
"Mau aku pesankan makanan apa?" tanya Fikran memulai basa-basinya pada Syahdu.
"Tidak usah aku masih kenyang," tolak Syahdu.
"Makan gorengan aja sudah kenyang? Sekarang cuaca di luar sangat dingin jadi tubuh butuh pembakaran kalori lebih."
Syahdu diam tidak menjawab.
"Kalau begitu aku kembali ke Leona dulu ya," pamit Leon.
"Pak jangan!" cegah Syahdu tidak ingin ditinggalkan hanya berdua saja dengan Fikran.
"Kenapa sih Du, orang dekat juga tempat kita duduk nantinya. Tuh aku sama Leona juga Thalita akan duduk di sana. Kamu tenang saja karena kami akan mengawasi kalian berdua. Kalau sampai Fikran macam-macam sama kamu nanti kita keroyok," ucap Leon lalu terkekeh.
"Dih sukanya main keroyok malah pasukannya cewek-cewek lagi," keluh Fikran akan ucapan Leon tadi.
"Baiklah," ucap Syahdu pasrah. Namun, wajahnya tampak ditekuk dan cemberut.
"Kalau begitu udah dulu ya bye! Baik-baik ya kalian berdua jangan sampai bertengkar," goda Leon kemudian berjalan cepat menuju ruangan sebelah di mana Thalita dan Leona berada.
"Sorry ya waktu itu aku nggak sengaja hampir nabrak kamu sebab waktu itu aku sedang terburu-buru," ujar Fikran memulai pembicaraan seriusnya.
"Kan kamu sudah minta maaf, harus ya minta maaf lagi?" Syahdu berbicara dengan Fikran, tetapi wajahnya malah melihat ke samping seolah tidak ingin memandang wajah pria itu.
__ADS_1
"Kan kamu belum maafin, katamu dulu sudah terlambat." Fikran mengingatkan Syahdu akan perkataannya dulu.
"Kalau dulu saja sudah terlambat apalagi sekarang? Jauh lebih terlambat," tekan Syahdu.
"Ya ampun segitunya bencinya ya sama aku hingga tidak ada kata maaf."
Syahdu hanya diam.
"Ya sudah sebagai permohonannya maaf aku traktir kamu hari ini. Kamu pesan makanan apa saja yang kamu inginkan biar aku yang bayarin."
Mendengar kata traktir dan makanan baru Syahdu antusias. Dia kan memang gadis hobby makan yang nggak gemuk-gemuk kata Itnas.
"Eh tapi nggak lah, malu-maluin," batin Syahdu.
"Syahdu aku benar-benar minta maaf," ucap Fikran dengan raut wajah dan nada suara yang begitu serius, lebih serius dari sebelumnya.
"Iya sudah kumaafkan kok," ujar Syahdu kemudian, tidak enak juga membuat Fikran merasa bersalah seperti itu.
"Wah terima kasih kau memang gadis yang baik."
"Cih."
Fikran memanggil pelayan dengan tangannya dan pelayan langsung sigap berlari ke arahnya.
__ADS_1
"Pesan apa Mas? Itu cewek Mas yang ditunggu sedari tadi?"
"Pokoknya menu yang enak-enak bawa saja kemari dan dia bukan pacar saya tapi masih calon," sahut Fikran lalu terkekeh.
Sontak saja Syahdu yang sedari tadi tidak ingin melihat wajah Fikra langsung menatapnya tajam.
"Wah semoga berjodoh ya Mas," ujar pelayan itu membuat Syahdu langsung mengalihkan pandangannya ke arah pelayan itu.
"Aamiin," ucap Fikran sambil menadahkan kedua tangannya ke langit.
Pelayan yang ada di samping mereka terlihat tertawa melihat Fikran begitu serius mengaminkan ucapakan.
"Kenapa kau malah tertawa?" protes Fikran.
"Gimana saya nggak ketawa Mas, Mas nya kelihatan ngebet sama Mbak ini, tapi Mbak nya malah kelihatan ilfil menatap Mas nya."
"Ya saya juga nggak ngerti kenapa dia tidak menyukai saya. Apa wajah saya tidak tampan ya Mas?" tanya Fikran pada pelayan itu. Apa tidak boleh orang yang jelek macam aku jatuh cinta?"
"Nggak Mas nya cakep kok, hanya saja ...."
"Gimana bisa perempuan menyukaimu. Melihat rambut sama anting-antingmu saja aku ngerasa ilfil sampai rasanya mau muntah," potong Syahdu akan perkataan pelayan tadi. Membuat tawa dari pelayan tersebut langsung meledak.
Bersambung.
__ADS_1