Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
PART 42. Menunggu Si Baby.


__ADS_3

"Nyonya, naiklah ke atas ranjang lagi biar saya periksa!" perintah dokter tersebut. Thalita pun mengangguk dan menurut.


Juno menuntun Thalita dan membantunya naik ke atas ranjang. Talita langsung berbaring di atas ranjang tersebut sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh dokter.


"Sepertinya anda sudah ingin melahirkan," ucap dokter kandungan melihat keluhan yang disampaikan oleh Thalita tadi.


"Untuk lebih jelasnya saya akan melakukannya VT pada anda agar bisa mengetahui sudah pembukaan berapa," jelas dokter tersebut.


Thalita hanya mengangguk mendengar perkataan dokter.


"Bisa tinggalkan kami berdua sebentar?" Dokter beralih bicara pada Itnas dan Juno.


Itnas mengangguk sedangkan Juno masih diam, dia terlihat syok memikirkan kalau benar Thalita akan melahirkan sekarang. Bukannya Juno tidak senang, akan tetapi dia sangat takut Thalita melahirkan saat luka di bahunya belum sembuh total. Juno takut saat mengejan tadi akan membuat luka yang ada di bahunya ikut tertarik dan susah untuk sembuh.


"Ayo Jun!" Itnas menarik tangan Juno untuk keluar dari kamar rawat Thalita. Kalau membiarkan Juno terbengong sendiri akan memperlambat penanganan dokter.


"Oh, iya Nas." Juno yang tersadar dari lamunannya mengangguk dan mengikuti Itnas keluar.


Dokter langsung memasang sarung tangan kesehatan untuk melakukan pemeriksaaan di daerah inti Thalita.


"Maaf ya," ucap dokter sebelum menyingkap dress panjang Thalita.


"Iya Dok tidak apa-apa," ucap Thalita sambil meringis karena ternyata dokter tersebut sudah meraba bagian inti dirinya dan tangannya mulai bergerak masuk ke dalam.


"Sakit?" tanya dokter.


"Sedikit," jawab Thalita. Mungkin rasa sakitnya memang tidak begitu terasa, tapi rasa malu Thalita begitu besar. Baru kali ini ada orang yang sampai meneliti bagian terpenting dari alat kelaminnya itu. Yudha atau Juno pun tak pernah sampai melihat dengan begitu teliti seperti ini. Mungkin mereka hanya suka menikmati dibandingkan hanya sekedar mengawasi.


"Jangan malu karena setelah ini aku akan melihat lebih dari ini dan ini sudah biasa bagi ibu-ibu yang mau melahirkan," ujar dokter tersebut melihat raut wajah Thalita yang memerah. Dokter tersebut mengerti pasiennya dalam keadaan malu.


Untung saja dokter tersebut perempuan, entah akan semerah apa wajah Thalita kalau sampai dokter kandungan yang menangani dirinya adalah dokter kandungan laki-laki.


"Sebentar lagi bayinya akan keluar. Ini sudah pembukaan delapan," ujar dokter sambil menutup kembali dress hamil Thalita yang tadi disingkap.


"Masih berapa lama lagi Dokter? Mengapa sakit sekali?" tanya Thalita meringis.


"Masih tinggal 2 pembukaan lagi Nyonya. Nanti kalau sudah memasuki pembukaan 10 baru Nyonya Thalita boleh mengejan. Sekarang jangan dulu, takutnya pas saat tiba waktunya nanti ibu malah tidak punya tenaga lagi untuk mengejan," terang dokter kandungan.


"Kalau masih tinggal dua tingkatan lagi kenapa sakitnya tidak tertahankan dokter? Huft rasanya aku tidak kuat lagi, hiks."

__ADS_1


"Sabar Nyonya, begitulah rasanya kalau kita akan melahirkan. Semakin lama perut kita akan semakin sakit. Rasanya memang tidak tertahankan, apalagi pembukaan Nyonya Thalita kan sudah 8, jadi kontraksi semakin sering dan terasa semakin kuat. Namun, semua itu akan terbayar nanti kalau Nyonya bisa melihat dan memeluk bayi Nyonya di sisi." Dokter tersebut menyemangati Thalita.


Thalita tersenyum mendengar perkataan dokter. Thalita membenarkan ucapan dokter tersebut bahwa dia pasti akan sangat bahagia ketika bisa menggendong bayinya nanti. Rasa sakit tidak akan sebanding dengan kebahagiaannya nanti.


Sedangkan Juno yang mendengar ucapan tidak kuat dari Thalita, Juno yang ada di luar ruangan masuk kembali.


"Bagaimana Dokter, istriku tidak apa-apa kan?" tanya Juno begitu mengkhawatirkan calon istrinya.


"Sebentar lagi dia akan melahirkan Tuan, temani di sini saya akan keluar sebentar."


