
Syahdu dan Fikran kini sudah duduk di foof court yang terletak di seberang jalan perusahaan milik Vierdo. Mereka berdua kini sedang menyantap makanan yang sudah dipesannya tadi.
Dari dalam kantor teman-teman satu ruangan Syahdu tidak sengaja melihat mereka berdua dari balik kaca.
"Kan lihat tuh Syahdu dia bareng cowok lain!" Rekan-rekan kerja Kana dan Syahdu itu heboh menunjuk Syahdu dan Fikran yang sedang makan siang dan sesekali terlihat mengobrol di bawah sana.
"Iya benar, mungkin cowok yang berambut gondrong itu hanya ditugaskan menjemput Syahdu saja, atau mungkin pria yang bertemu di kantor tadi hanyalah bodyguard pria itu."
"Nah itu baru benar," timpal yang lain.
"Wah kayaknya kita-kita bakal dapat makan gratis deh," sambung yang lain.
"Yups betul. Seminggu lagi dapat traktirannya lumayan," ucap rekan kerja yang lain lagi.
"Kan jangan lupa siapkan uangnya ya, karena kita bakal makan makanan enak nih selama seminggu. Mumpung ada yang traktir."
"Ada apa sih kalian heboh saja dari tadi," protes Kana sambil melangkah menuju tempat teman-temannya berdiri saat ini.
"Tuh lihat Syahdu sama siapa? Makanya kalau orang ngomong di dengerin biar nyambung."
"Oke-oke, mau kalian apa?"
"Mau kami adalah kamu mengakui kekalahan dan menepati janjimu untuk mentraktir kami selama seminggu. Okey!"
"Ogah, aku belum kalah kenapa harus mengaku kalah?"
"Waduh, sudah jelas Syahdu sama pria lain bukan sama pria yang tadi menjemputnya ke sini masih belum mau ngaku kalah juga?"
"Belum, sebelum semuanya jelas," tegas Kana.
"Oke, bagaimana kalau untuk lebih jelasnya kita samperin mereka," tantang yang lain.
"Oke siapa takut," ujar Kana sama sekali tidak gentar. Walaupun dia yang harus kalah tidak masalah bagi Kana, hitung-hitung beramal.
"Oke ayo!"
Kelima rekan kerja Syahdu dan Kana itu mengikuti langkah Kana turun ke lantai bawah untuk menghampiri Syahdu dan Fikran yang sedang makan di sebuah foodcourt di seberang jalan perusahaan Vierdo.
"Itu teman-teman kamu?" tanya Fikran sambil menunjuk Kana dan kelima teman-temannya yang sempat Fikran lihat tadi di kantor Vierdo di ruangan yang sama dengan Syahdu. Namun, Fikran tidak dapat memastikan karena pandangannya tadi tidak begitu jelas.
Syahdu langsung menoleh dan kaget melihat teman-teman satu divisinya yang juga mendatangi food court itu.
"Hai kalian mau makan siang di sini? Tumben," ujar Kana.
"Nggak makan Du, cuma cari jajanan aja, lagi pengen ngemil ini teman-teman," bohong Kana.
__ADS_1
"Oh."
"Boleh gabung nggak?" tanya rekan yang lain.
"Boleh saja, iya kan, Fik?" tanya Syahdu meminta persetujuan Fikran.
"Boleh saja. Silahkan, silahkan duduk! Pesan makanan aja biar saya yang traktir," ujar Fikran membuat senyum mengembang di bibir para sahabat seperjuangan Syahdu dalam kantor besar itu.
"Wah asyik dapat makanan gratis, sayang kita sudah makan, tapi nggak apa-apa lah makan lagi mumpung dapat gratisan," bisik seorang teman di telinga Kana.
"Kamu tuh suka ya makan gratis. Meskipun udah kenyang nggak mau nolak. Doyan makan sih gegara dikasih nama Milna. Mari Milna." Kana terkekeh membuat Milna itu langsung memukul bahu Kana.
"Sana pesan mumpung ada gratisan!" Syahdu tahu rekan kerjanya itu tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan jika ada orang yang mentraktir mereka makan.
"Boleh dibungkus nggak Du?" Salah seorang bertanya mewakili yang lainnya.
"Sudah kuduga," batin Syahdu sambil menggelengkan kepala dan mulutnya terlihat menahan tawa.
"Hm," ucap Kana.
"Boleh-boleh saja." Fikran yang menjawab.
