Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 86.Terasa Berat


__ADS_3

"Oh." Kana hanya mengangguk paham sambil sedikit tersenyum.


Mobil melintas di jalanan dengan kecepatan sedang sebab Gino tidak berani menambah kecepatan mobilnya saat Kana masih bersandar di pundaknya. Mungkin karena pikirannya terlalu lelah membuat Kana malah tertidur di pundak Gino.


Melihat Kana yang tertidur Gino menjadi tidak tega untuk membangunkan Kana sebab baru saja dia tertidur dan Gino tidak ingin mengganggu tidurnya Kana. Jadi pria itu memilih memelankan laju mobilnya dan berkeliling di jalanan.


Lama berputar-putar akhirnya Gino memutuskan untuk berhenti dulu di sebuah tempat. Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan sebuah pusat perbelanjaan. Gino menghentikan mobilnya.


"Sudah sampai ya Gin?" Kana membuka mata saat merasakan mobilnya berhenti. "Loh kok malah di mall?" tanya Kana kaget Gino menghentikan mobilnya di depan sebuah pusat perbelanjaan. Itu tandanya rumah Kana sudah terlewati.


"Iya temani aku yuk membeli barang-barang dulu!" ajak Gino selain memang ada yang harus dibeli di sana Gino juga ingin agar Kana melupakan kesedihannya untuk sementara dengan mengajaknya berbelanja.


"Yakin kamu mau belanja?" tanya Kana seakan meragukan Gino.


"Iya, temani sebenarnya ya," mohon Gino.


"Oke," jawab Kana sambil tersenyum dan meraup wajahnya. "Sebentar ya." Kana meraih sesuatu dari dalam tasnya.


"Nyari apa?" tanya Gino penasarannya.


Kana tersenyum sambil menunjukkan bedak pada di tangannya. "Mau ngaca dulu, kayak apa nih wajah setelah nangis kejer." Kana mencoba tersenyum lagi.


"Nggak usah ngaca, masih cantik kok," ucap Gino.


Kana lalu membuka bedak padat dan melihat tampilan wajahnya saat ini melalui kaca yang nempel pada bedak padat miliknya.


"Darimana cantiknya, orang mata bengkak begini," keluh Kana sambil memoleskan bedak di wajah dan kantung matanya. "Malu lah Gin aku masuk ke dalam mall dalam keadaan seperti ini. Bisa-bisa jadi pusat perhatian orang. Nah iya kalau mereka diam saja kalau menuduh macam-macam kan berabe," ujar Kana.

__ADS_1


"Kenapa pedulikan omongan orang? Aku aja yang bawa kamu nggak malu," ucap Gino dan Kana hanya mengangguk.


Beberapa saat memoles wajahnya akhirnya Kana turun dari mobil. "Ayo Gin katanya mau masuk ke dalam." Kana berbicara sambil berjalan ke arah pintu masuk mall.


Gino pun mengangguk dan ikut menyusul Kana yang sudah berjalan di depan.


"Kamu mau beli apa?" tanya Kana setelah mereka sudah berada di dalam mall.


"Jaket tebal," jawab Gino dan langsung membawa tangan Kana menuju toko pakaian.


"Emang cuaca di sini menurutmu dingin banget ya?" tanya Kana heran sebab yang dipilih Gino adalah jaket-jaket tebal yang biasanya orang pakai di cuaca yang bersalju.


"Nggak aku nggak mau pakai di sini," jawab Gino lalu menatap wajah Kana sendu. Lusa dia akan pergi ke Turki dan rasanya berat jika harus meninggalkan Kana dengan kondisi yang masih sedih seperti ini.


"Aku mau pakai di Turki sebab males jika harus beli di sana. Kebetulan bulan ini di sana sedang musim salju," jelas Gino.


"Wow ke Turki, hebat kamu ya, aku ajak nggak pernah pergi ke negara itu." Yang Kana tahu Gino hanyalah seorang yang bekerja sebagai ojek online, jika bisa pergi ke sana berarti pencapaian yang luar biasa.


"Saya ikut bersimpati dengan yang menimpa kakak dan ponakanmu," ucap Kana.


"Terima kasih. Nanti aku sampaikan pada kakakku."


Kana mengangguk. "Mahal pastinya ongkos ke sana," tebak Kana.


"Mungkin," jawab Gino enteng.


"Loh kok mungkin, emang kamu nggak tahu?" tanya Kana heran.

__ADS_1


"Iya memang sebab saya tidak mengurus ongkosnya karena semua sudah ditanggung oleh paman."


"Oh kaya ya pastinya paman kamu."


"Ya begitulah."


"Kapan berangkat?"


"Lusa," jawab Gino singkat.


"Lusa?" Kana terlihat kaget sedangkan Gino hanya menjawab dengan anggukan.


Mendengar jawaban Gino entah kenapa Kana merasa berat hati melepaskan kepergian Gino.


"Kenapa cemberut? Kamu tenang saja sebelum pesta pernikahan Wendi saya sudah tiba kembali di tanah air."


Kana hanya mengangguk tetep wajahnya masih terlihat murung.


"Mau ikut?" tawar Gino.


Kana menggeleng. "Mana boleh yang ada aku pasti akan dimarahi orang tuaku kalau ikut orang sembarangan. Lagipula akan menambah beban pamanmu nantinya," tolak Kana.


"Ya udah ikut nanti saja setelah jadi istriku," ucap Gino membuat Kana terlonjak kaget. Apa benar apa yang dikatakan Syahdu bahwa Gino menyukai dirinya?


"Ah aku tidak boleh baper pasti Gino sedang bergurau untuk menyenangkan hatiku yang sedang sedih sekarang," batin Kana.


"Oh iya mana jaket yang tadi kamu tanyakan?" tanya Kana mengalihkan perhatian.

__ADS_1


"Yang ini sama yang ini mana bagus?" tanya Gino membandingkan kedua jaket yang ada di sisi depan dan yang dipegangnya sekarang.


Bersambung.


__ADS_2