"Tapi Dokter, kenapa Dokter mau meninggalkan istri saya? Bagaimana kalau putra saya akan keluar sedangkan Dokter tidak ada?" Juno terlihat gusar. Mana mungkin dokter tersebut meninggalkan istrinya dalam keadaan kesakitan seperti itu. Kalau saja rumah sakit ini miliknya mungkin dokter tersebut sudah dipecat dari rumah sakit ini.


"Maaf Tuan saya harus mengontrol pasien lain dulu, juga akan meminta suster untuk menyiapkan segala keperluan melahirkan istri Tuan. Tuan tenang saja saya akan kembali secepatnya."


Juno sedikit lega mendengar pernyataan dokter, tetapi tetap saja dia berpikir dalam hati kalau sampai dokter tersebut lalai dengan datang terlambat, pria itu akan langsung


memperkarakannya.


"Oh ya Tuan sebaiknya Tuan berikan Nyonya Thalita makanan dulu sebelum waktunya dia mengejan biar pasien punya banyak tenaga nantinya."


"Baik Dok."


"Nas?" Juno meminta pendapat Itnas saat melihat wanita itu berjalan ke arahnya.


"Biar saya yang keluar cari makanan," ucap Itnas dan langsung berbalik kembali ke luar.


Namun, sampai di depan pintu Itnas menoleh dan berkata, "Thalita, apa yang ingin kamu makan sekarang? Mungkin ada makanan yang kamu ngidam sebelum ini, tapi belum terkabul. Sebelum bayinya lahir aku akan carikan."


Thalita menggeleng, dia tidak perduli lagi dengan makanan. Yang ada dalam otaknya kini ia ingin segera melahirkan sehingga tidak merasa sakit lagi.


"Terserah kamu lah Nas," ucap Juno pasrah. Lagipula dalam situasi genting seperti itu Itnas masih saja menawarkan makanan apa yang akan dimakan Thalita. Dasar Itnas, dia belum tahu bagaimana rasanya sakit akan melahirkan.


"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu." Itnas langsung berlari keluar kamar sebab takut sebelum Thalita makan, bayi yang ada dalam perut perempuan itu keburu ingin keluar.


Juno meraih kotak tisu yang ada didekatnya dan mengelap wajah dan tubuh Thalita yang sudah dibasahi peluh.


"Sakit Mas, sakit sekali," keluh Thalita sambil meringis menahan sakit. Dia sampai mencengkram bahu Juno karena tidak kuat menahan sakit.


"Sabar ya sayang sebentar lagi kamu tidak akan merasakan sakit lagi. Semoga Tuhan mempermudah segalanya," ucap Juno penuh harap.

__ADS_1


Thalita mengangguk dengan senyum yang menghiasi bibir. Namun, bersamaan dengan itu ada air mata yang juga ikut mengalir. Rasa sakit dan terharu bercampur menjadi satu karena sebentar lagi dia akan sempurna menjadi seorang ibu.


"Maafkan aku ya Lit gara-gara aku kamu jadi begini. Kalau bisa dipindah ingin rasanya aku memindahkan sakitmu itu padaku saja." Juno merasa bersalah melihat Thalita begitu tersiksa menahan rasa sakitnya.


Dokter kembali bersama para suster yang membawa alat-alat untuk persiapan melahirkan.


"Coba Nyonya tarik nafas lalu hembusan biar sedikit mengurangi rasa sakit," nasehat dokter. Thalita pun melakukan hal yang dianjurkan dokter. Ternyata memang sedikit mengurangi rasa sakitnya.


"Dokter, apa tidak sebaiknya dioperasi Dok?" tanya Juno dengan wajah khawatirnya.


"Sepertinya tidak perlu Tuan karena sebentar lagi bayinya akan segera lahir kecuali kalau ibu dan bayinya bermasalah. Misalnya ibunya tidak kuat mengejan."


"Tapi Dok luka di bahunya apakah tidak akan berpengaruh?" Juno benar-benar khawatir.


Bersamaan dengan itu Itnas datang membawa makanan. Juno meraih dan langsung membuka bungkusan dan menyuapkan pada Thalita.


Thalita menggeleng. "Aku tidak selera makan."


"Makanlah sedikit saja biar nanti kamu ada tenaga," bujuk Juno.


"Iya Lit makanlah saat bayimu akan keluar nanti kau akan butuh tenaga yang lebih banyak dari ini." Itnas membenarkan ucapan Juno.


Akhirnya Thalita mengangguk dan menerima suapan demi suapan dari Juno.


Namun tiba-tiba. "Auw." Thalita memegang perutnya.


"Kenapa lagi Lit?" Juno mulai gusar lagi.


"Berbaringlah aku akan melakukan VT kembali!" perintah sang dokter. Seperti biasa Thalita menurut.


"Pembukaan sudah 10 sudah sempurna untuk melahirkan," terang sang dokter.


"Bersiap-siap ya Nyonya," imbuh dokter lagi.


"Mas, air aku haus," pinta Thalita.


Juno pun meraih air mineral. Setelah membuka tutup botolnya kemudian mendekatkan pada bibir Thalita agar calon istri dan ibu dari anaknya itu bisa minum.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2