"Oke kalau begitu kami pesan jajanan dulu." Milna bangkit dari duduknya dan berjalan menuju stand-stand yang ada dan memilih jajanan yang dia inginkan. Yang lain pun mengikuti jejak Milna, mencari-cari yang cocok dengan selera mereka.
"Nggak Du terima kasih saya sudah kenyang. Saya ke sini cuma mengantar teman-teman resek kita itu."
"Nggak apa-apa pesan kue atau yang lainnya sebagai jemaat cemilan saat bekerja," saran Fikran.
"Nggak usah deh, lain kali saja traktirnya," tolak Kana secara halus.
"Oke tidak masalah," ujar Fikran dan Kana hanya mengangguk.
"Oh ya Du, boleh aku bertanya?"
"Tumben mau nanya aja masih minta izin?" Syahdu merasa aneh pada diri Kana.
"Nggak soalnya aku mau nanya tentang dia." Kana terlihat kaku. Sebenarnya Kana tidak enak takut disangka macem-macem karena berani bertanya tentang Fikran. Namun, dia harus memastikan pria ini Fikran atau bukan sebab sangat berbeda dengan pria yang tadi datang ke kantornya dan mengajak Syahdu pergi.
"Tanya apa? Silahkan saja," sahut Fikran dan Syahdu hanya terlihat mengangguk.
"Kamu pria yang sama dengan pria yang menjemput Syahdu ke kantor tadi?"
Fikran mengernyit sedangkan Syahdu tampak tertawa sebab tahu Kana merasa pangling melihat Fikran yang tadi dan yang sekarang.
"Iya ada apa ya?"
__ADS_1
"Nggak cuma aku kaget aja, kayak beda orang gitu."
"Oh itu mungkin karena rambutku yang sudah dicukur," tutur Fikran.
"Oh."
"Berarti aku aman," ucap Kana dalam hati. "Aku menang!" Tertawa dalam hati.
Kelima rekan Kana dan Syahdu yang masih memesan makanan kaget mendengar jawaban dari Fikran.
Mereka menatap Kana, dan Kana tersenyum senang.
"Kalian nggak pacaran, kan?" tanya mereka serempak membuat Syahdu merasa aneh dengan kelima rekan kerjanya itu.
"Nggak masih pedekate aja." Jawaban Fikran membuat kelima rekan Syahdu itu bernafas lega.
"Tapi kalau nanti Syahdu merasa cocok denganku kami tidak akan pacaran ...."
Kelima rekan kerja Syahdu dan Kana itu pun tersenyum menang ke arah Kana.
"Tapi kami akan langsung menikah karena saya tidak suka dengan yang namanya berpacaran." Sontak senyum yang mengembang tadi kuncup seketika.
"Lah kenapa malah tidak senang sih kalian mendengar kabar baik dari mereka berdua? Apa kalian tidak menginginkan Syahdu dan Fikran ini bersama?"
Kelima orang yang berada tidak jauh dari mereka duduk, bingung sendiri.
Dia ingin mendukung Syahdu dengan pria itu, tapi kalau itu terjadi dia harus mengaku kalah dengan Kana dan mentraktir gadis itu. Namun, kalau sampai mendoakan mereka tidak berjodoh, mereka juga tidak enak pada Syahdu dan Fikran. Selain mereka menganggap keduanya cocok dan Syahdu adalah teman yang baik, pria itu hari ini juga akan membayar makanan yang mereka pesan.
"Akh, siap bilang, Kan? Aku mendukung mereka kok."
"Benar?" tanya Kana menggoda rekan-rekannya itu.
"Benar kok," jawab mereka serempak.
"Terima kasih, kalau nanti kami benar-benar berjodoh saya berjanji akan membelikan kalian masing-masing satu stel pakaian yang kalian suka," ujar Fikran.
"Beneran?" Mereka benar-benar kompak sehingga saat menanggapi perkataan atau pertanyaan selalu serempak.
"Iya saya janji," ucap Fikran serius.
"Kami doakan deh kalian berjodoh. Biarlah kita kalah dan mentraktir Kana tiap hari secara bergiliran daripada harus kehilangan pakaian gratis."
Kana hanya menggeleng mendengarkan perkataan rekan kerjanya itu sedangkan Syahdu mengernyit memikirkan apa yang orang-orang ini bicarakan. Gadis ini sama sekali tidak mengerti.
Bersambung.
__ADS_1