Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 44. Bahagia


__ADS_3

"Sebentar ya Nyonya jangan bergerak dulu. Saya akan menjahit dulu," beritahu sang dokter pada Thalita agama tidak banyak bergerak.


"Apalagi ini Dok? Apalagi yang harus dijahit?" tanya Juno bingung. Proses yang bagaimana lagi yang akan dilalui oleh Thalita.


"Ada yang sobek di tempat keluarnya bayi Tuan karena Nyonya Thalita saat mengejan tadi mengangkat bokongnya. Jadi harus dijahit agar tidak sakit nantinya," jelas dokter.


"Lakukanlah Dokter," ucap Thalita yang tidak mau bicara banyak lagi. Proses melahirkan bayinya tadi sangat menguras tenaganya. Dia benar-benar mengantuk dan lelah sekarang bahkan sekarang matanya terlihat melek merem.


"Baik Nyonya."


"Hati-hati Dok jangan sampai kena jahit semuanya. Sisakan untukku," ucap Juno tanpa sadar.


"Mas," protes Thalita sambil mencubit lengan Juno. Pria itu membuat dirinya malu saja. Thalita yang mengantuk menjadi hilang karena mendengar ocehan Juno yang tak penting ini.


Dokter kandungan itu tersenyum dan berkata, "Tenang Tuan saya sudah ahli, pasti akan saya sisakan agar anda masih bisa memproses bayi lagi," kelakar sang dokter membuat Thalita yang mendengar gurauan dokter itu menjadi merah wajahnya. Dia benar-benar malu.


"Ah syukurlah kalau begitu," ucap Juno dengan tanpa malu.


"Dasar Juno," ucap Itnas, dan bibi yang ada di samping Thalita pun kini duduk dan terlihat tersenyum.


Terlihat dokter membawa bayi dalam gendongan diikuti Fadil di belakang. Pria itu memang sengaja mengikuti suster tadi sejak membawa bayi Thalita ke ruangan lain untuk dibersihkan.


"Oke sekarang kita lakukan inisiasi menyusu dini dulu ya, atau yang dinamakan imd jelas dokter."


"Apalagi itu dokter? Ya ampun banyak macamnya," ucap Juno sambil mengacak rambutnya sendiri.


"Makanya kalau guru menerangkan pelajaran Biologi didengarkan. Kamu mah kalau ada pelajaran IPA dulu pasti bolos dari kelas makanya tidak tahu," tuduh Itnas.


"Ih mana ada, aku itu anak yang rajin loh pas waktu sekolah dulu," elak Juno. "Cuma yang nyangkut di otak aku memang pelajaran ekonomi," imbuhnya.


"Iya deh, iya paham. Businessman gitu loh," ucap Itnas sambil terkekeh.


"Kita kita lakukan sekarang ya Nyonya inisiasi menyusu dini-nya. Bagi laki-laki yang bukan muhrimnya silahkan keluar," ucap dokter tersebut dengan melihat ke arah Fadil.

__ADS_1


Fadil mengangguk dan langsung berjalan keluar meninggalkan Thalita dan yang lainnya di dalam ruangan, di belakangnya menyusul Juno.


"Eh Tuan, tunggu! Anda tidak usah keluar. Tuan kan suaminya," ujar dokter itu mencegah Juno untuk keluar.


"Tuan bisa menyaksikan


perjuangan putra Tuan dalam mencari ****** susu ibunya untuk pertama kalinya nanti," jelas dokter.


Tentu saja Thalita membelalak mendengar perkataan dokter sedangkan Jono malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Itnas dan si bibik malah terlihat cekikikan.


Suster menyingkap kain yang menutupi tubuh Thalita dan meletakkan bayi yang baru lahir itu di dada Talita, serta membiarkan bayi tersebut mencari put*ng susu ibunya untuk mendapatkan ASI pertama kali.


Juno memalingkan muka tidak mau melihat dada Thalita karena bisa saja perempuan itu merengek dan marah nantinya.


"Kenapa tidak mau melihat Tuan?Apa tidak mau melihat kenyataan bahwa Tuan sudah ada yang menyaingi sekarang?"


Juno meringis. "Somplak juga nih dokter," ucapnya dalam hati.


