Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 64. Cemburu


__ADS_3

Mendengar perkataan Vierdo Leon segera mendekat ke arah Leona.


"Pak Leon?" Leona terlihat kaget.


"Ada apa Pak?" tanyanya lebih lanjut.


"Kembali ke perusahaanku!" Leon menarik tangan Leona membuat Wendi yang ada di samping Leona menjadi bingung. "Hei jangan tarik-tarik!" protes Wendi sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Leon pada tangan Leona.


"Kau tidak perlu ikut campur!" Leon menepis tangan Wendi dan laki-laki itu tampak


menggelengkan kepala. Namun, karena tidak melihat pemberontakan dari Leona akhirnya Wendi diam dan pasrah dan hanya menyaksikan apa yang akan diperbuat keduanya.


"Loh ini ada apa Pak?" tanya Leona tidak mengerti. Bukankah perjanjiannya antara Leona dan Lala akan bertukar tempat lagi kalau kinerja mereka ada yang tidak cocok terhadap Leon ataupun Vierdo. Kenyataannya Leona tahu dari Itnas bahwa kinerja Lala sangat bagus dan cocok di perusahaan Leon. Kalau dirinya sendiri mah cocok tidak cocok pasti Vierdo tidak masalah. Walaupun demikian Leona tetap akan melakukan yang terbaik demi perusahaan dimanapun dia bekerja.


Dia jadi bingung apa yang mengubah diri Pak Leonnya itu.


"Kembali ke perusahaanku, apa kau tidak mendengar?" Leon terlihat kesal Leona tidak mengerti ucapannya.


"Tapi saya betah sini Pak," ucap Leona membuat mata Leon jadi terbelalak.


"Apa karena ada dia?" tanya Leon menuding Wendi.

__ADS_1


"What? Jadi ceritanya dia sedari tadi cemburu padaku?" batin Wendi tak percaya.


Memang sedari tadi Wendi dan Leona tampak berbincang-bincang seru dan sesekali tertawa. Namun, perbincangan mereka hanya seputar bertemu klien dimana ada beberapa klien yang tampak lucu dimata mereka.


"Tidak ada hubungannya dengan Pak Wendi, Pak. Saya nyaman saja di sini karena banyak teman-teman yang akrab," ucap Leona jujur.


"Kau pasti bohong kan, apa kau sudah pacaran dengan dia?" cerocos Leon membuat Leona semakin bingung. Pasalnya akhir-akhir ini bosnya itu bersikap dingin padanya dan sekarang malah terlalu banyak bicara.


"Kenapa dia?" Juno yang menyaksikan dari balik kaca tidak paham dengan situasi karena memang tidak mengerti.


"Biasa sedang cemburu dia tapi gengsi untuk mengakuinya," ucap Vierdo lalu terkekeh. Dia kemudian mengajak Juno bicara agar tidak terlihat oleh Leon bahwa dirinya mengawasi pria itu.


"Ya begitulah," sahut Vierdo sambil melirik ke arah Leon dan Leona.


"Aneh tinggal bilang saja, pakai basa-basi segala," ucap Juno.


"Kamu kayak nggak tahu dia aja Jun," protes Vierdo.


"Bapak apaan sih?" Leona tidak mengerti dengan tuduhan Leon.


"Kalau memang tidak ayo kembali ke kantor."

__ADS_1


"Tapi perjanjiannya kan ....?"


"Perjanjian berakhir karena aku tidak puas dengan kinerja Lala," ucap Leon dengan suara keras membuat Vierdo langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Leon dan Leona.


"Bagaimana mungkin Lala tidak cocok," protes Vierdo sambil menepuk bahu Leon.


"Hei Bro dia itu wanita yang cerdas. Kau bisa memberikan tugas apa saja dan saya jamin akan selesai dengan cepat dan tepat," beber Vierdo.


"Kan sudah kubilang perusahaan kita berbeda Vier, mungkin di sini bisa begitu tetapi di tempatku berbeda," elak Leon.


"Apa bedanya? Yang namanya cerdas tidak akan memilih tempat. Dimana pun berada dia akan selalu pintar. Kupikir dia cocok denganmu. Sama-sama pintar dan perfect." Vierdo menjeda ucapannya.


"Dan kamu Leona memang cocok dengan Wendi." Sontak Leona dan Wendi membelalakkan mata mendengar perkataan Vierdo.


"Pak ...." Wendi ingin protes, tetapi tidak jadi melihat kedipan mata Vierdo.


"Leona kalau kamu berkenan aku akan melamar kamu secepatnya," ucap Wendi serius, tetapi dalam hati tertawa jahat.


"Rasain!" ucap Vierdo dalam hati. Juno hanya menggeleng kepala melihat Vierdo mengerjai Leon sahabatnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2