
"Apa?"
Mendengar suara Itnas yang agak meninggi semua orang di ruangan itu menoleh padanya.
"Maaf."
Itnas lalu keluar dari ruangan rawat pak Husein untuk melanjutkan perbincangannya dengan pak Ilham.
"Bapak benar kalo pelaku itu adalah mas Yudha?"
"Benar Bu saya tidak bohong tapi pak Yudha sebenarnya tidak korupsi dia sudah izin kepada saya untuk mengambil uang itu katanya dia disuruh Ibu."
"Berarti dia berbohong kalo begitu bisakah Bapak membantu saya?"
"Saya siap membantu Ibu."
"Oke kalo begitu saya minta Bapak memotong gaji mas Yudha sebanyak 25 persen tiap bulannya hingga lunas kita anggap saja uang yang dia ambil adalah hutang."
"Bagaimana kalau dia tidak terima Bu?"
Itnas tampak berpikir sejenak sebelum dia mengambil keputusan.
"Bapak bilang saja kalau pabrik kita dalam keadaan kolep dan setiap karyawan harus mau dipotong gajinya sebanyak 25 persen kalau mereka tidak mau di PHK. Untuk itu dibutuhkan kerjasama antara Bapak dan seluruh pihak karyawan. Bagaimana Bapak mengerti?"
"Mengerti Bu, tapi kenapa kita tidak terus terang saja sama pak Yudha dan langsung meminta beliau untuk mengganti uang tersebut?"
"Tidak bisa Pak. Mas Yudha melakukan itu dengan kebohongan jadi kita juga akan menempuh jalan yang dia tempuh. Lagipula Bapak tahu kan status dia masih berstatus suami saya jadi pasti dia akan beralasan macam-macam. Lagipula Papa masih dalam keadaan kritis kalau kita terus terang takutnya dia menyerang papa secara sembunyi-sembunyi."
"Oke Bu kalau itu sudah menjadi keputusan Ibu saya akan laksanakan."
"Terima kasih Pak atas kerjasamanya."
"Sama-sama Bu."
Panggilan pun berakhir Itnas berjalan menuju kamar rawat sang papa dengan pikiran yang masih gamang.
"Ada apa Nas?" tanya Mama Refi yang melihat wajah Itnas tampak lelah.
"Tidak apa-apa Ma, aku cuma capek aja."
"Kalau begitu kamu istirahat saja, biar mama yang jaga papa."
Bersamaan dengan itu pak Dafid dan Vierdo pamit pulang.
"Saya pamit dulu ya Bu semoga pak Husein cepat sembuh. Mari Nas!" ucap pak Dafid.
"Iya Pak terima kasih atas doanya."
"Saya pamit juga ya Bu, saya harus kembali ke kantor!"
"Nas!" sambil menganggukkan kepala melihat ke arah Itnas.
__ADS_1
Itnas pun mengangguk. "Iya Kak."
π π π π π
Semakin hari Itnas semakin curiga kepada Yudha. Apalagi ia sampai berbohong mengambil uang kantor dengan alasan di suruh Itnas. Dikemanakan uang itu? Bukankah Yudha tidak pernah menafkahi dirinya pun dengan Thalita? Terus kemana saja gajinya selama ini?
Itnas menelpon seseorang untuk membantu menyelidiki Yudha kebetulan dia punya teman seorang laki-laki bernama Fikran. Dia adalah seorang Intelejen.
"Hallo benarkah ini nomor Fikran?" tanya Itnas ketika merasa teleponnya sudah di angkat.
"Iya benar, ini dengan siapa?"
"Aku Itnas Fik."
"Itnas tumben nelpon ada apa? Apa kabar kamu?"
"Aku baik, kamu sendiri?"
"Alhamdulillah baik juga."
"Fik aku butuh bantuan kamu. Apa kamu mau bantu aku?"
"Cih, jadi kamu nelpon karena ingin bantuan aku? Memang benar-benar sahabat kampret ya kamu, kalau nggak ada perlunya nggak pernah nelpon."
"Sorry aku sibuk Fik."
"Cih sibuk ngapain?"
"Udah ah nggak usah sewot aku minta bantuan kamu nggak gratis nanti pasti aku bayar," lanjutnya.
"Bukan begitu, yasudah apa yang bisa aku bantu?"
