
"Sebentar lagi keinginan ayah sepertinya akan terwujud. Doakan saja ya ayah," gumamnya seorang diri. Fikran tersenyum kala dirinya sudah menyelesaikan misi yang diembannya dan sekarang sudah pendekatan pada seorang gadis yang artinya sebentar lagi dia memang akan mewujudkan impian sang ayah. Memegang perusahaan dan menikah.
Saat sedang termenung ponselnya bergetar. Fikran segera memeriksanya.
"Dari Leon, ada apa?" Ketar-ketir sendiri takut Leon membatalkan janji untuk mempertemukan dirinya dengan gadis yang ditemui tempo hari di depan perusahaan Vierdo.
Segera Fikran mengangkat telepon dari Leon.
"Iya Bang Leon, ada apa?" tanyanya langsung. Fikran memang tidak suka berbasa-basi.
"Fik sepertinya kami akan datang terlambat sebab kami menepi dulu di pom bensin karena cuaca di luar masih terlalu ekstrim untuk diterobos. Jalanan licin dan angin kencang yang seolah menerbangkan mobil kami membuat Syahdu ketakutan," jelas Leon.
"Iya tidak apa-apa Bang, saya akan tetap setia menunggu. Abang berdua saja dengan Syahdu?" Terdengar nada khawatir dari suara Fikran.
"Cih kenapa kau jadi posesif begitu, belum juga Syahdu jadi milik kamu," protes Leon terhadap adik sepupunya itu.
"Bukan begitu Bang, ini cuaca dingin banget takut abang khilaf apa-apain dia," kelakar Fikran.
"Alah kayak nggak tahu Abangmu saja. Aku kalau tidak tertarik pada sesuatu enggan, apalagi sampai harus menyentuhnya."
"Kan aku bilang takut khilaf tapi semoga nggak deh. Semoga Abang kuat iman," cerocos Fikran lagi.
Leon langsung mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Halo Bang Leon!"
Tidak ada jawaban dari balik telepon.
Tut, tut, tut.
Malah terdengar suara yang menunjukkan sambungan telepon terputus.
"Ya kok diputus sih, apa Abang marah ya? Gawat, dia bisa bawa Syahdu balik. Bodoh, kenapa aku tidak meminta alamat rumahnya saja?" Fikran merutuki kebodohannya sendiri.
"Ah tenang nanti kalau tidak bisa bertemu aku langsung cari ke kantor yang kemarin saja. Sepertinya Syahdu bekerja di perusahaan itu." Fikran tersenyum seorang dia membayangkan wajah gadis itu ada di pelupuk matanya.
Ah Fikran tidak tahu kenapa dirinya bisa tertarik dengan gadis itu sementara di luaran sana banyak wanita yang lebih cantik daripada Syahdu, bahkan rekan kerjanya yang jauh lebih cantik sempat mengatakan perasaannya pada Fikran dan pria itu malah menolaknya.
"Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama," gumamnya lalu terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala. Jujur Fikran adalah seorang pria yang susah jatuh cinta. Pernah dikhianati oleh seorang kekasih sempat membuat dirinya trauma untuk menjalin hubungan percintaan. Namun, saat melihat Syahdu hari itu, entah kenapa bayang-bayang gadis itu tidak pernah lepas dari ingatannya. Untung saja saat itu dirinya sempat mengambil foto Syahdu secara sembunyi-sembunyi saat Syahdu berbalik ke dalam area kantor sambil menggendong baby Aldan.
"Tapi sampai kapan aku akan bertahan di tempat ini?" Fikran meletakkan tangan di pinggiran meja sambil menopang dagu dan melihat ke arah hujan dan angin kencang yang belum jua reda.
Namun, lamunannya harus buyar kala melihat ponselnya menunjukkan ada panggilan video dari Leon.
"Aku pikir dia ngambek," kata Fikran sambil mengangkat video call dari kakak sepupunya itu.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Tuh lihat kami di sini beramai-ramai, enggak hanya berdua saja," kata Leon sambil menunjukkan gambar Syahdu, Leona, dan Thalita yang sedang menikmati gorengan di dalam mobil.
"Boleh tuh hujan-hujan makan gorengan sama sambal dan ngerujak bareng-bareng. Lempar ke sini dong!" pinta Fikran.
"Ogah ah, bukankah kamu ada di dalam kafe? Tinggal pesan noh makanan yang hangat-hangat," ujar Leon sambil mengambil tempe mendoan dan dilumuri dengan sambal lalu mengunyahnya dengan pelan seolah ingin agar Fikran ngiler.
"Aku nggak tertarik Bang, aku tertariknya pada gadis yang duduk di belakang Abang dibandingkan makanan itu," ujar Fikran.
Leon mengernyit dan langsung mengarahkan layar ponselnya ke belakang dirinya duduk dimana nampak para wanita sedang makan gorengan sambil sesekali tertawa.
"Nah kalau lihat itu seharian aku betah."
Leon tersadar bahwa Fikran menatap Syahdu tak berkedip sedari tadi. Leon segera mengalihkan layar kameranya seperti semula.
"Sudah nggak usah lihat sekarang, sabar aja kenapa."
"Ah Abang, kelamaan aku nunggunya malah duduk sendirian lagi."
"Gampang tinggal nyuruh pelayan duduk dan nemenin kamu terus bayar dia biar betah kamu ajak bicara. Saya yakin keadaan kafe tidak begitu sibuk, bukan?"
"Ogah ah."
"Ya sudah aku tutup telepon dulu. Kamu tunggu si sana sampai sore saja." Setelah mengatakan kalimat itu Leon langsung mematikan panggilan video call-nya.
__ADS_1
"Ya dimatikan lagi, padahal aku pengen lihat dia terus. Haruskah sampai sore aku benar-benar menunggunya? Ah Bang Leon niat banget dia ngerjain aku padahal hujan sudah mulai reda ini," keluh Fikran sambil melihat ke arah luar lagi.
Bersambung.