Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 77. Hari Pernikahan


__ADS_3

Di sebuah gedung yang besar dan mewah sedang diadakan pesta pernikahan antara seorang pemimpin perusahaan dengan seorang karyawan biasa.


Iringan musik dari salah satu brand ternama tanah air menyambut kedatangan para tamu undangan.


"Wah akhirnya mereka menikah juga setelah sekian lama menjalin hubungan kembali," ucap Leon.


"Ya begitulah, pasangan lawas malah baru menikah," sambung Juno sambil terkekeh. Juno mengingat bahkan hubungan antara Vierdo dan Itnas sudah dirajut semenjak mereka sama-sama kuliah.


"Iya ya sampai keduluan kamu, mungkin kalau tidak dilaksanakan secepatnya bakal disalip aku juga sama Leona padahal kami kan baru beberapa waktu ini jadian," tukas Leon.


"Kau benar," ucap Juno sambil menatap Vierdo dan Itnas yang melangkah ke meja ijab.


Vierdo menggunakan setelan jas berwarna gold dan celana putih begitupun dengan Itnas yang menggunakan gaun panjang berwarna senada dengan Vierdo yaitu campuran antara warna gold dan putih susu. Itnas melangkah diiringi seorang MUA yang memegang gaun Itnas yang menjuntai ke lantai karena saking panjangnya.


"Perjalanan mereka penuh lika-liku ya, rasanya nano-nano kalau menjadi Itnas. Dari dipaksa menikah dengan orang yang tidak pernah dicintai hanya karena kesalahpahaman oleh sang ayah hingga tidak mendapat cinta dari sang suami bahkan hingga dipoligami dan mendapatkan ketidakadilan dari Yudha," ucap Syahdu merenungi perjalanan hidup Itnas, sang sahabat.


"Ekhem." Thalita sengaja batuk mendengar keluhan syahdu akan perjalanan hidup Itnas dimana kehidupan Itnas itu terkait dengan Thalita yang pernah menjadi istri muda dari Yudha.


"Sorry bukan maksudku menyindirmu, tetapi itulah perjalanan Itnas yang sampai mendapat kebencian dari Pak Vier. Untung seiring berjalannya waktu Pak Vier bisa memaklumi keadaan Itnas setelah aku dan Kana ikut menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu," ujar Syahdu lagi.


"Iya nggak apa-apa kok Du, aku cuma bercanda aja batuk-batuknya," ucap Thalita sambil tersenyum miris mengingat kehidupan masa lalunya.


"Dia juga wanita yang hebat bahkan kehidupan yang dijalaninya lebih keras dari apa yang Itnas jalani," ucap Juno sambil mendekap erat tubuh Thalita melihat istrinya itu mulai sedih mengingat kisah hidupnya.


"Terima kasih Mas, itu karena kehadiranmu dalam hidupku yang telah mengubah segalanya," ucap Thalita sambil membalas dekapan hangat sang suami.


"Sama, kamu juga yang telah merubah diriku yang awalnya sama sekali tidak menyukai wanita dan menjadikan wanita hanya sebagai pelampiasan saja." Juno mengecup kening sang istri yang sedang menengadah ke atas menatap wajahnya.


"Iya Mas, kita berawal dari manusia yang buruk dan semoga nanti di akhir hidup kita, kita akan dikenang sebagai orang yang baik. Semoga kita mati dalam keadaan khusnul khatimah," ucap Thalita dengan mata yang berkaca-kaca dan Juno hanya mengangguk lalu mengecup lagi kening sang istri membuat bayi Athar yang melihatnya menjadi ikut berkaca-kaca.


"Aduh, gara-gara ibunya mewek anaknya jadi ikutan mewek nih. Sini Athar gendong sama Tante Syahdu saja. Lagian kenapa sih pada ngomongin mati. Ini pesta pernikahan loh bukan kifayah," protes Syahdu lalu mengambil bayi Athar dalam gendongan Thalita.


