
"Oh jadi itu alasannya yang membuat kamu nggak suka padaku." Fikran menyimpulkan sendiri dan Syahdu tidak membantah sebab itulah kenyataannya. Dia tidak menyukai gaya Fikran yang seperti preman saja.
"Besok aku akan potong rambut dan sekarang aku cabut anting-antingnya," ujar Fikran sambil melepas anting-anting yang melekat di telinganya.
Syahdu tidak berkata apapun, wanita itu sekarang menatap ke arah Leon, Leona, dan Thalita yang sedang bergurau dan sesekali tertawa ria. Rasanya Syahdu tidak sabar, ingin duduk bersama para sahabatnya itu.
"Nah gitu dong Mas, cinta itu butuh perjuangan," goda pelayan kafe.
"Ah kamu tahunya menggoda saja. Cepat hidangkan makanan yang enak-enak, kasihan nih Syahdu kalau sampai kelaparan hanya karena dirimu."
"Loh kok aku sih yang disalahkan, Mas nya sendiri yang kurang gerak cepat pesan makanan."
"Du makan apa?" tanya Fikran lagi tanpa mendengarkan protes pelayan sebelum pelayan itu pergi.
"Nasi sama chicken aja deh," ucap Syahdu membuat sudut bibir Fikran terangkat ke atas. Pria itu tersenyum manis melihat Syahdu tidak begitu cuek lagi padanya.
"Tuh dengar dia pesan nasi sama chicken," ucap Fikran pada pelayan.
"Iya dengar kok Mas. Itu aja nggak nambah yang lain lagi?"
"Pesana yang tadi 2. Itu yang wajib ya terus tambahin ikan-ikan yang enak lainnya, oke?"
"Oke Mas diborong sekalipun juga boleh siapa tahu nanti aku dapat bonus dari bos," ucap pelayan dengan terkekeh sambil berjalan menjauh dari keduanya menuju dapur kafe.
Syahdu menatap Fikran diam-diam. Wanita itu merasa ada yang berbeda dengan wajah Fikran hanya dengan mencabut anting-antingnya saja.
"Sepertinya dia tampan kalau tanpa anting-anting itu, gimana kalau rambutnya dicukur ya?" batin Syahdu membayangkan Fikran dengan rambut pendeknya. Wanita itu terlihat tersenyum sendiri.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Tatapan Syahdu ternyata tertangkap oleh mata Fikran.
"Emang nggak boleh?" Syahdu bersikap cuek lagi untuk menutupi rasa malunya yang telah tertangkap basa mencuri pandang pada lelaki itu.
"Boleh saja. Jangankan cuma sekali, berkali-kali juga boleh," sahut Fikran dengan senyuman termanisnya. Dia sama sekali tidak keberatan jika Syahdu menatapnya setiap saat. Dia malah senang, siapa tahu dengan begitu Syahdu bisa jatuh cinta padanya.
Syahdu memalingkan muka sebab wajahnya tiba-tiba memerah karena menahan malu.
__ADS_1
Saat berpaling, Syahdu tak sengaja melihat teman-temannya sudah makan membuat selera makannya bangkit seketika. Wanita itu tampak menelan ludah dan hal itu diketahui oleh Fikran.
"Sudah lapar ya?" tanya pria itu dan Syahdu tersenyum sambil mengangguk.
Tak menunggu lama, pelayan yang tadi datang bersama seorang temannya dan membawakan pesanan Syahdu dan juga pesanan Fikran. Mereka berdua langsung menata makanan itu di meja.
"Silahkan Mas makanannya sudah siap," ucap pelayan itu.
"Terima kasih Mas," ucap Fikran sambil merogoh dompet dari kantong celananya.
"Wah kayaknya kita bakal dapat tips nih," kata pelayan yang sejak tadi memang sering bercanda dengan Fikran.
Fikran membuka dompet dan meraih tiga lembar uang seratus ribuan dan memberikan kepada pelayan itu.
"Wah beneran nih Mas?" tanya pelayan itu, tidak percaya sebab Fikran benar-benar menyodorkan uang tersebut ke hadapannya.
"Iya serius memang aku terlihat bercanda gitu? Ambil dan berikan juga temanmu sebagian, jangan di sendiriin," ucap Fikran sambil terkekeh.
Syahdu yang melihat Fikran memberikan uang kepada pelayan itu terlihat menganga karena kaget. Bagaimana mungkin Fikran memberikan uang kepada pelayan. Apakah pelayan itu teman Fikran ataukah keluarga?" Syahdu bertanya-tanya dalam hati.
"Semoga sukses ya Mas apa yang dicita-citakannya," ucap Pelayan itu.
"Aamiin," ucap Fikran sambil tersenyum. Dalam hati berkata hanya dengan uang tiga lembar itu dirinya mendapatkan doa terbaik.
"Kenapa kamu memberikan dia uang? Bukankah sudah tugasnya dia melayani pengunjung?" tanya Syahdu heran.
"Betul sekali, tapi tidak ada salahnya kan kita membahagiakan orang lain? Dia juga tadi yang menemani saya di sini sebelum kamu dan Leon serta yang lainnya datang," terang Fikran membuat Syahdu langsung mengangguk.
"Memang kamu sudah lama menanti kami?" tanya Syahdu.
"Nggak lama sih, paling cuma 3 jam-an," sahut Fikran.
"Itu namanya lama Fik, eh." Syahdu segera menutup mulutnya.
"Kenapa Du?"
__ADS_1
Syahdu menggeleng dan berkata, "Nggak kenapa-kenapa kok."
"Kalau nggak kenapa-kenapa kenapa mulutnya ditutup, apa tiba-tiba dirimu sariawan?" goda Fikran.
"Enggak kok aku sehat-sehat saja, cuma takut salah nyebut nama namamu Fikran, kan?"
"Iya kalau begitu kita kenalan lagi yuk." Fikran mengulurkan tangannya ke depan Syahdu dan Syahdu menjabat tangan Fikran sambil tertawa melihat dirinya dan Fikran seperti anak kecil saja. Setelah lama mengobrol baru berkenalan.
"Fikran, senang berkenalan denganmu."
"Syahdu, senang juga berkenalan denganmu. Semoga ke depannya kita menjadi sahabat yang baik."
"Sahabat?" Fikran tidak suka Syahdu hanya menginginkan dirinya sebagai sahabat.
"Iya sahabat."
"Okelah."
"Tidak apa-apa awalnya jadi sahabat dan akhirnya jadi suami istri," batin Fikran.
Syahdu mengangguk dan duduk kembali begitupun dengan Fikran.
Dari ujung sana Leon, Leona, dan Thalita hanya mengernyit melihat sikap Syahdu dan Fikran.
"Mereka lagi berakting apa ya?" tanya Thalita.
"Mungkin," jawab Leon sambil mengangkat bahunya lalu terkekeh.
"Maklumin aja, mereka berdua sama-sama tidak pernah pacaran," ujar Leon sambil menggelengkan kepala.
"Oh." Thalita hanya ber oh ria sedangkan Leona hanya mengangguk. Bukan cuman Syahdu yang tidak pernah pacaran, dirinya pun juga tidak pernah pacaran sebelum bersama Leon.
"Yuk makan katanya lapar," ajak Fikran pada Syahdu. Syahdu pun mengangguk lalu menyantap makanannya dengan lahap.
Dari sudut tertentu seorang wanita tersenyum devil saat melihat keakraban Fikran dan Syahdu. "Sepertinya wanita itu bisa menjadi kelemahannya."
__ADS_1
Bersambung.