"Aku minta kamu menyelidiki seseorang."
"Oke, bisakah kamu mengirimkan aku profil orang tersebut?"
"Sebentar." Itnas tampak mengotak-atik ponselnya tak
lama kemudian dia mengirimkan sesuatu yang diminta Fikran.
"Oke sip," ucap Fikran setelah mendapatkan foto orang yang akan diselidikinya.
π π π π π
Disinilah Fikran dan Itnas sekarang di sebuah club milik Regan. Awalnya Fikran menyelidiki Yudha seorang diri, tetapi kali ini dia minta Itnas untuk ikut dengannya. Bukan apa-apa selama ini pengintaiannya selalu gagal bahkan karena sering gagal melakukan misinya dia sempat ditegur oleh pihak kepolisian dan hal itu membuat Fikran kurang percaya diri untuk mengemban tugas yang diberikan Itnas. Siapa tahu dengan kehadiran Itnas bisa membawa keberuntungan.
Itnas dan Fikran melakukan penyamaran. Fikran memakai baju layaknya preman sedangkan Itnas disuruh memakai baju minim bahan seperti layaknya seorang ****** untuk mengelabuhi Yudha dan kawan-kawan.
Karena Itnas tidak terbiasa memakai pakaian seperti itu dia menutup bagian atas tubuhnya dengan jaket kulit berwarna hitam tak lupa dia memakai topi agar wajahnya tidak terlihat jelas.
"Ah kalau tahu begini lebih baik aku selidiki sendiri aja," protes Itnas kepada Fikran sebab dia harus ikut serta.
__ADS_1
"Iya aku kan butuh seorang wanita untuk menemani aku di tempat ini. Kalau aku sendiri aja takutnya mereka curiga," ujar Fikran
"Ya, kan kamu bisa ajak partner kerja kamu yang wanita."
"Udah tapi mereka nggak ada yang mau. Mereka kecewa karena aku selalu gagal melakukan misi."
"Ya ampun Fikran, kasihan banget si nasib lo."
"Nggak usah di kasihani nanti kalo aku gagal lagi nih di misi ini aku bakalan berhenti deh dari pekerjaaan aku karena berarti aku sudah tidak berbakat."
"Bukan tidak berbakat hanya kurang mujur aja sih!"
"Ya bisa dibilang begitu juga, tapi mungkin ini karma karena saya tidak mau menuruti keinginan papa untuk mengelola perusahaan."
"Ya udah kamu resign aja dari pekerjaan kamu tapi nanti ya setelah selesai bantu aku!"
"Ye ... maunya." Fikran mencibir.
"Sudah, sudah. Itu target sedang memasuki club." Fikran mengakhiri pembicaraannya dengan Itnas.
Mereka berdua melihat ke arah Yudha yang memasuki club dengan beberapa orang.
Dilihat dari gayanya Yudha sepertinya sedang menunggu seseorang. Namun, sekian lama menunggu orang yang ditunggu pun tak kunjung datang. Muka Yudha terlihat kesal.
Beberapa menit kemudian ponsel Yudha terdengar berbunyi. Setelah mengangkat teleponnya dia menyuruh anak buahnya membawa keluar sebuah koper.
Fikran beranjak dari duduknya, tetapi dicegah oleh Itnas.
"Mau kemana?"
"Mau menyelidiki barang apa yang ada di koper itu."
Itnas mengangguk. Fikran lalu menyusul anak buah Yudha keluar dari club. Namun, sayang dia sudah kehilangan jejak. Mereka benar-benar bergerak cepat.
Fikran kembali ke mejanya lagi menghampiri Itnas.
"Gimana?" tanya Itnas.
"Sudah hilang," jawab Fikran datar.
"Apanya yang hilang?" tanya Itnas dengan polosnya.
"Jejaknya Nas makanya kalau aku mau bertindak jangan dicegah." Fikran geram dengan Itnas.
"Iya sorry," ucap Itnas mengalah, dia tahu Fikran saat ini dalam mode sebal.
Itnas kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Yudha yang sedang minum ditemani banyak wanita. Terlihat Yudha menarik seorang wanita disampingnya dan membawanya ke hotel di seberang club.
"Brengsek jadi ini sebenarnya yang kamu lakukan di luaran sana!" geram Itnas sambil mengepalkan kedua tangannya.
Bersambung....
__ADS_1