"Apa sih gunanya IMD atau inisiasi menyusu dini ini Dok?" tanya Juno untuk mengalihkan topik pembicaraan. Sok tidak melihat ke arah Thalita tetapi kenyataannya melirik dengan ekor matanya. Juno meringis melihat putranya yang susah menemukan ASI pertamanya, tetapi saat putranya berhasil ******* ia bernafas lega dan tersenyum senang.


"Sedangkan untuk ibu proses IMD dipercaya bermanfaat untuk membentuk bonding yang kuat antara ibu dan bayi. Jadi ada ikatan batin yang lebih kuat nantinya. Selain itu, hormon oksitosin yang diproduksi dalam tubuh juga dapat membantu rahim untuk berkontraksi, sehingga bermanfaat untuk mengurangi risiko perdarahan setelah melahirkan, juga membantu ibu merasa tenang dan santai. Bagaimana Nyonya perasaan Nyonya lebih tenang dan santai kan sekarang?" tanya dokter tersebut pada Thalita.


"Iya Dok saya merasa lebih tenang sekarang, malah sangat bahagia," jawab Thalita.


"Nah kalau sudah begini terbayar sudah kan perjuangan Nyonya sedari tadi?" Dokter berkata sambil membersihkan darah yang ada di ranjang di bagian kaki Thalita.


Suster mengangkat bayi yang sudah dirasa cukup berada di dada Thalita dan akan menaruhnya di box bayi.


"Sini Sus, aku pengen gendong!" pinta Juno.


Suster pun memberikan bayi itu pada Juno dan dirinya beralih membantu dokter untuk membersihkan ranjang dan alas yang sudah terkena darah dan menggantinya dengan yang baru.


"Benar Dok, benar sekali," ucap Thalita dengan mata yang berbinar bahagia. Juno pun tersenyum melihat Thalita sumringah sekarang.

__ADS_1


"Tuh lihat mami kamu sudah bahagia, makanya jangan bandel. Dari tadi nggak mau keluar-keluar padahal mami sudah nggak tahan sakit dan dadi juga sudah tidak tahan lihat wajah kamu yang tampan ini." Juno malah melayangkan protes pada putranya.


"Benar-benar mirip dadi," ucapnya dengan bangga.


"Sini aku mau gendong juga," ucap Itnas lalu meraih bayi dari tangan Juno.


"Hati-hati Nas," ucap Juno.


"Iya ngerti Jun, tanpa diberitahu pun aku juga bakal hati-hati," ucap Itnas sewot.


"Ah iya ini, aku mau ngasih tahu mama dulu bahwa cucunya sudah lahir." Juno menyerahkan bayinya pada Itnas dan dirinya langsung meraih ponsel untuk menyampaikan kabar gembira pada mamanya.


"Apa cucu mama sudah lahir, di rumah sakit mana? Mengapa tidak mengabari mama sih, bahwa Thalita udah mau lahiran?" Terdengar suara mama Elvi yang heboh dari balik telepon.


Karena tidak ingin mendengar protes mamanya, Juno langsung memutuskan sambungan telepon dan lebih memilih memberitahukan alamat rumah sakit melalui chat saja.


"Karena semua sudah baik-baik saja, aku permisi dulu ya Jun, Lit. Mau pulang dulu jenguk papa karena aku nitip dia sama Kak Vier. Takutnya Kak Vier belum pergi sebelum aku pulang. Kasian dia kan harus bekerja."


Bibi meraih bayi Thalita dari tangan Itnas dan


menggendongnya.


"Iya Mbak Nas, hati-hati dan terima kasih banyak ya sudah menemani dan memberikan semangat," ucap Thalita.


"Iya Nas terima kasih banyak ya sudah membantu kami selama ini. Kalau bukan karena kamu mungkin aku tidak akan ada di samping Thalita saat melahirkan," sambung Juno.


"It's okey. Sama-sama. Aku pergi dulu ya. Kalian berdua baik-baik ya."


Keduanya mengangguk serentak.


"Bik aku pamit ya," pamitnya pada bibi Thalita.


"Iya Nak hati-hati ya dan terima kasih telah ikut menjaga dan Thalita. Terima kasih juga rela mengabari bahwa Thalita masuk rumah sakit kena tembak kalau tidak mungkin saat ini saya tidak ada di sini.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2