah terkejut.
Thalita mengangguk.
"Tidak mungkin. Kamu pasti bohong, kan?"
Thalita menggeleng, "Aku bahkan sudah mengetesnya tiga kali."
"Tidak mungkin, bukankah aku selalu menggunakan pengaman? Kamu tidak selingkuh, kan?"
Mendengar pertanyaan seperti itu dari Juno mendadak hati Thalita menjadi sakit. Sehina itukah dirinya di mata Juno sampai ia kira dia mudah melakukan hubungan dengan para pria.
"Aku bersumpah Mas semenjak aku sama kamu aku nggak pernah menjalin hubungan dengan pria lain."
"Yasudah aku berangkat kerja dulu."
Thalita tidak bisa menahan tangisnya. Selepas Juno pergi dia benar-benar menangis tersedu-sedu. Dia merenungi nasibnya sendiri. Pantas saja kalo Juno menganggapnya murahan karena selama ini dia tidak pernah menolak ketika diajak berhubungan badan.
"Ya Tuhan maafkanlah atas segala dosa-dosaku. Aku benar-benar menyesal sekarang. Mungkin ini adalah balasanMu untuk segala kesalahan yang selama ini aku lakukan."
Thalita kembali terisak. Kali ini dia menangisi dosa-dosanya. Kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu untuk shalat. Sudah lama dia meninggalkan shalat tapi kali ini dia bertekad untuk mengerjakan shalat dan kembali ke jalan yang diridhai Tuhan.
Satu Minggu berlalu sejak kehamilan Thalita diketahui. Juno tidak lagi pulang ke apartemen karena pagi itu dia langsung melakukan penerbangan ke luar negeri. Ada masalah serius di perusahaannya yang harus segera ia tangani. Sayangnya dia lupa memberi tahu Thalita bahkan sampai sekarang dia belum sadar bahwa dirinya belum memberi kabar pada Thalita. Semua itu terjadi karena dia benar-benar fokus sama masalah perusahaannya yang memang benar-benar menguras emosi dan tenaganya.
Selama seminggu ini Thalita berusaha menghubungi Juno, tetapi nomornya selalu tidak aktif. Pikiran Thalita dikuasai prasangka buruk dia menganggap Juno menghindarinya setelah tahu dia hamil.
"Tapi memang benar apa yang dikatakan Mas Juno tidak mungkin aku hamil anaknya karena selama berhubungan denganku dia tidak pernah lupa menggunakan pengaman. Tapi kalo ini bukan anak Juno berarti ini anak Yudha,
ya ampun kenapa aku tidak sadar dari dulu bahwa aku hamil. Kalo benar anak ini anak Yudha berarti umur janinnya sudah hampir lima bulan. Kenapa sampai sebesar ini aku tidak sadar bahwa aku hamil apakah karena aku tidak mengalami morning sicknes, padahal bentuk tubuhku sudah berubah," gumamnya pada diri sendiri.
Dia kemudian mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Juno kembali. Namun, tetap saja panggung teleponnya tidak ada yang mengangkat. Dia kemudian memutuskan untuk mengirim pesan.
Pesan Thalita pada Juno:
Mas benar apa yang kamu katakan bahwa anak ini bukan anakmu kalau begitu berarti anak ini adalah anak Yudha karena hanya kalian berdua lah yang pernah berhubungan denganku. Aku bersumpah selama aku hidup denganmu aku tidak pernah mengkhianatimu. Jangankan melakukan pengkhianatan terlintas di otak pun tidak pernah. Aku tahu kita berdua saling mencintai tapi dengan kehadiran anak ini menandakan sepertinya kita tidak berjodoh. Aku tidak mungkin memaksa kamu menjadi ayah dari bayi yang bukan anakmu untuk itu aku memutuskan untuk pergi darimu dan aku akan mencari dan meminta pertanggung jawaban dari ayah bayi ini yang sebenarnya. Semoga kau menemukan kebahagiaanmu dengan wanita yang pantas menjadi pendampingmu.Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih pernah singgah di hidupku.
Salam manis,
Thalita.
Pesan terkirim namun masih centang abu pertanda pesan belum dibaca. Thalita menarik nafas dan menghembuskannya secara kasar. Telepon yang tidak pernah diangkat dan pesan yang tidak pernah dibalas baginya sudah cukup menandakan kalau Juno sudah tidak perduli lagi padanya.
"Besok aku harus mencari Yudha," batinnya.
Kalau jodoh tidak kemana begitu kata pepatah zaman dahulu dan inilah yang terjadi pada Thalita. Ketika dia berbelanja di mall tidak sengaja dia melihat Yudha di depan kasir sedang membayar belanjaannya.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan Thalita menghampiri Yudha dan mengajak berbicara. Thalita terkejut melihat respon Yudha yang malah tersenyum dan malah menyambut ajakan Thalita untuk menikahinya. Dia berpikir Yudha menyesal dengan apa yang dilakukannya dulu dan Yudha masih menyimpan perasaan padanya. Apalagi Yudha memutuskan lusa dia akan menikahi Thalita. Secepat itu berarti Yudha benar-benar ngebet ingin menikahinya begitu pikir Thalita.
Hari pernikahan pun tiba dengan lantang Yudha mengucapkan ijab kabul. Kemudian terdengar kata sah dari mulut para tamu undangan.
Sementara di tempat lain Juno yang membaca pesan Thalita buru-buru memesan tiket penerbangan. Dia ingin mencegah keinginan Thalita untuk meminta pertanggung jawaban Yudha. Sebenarnya dia sudah menelpon Thalita namun nomornya tidak aktif karena sebenarnya Yudha sudah mengganti nomor Thalita sebagai syarat kalau dia ingin Yudha bertanggung jawab atas kehamilannya.
Ketika menginjakkan kaki di bandara tanah air Juno langsung menuju tempat pernikahan yang sempat diberitahukan anak buahnya. Namun, terlambat ketika Juno sampai di tempat itu suara sah dari para tamu undangan sudah menggelegar. Tubuh Juno luruh seketika, bahkan ketika dia melihat Yudha mencium kening Thalita Juno menjadi pingsan.
Melihat orang-orang yang berkerumun Thalita bangkit dari duduknya dan melihat apa yang terjadi. Thalita ingin menghampiri Juno, tetapi Yudha menarik tangannya dan melarangnya untuk menghampiri Juno. Akhirnya sopir pribadi Juno mengangkat Juno ke mobil dan membawa pulang ke rumah orang tuanya.
Flashback off
__ADS_1
Bersambung....