Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 38. Penyesalan Yudha


__ADS_3

Esok hari Yudha terbangun dari pingsannya. Dia melihat Itnas berada di sampingnya.


Yudha berusaha untuk bangun dan duduk, tetapi tidak bisa.


"Auw." Dia meringis kesakitan perutnya masih terasa ngilu sekali.


"Aduh." Yudha terdengar mengaduh kesakitan, tetapi tetap berusaha agar bisa duduk.


Mendengar suara Yudha, Itnas mengucek matanya. Dia kemudian terkejut karena matanya terasa silau. Itu artinya hari sudah berganti pagi.


"Ah, aku ternyata tidur di sini semalaman," gumam Itnas. Dia melihat gorden kamar rawat Yudha yang sudah tersingkap.


"Kau sudah bangun?" tanya Yudha melihat Itnas seperti orang yang berpikir. Laki-laki itu tetap berusaha untuk bisa duduk meski pergerakannya kaku.


"Ah, iya. Mas Yudha jangan bangun dulu. Kata dokter tidak boleh banyak bergerak sebelum dokter memeriksa lagi."


"Ah, baiklah." Yudha kembali berbaring.


"Mas Yudha sudah tidak apa-apa?"


"Sudah sedikit mendingan," ucap Yudha berbohong padahal tubuhnya masih terasa sakit. Dia hanya tidak ingin membuat Itnas khawatir.


"Kau yang menolongku?" tanya Yudha lagi.


"Iya Mas. Aku menemukan Mas Yudha pingsan di jalanan," jelas Itnas.

__ADS_1


"Kenapa kau menolongku?" tanyanya bingung. "Kenapa tidak kau biarkan aku mati saja? Kalau aku mati pasti hidupmu akan bahagia. Hidupku hanya bisa menyusahkan orang banyak." Yudha menunduk, merasa selama ini terlalu banyak dosa pada Itnas. Bahkan dirinya hampir saja ingin membunuh Itnas dan papanya. Yudha juga merasa malu, orang yang ingin dihancurkan hidupnya sekarang malah menjadi penyelamat baginya.


"Aku ingin Mas Yudha masih bertahan hidup. Aku tidak ingin Mas Yudha meninggal dalam keadaan belum bertobat. Kasihan ayah dan ibu Mas Yudha kalau Mas Yudha meninggal dengan masih mengantongi banyak dosa."


Mendengar perkataan Itnas, Yudha semakin merasa bersalah.


Maafkan Hendra ayah, ibu. Seharusnya Hendra melakukan kebaikan di dunia ini sehingga ayah dan ibu bisa mendapatkan pahala telah membesarkan putra yang bisa diandalkan. Nyatanya Hendra malah berbuat banyak dosa yang membuat ayah dan ibu pasti akan tersiksa di sana.


"Oh ya perkara Om Anton sama Tante Dini, papa bersumpah pada Itnas beliau tidak tahu bahwa keduanya sudah tiada. Beliau juga mengatakan tidak tahu keadaan orang tua Mas Yudha sebelum meninggal termasuk siapa yang telah meracuni ikan-ikan di tambak Mas Yudha itu. Kata papa keluarga kita berteman sejak dulu, buat apa harus menusuk sahabat dari belakang? Papa dan mama dan juga Itnas sangat bersimpati atas kepergian ayah dan ibu Mas Yudha," ucap Itnas panjang lebar.


Mendengar perkataan Itnas, Yudha seperti tertampar. Dia merasa menjadi pecundang yang menusuk sahabat kedua orangtuanya dari belakang.


"Maafkan aku ya Dek Nas," ucap Yudha dengan penuh sesal.


"Jahat?" potong Yudha akan ucapan Itnas.


Itnas tersenyum lalu mengangguk. "Ya, berhenti jahat pada diri sendiri dan orang lain."


Yudha hanya mengangguk.


"Setelah ini Itnas minta Mas Yudha hidup dengan normal. Jauhilah wanita eks diluar sana yang bisa membuat Mas Yudha ketularan penyakit kelamin. Jauhi obat-obatan terlarang yang bisa menjerumuskan Mas Yudha ke dalam penjara. Kalau bisa menikahlah dengan wanita yang benar-benar Mas Yudha cintai dan perlakuan wanita itu dengan lembut. Berhentilah bersikap arogan seperti yang Mas Yudha perbuat pada Thalita."


Yudha mendengarkan pesan-pesan dari Itnas itu. Dalam hati membenarkan apa yang dikatakan Itnas adalah yang memang harus dia lakukan, tetapi sayangnya itu semua sudah tidak berlaku pada Yudha karena setelah ini dia akan menghabiskan sisa umurnya dalam penjara.


"Kenapa Mas Yudha malah terlihat sedih seperti itu?" tanya Itnas melihat wajah Yudha lebih pucat dari sebelumnya.

__ADS_1


"Terimakasih atas nasehatmu, tetapi semua itu sudah terlambat karena hidupku tidak akan bebas lagi bergerak. Seumur hidupku akan berada dalam penjara." Yudha tidak menyalahkan Itnas yang telah melaporkan akan kejahatan dirinya karena itu semata-mata akibat kesalahannya sendiri.


"Tidak Mas, Mas Yudha tidak akan dipenjara seumur hidup, mungkin hanya beberapa tahun saja. Saya hanya melaporkan Mas Yudha atas perkara penculikan Papa. Masalah penjualan obat-obatan terlarang dan penganiayaan serta penembakan terhadap Thalita kami belum melaporkan."


"Tetapi polisi sudah tahu itu, buktinya dia mengejarku terus dari kemarin siang. Kau tahu Nas aku begini karena lari dari kejaran mereka. Ingin lari dari tembakan tetapi malah terkena ranting yang tajam. Ranting itu menusuk ke dalam perutku ini."


"Semoga cepat sembuh ya Mas Yudha, semoga sebelum polisi menemukan dirimu di sini kamu sudah meminta maaf pada Thalita dan Juno sehingga mereka tidak akan menambah laporan kejahatan Mas Yudha."


"Thalita? Juno? Dimana mereka sekarang? Aku banyak dosa kepadanya. Izinkan aku bertemu dengannya."


"Thalita masih dirawat di rumah sakit ini. Namun, untuk sementara jangan menemuinya dulu. Takutnya kalau melihat Mas Yudha, Thalita jadi syok mengingat kejadian penembakan kemarin. Kasihan dia. Lagipula Mas sudah tidak usah banyak bergerak dulu takut bahaya pada luka Mas Yudha itu. Oh ya Mas, aku harus pergi sekarang. Aku harus bekerja pagi ini," pamit Itnas pada Yudha kemudian bangkit dari duduknya.


Yudha mencegah Itnas untuk pergi. "Jangan tinggalkan aku dulu Nas!" pintanya pada Itnas sambil meraih tangan Itnas dan menggenggamnya.


"Ada apa Mas? Mas Yudha mau aku belikan sarapan? Belum ada kiriman makanan ya dari pihak rumah sakit? Apa tidak suka dengan makanan di sini?"


"Bukan begitu Nas, aku ...."


"Itnas!"


Perkataan Yudha harus terpotong saat Vierdo membuka pintu dan memanggil nama Itnas.


Itnas dan Yudha menoleh bersamaan. "Vierdo?"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2