"Hidup itu juga perlu mengingat mati Du, agar kita bisa seimbang dunia dan akhirat," nasehat Juno.

__ADS_1


"Iya benar, jangan hanya karena memikirkan dunia kita lupa akan urusan akhirat," sambung Kana.


"Eh ngomong-ngomong aku jadi penasaran deh dengan masa lalu kalian," imbuh Kana.


"Masa lalu kami hitam dan gelap Kan," jawab Thalita.


"Justru itu kami jadi penasaran, iya nggak Kan?" sambung Syahdu.


"Bener banget, ceritakan dong Lit!" pinta Kana.


"Nggak boleh menceritakan aib pada orang lain," ucap Juno lalu terkekeh.


"Aish, sama teman sendiri aja begitu?" protes Syahdu.


"Ceritakan dong biar bisa dijadikan pelajaran bagi hidup kami," rajuk Kana pada Thalita.


Thalita melihat wajah Juno meminta persetujuan.


"Lain kali saja deh ceritanya jangan sekarang. Ini hari berbahagia bukan hari untuk bersedih," pungkas Juno dan Thalita mengangguk. Sengaja Juno memutuskan seperti itu karena takut Thalita terbawa perasaan saat bercerita hingga menjadi sedih lagi. Juno mengerti sifat wanitanya yang suka baper itu.


"Iya nanti kami ceritakan di momen yang tepat," janji Juno kepada Kana dan Syahdu.


Keduanya mengangguk setuju.


"Hmm, kalian tuh ya suka penasaran sama kisah orang. Entar kalau dapat pasangan jangan marah kalau kita minta cerita juga," protes Leona setelah sekian lama hanya menjadi pendengar saja.


"Oke siap nanti sampai momen malam pertama pun akan aku ceritakan," ucap Syahdu iseng.


"Kita pegang janjimu!" Semua orang menunjuk Syahdu dan berkata serempak.


Syahdu menggeleng. "Kalian tuh ya kayak paduan suara saja ngomongnya barengan gitu."


Syahdu tertawa renyah. "Ini nih pasti karena aku menyebut malam pertama tadi," lanjutnya.

__ADS_1


"Sebab kamu kalau mau ngomong nggak dipikir dulu sih Du, masa' mau menceritakan tentang malam pertama," keluh Leona.


"Beneran loh nanti aku ceritakan asal kamu berjanji juga akan menceritakan," ucap Syahdu pada Leona.


"Enak saja, ogah ah," ucap Leona.


Bersamaan dengan itu MC mengumumkan bahwa acara ijab akan segera dilaksanakan.


"Sudah-sudah jangan ngomong lagi tuh acara bakal dimulai," ujar Juno.


Semua orang pun mengangguk dan kini fokus menatap ke arah Vierdo dan Itnas yang sudah anteng di depan pak penghulu.


Vierdo melirik teman-temannya. Juno dan Leon tampak mengangkat tangannya membentuk seperti orang yang ingin lomba panco memberikan semangat. Begitupun dengan Itnas dia juga menatap teman-temannya dan mendapatkan senyum dan anggukan dari semuanya.


"Bagaimana sudah siap?" tanya pak penghulu kepada dua mempelai.


"Sudah siap," jawab Vierdo sedangkan Itnas hanya menjawab dengan anggukan.


Vierdo dan Thalita menjadi tegang. Kedua orang tua dari masing-masing mempelai pun juga ikut tegang di samping putra-putri mereka.


Pak penghulu pun memimpin jalannya ijab qabul dan mempersilahkan Pak Husein selaku ayah dari Itnas untuk mengucapkan kalimat ijab.


Dengan sekali tarikan nafas Vierdo langsung mengucapkan kalimat qabul.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya pak penghulu.


"Sah."


"Sah."


Kata sah terdengar dari segala penjuru ruangan membuat kedua mempelai, keluarga dan semua teman-teman mereka merasa lega dan langsung mengucapkan kalimat alhamdulillah.


Pak penghulu pun memimpin do'a bersama.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2