
"Ah ternyata kalian ada di sini," ucap Kana dan langsung menutup mukanya dengan kedua tangan.
"Biasa aja dong Kan, sama kami-kami aja malu," protes Itnas.
"Ah pokoknya aku benar-benar malu sekarang Nas, ngapain juga kalian sembunyi dari tadi," protes Kana pada sahabatnya itu.
"Alah Kana, Kana, awalnya memang malu lama-lama dah biasa," ucap Leona sambil menarik tangan Kana yang menutupi wajahnya.
"Sudah jangan ditutupi terus, mau bekerja dengan saja yang seperti itu?" protes Leona.
"Kalian kok bisa ada di sini sih? Bukannya kamu sudah tukar tempat kerja lagi ya dengan Lala."
"Yup begitulah, cuma aku sama Itnas ada perlu saja du perusahaan ini," ucap Leona lagi.
"Perlu apa?" tanya Kana penasaran.
"Mau mengambil berkas-berkasku yang ada di sini. Kalau Itnas sih cuma nemenin sekalian ketemu suami," jelas Leona.
"Duh senengnya pengantin baru sehari rasa setahun," ucap Kana menggoda Itnas.
"Idih makanya minta segera dihalalkan oleh Gino biar cepat nyusul kami," saran Itnas.
"Nyusul ke pelaminan," sambung Leona lalu terkekeh.
"Iya nih kalau dia mau dan siap pasti aku akan menikahi secepatnya," ujar Gino membuat pipi Kana bersemu merah kembali.
"Mau deh Kan, nikah itu enak loh apalagi sekarang lagi musim hujan," ucap Itnas lalu cekikikan.
__ADS_1
"Apa hubungannya nikah sama musim huja? Kamu dan Vierdo mau membuka lahan pertanian gitu?" protes Leona.
"Iya dan panennya nanti setelah sembilan bulan," ujar Gino.
"Hmm, apa sih yang kalian bicarakan?" tanya Kana tidak mengerti hubungan antara pertanian dan pernikahan.
"Aish nggak ngerti dia, jelaskan Gin!" perintah Kana.
"Kok aku sih kan kamu ya mulai," protes Gino.
"Baiklah, begini, begini. Kalau musim hujan kan suhu udara menjadi lebih dingin dari biasanya. Jadi kalau ada yang hangat-hangat untuk dipeluk kan enak," ujar Itnas dan langsung tertawa.
Ingin rasanya Kana melemparkan buket bunga ke hadapan Itnas sebab kesal. Dia pikir Itnas berbicara serius dari tadi.
"Kawin! Kawin! Musim hujan musim kawin!" teriak Itnas lalu bergegas pergi meninggalkan semua orang menuju pintu kantor.
"Kau lewat mana tadi?" tanya Kana pada Leona.
"Kau juga aneh, mengapa malah bertanya tentang jalan?" protes Leona pada Kana.
"Itu penting kali aja dia kesambet dan kita harus memberikan sesajen di tempat ia kesambet tadi biar setannya pulang," jelas Kana.
"Alah jangan itu katanya musyrik," ucap Leona mengingatkan.
"Siapa juga yang akan melakukan orang aku hanya bercanda. Ayo masuk yuk aku sudah telat nih," ajak Kana pada Leona.
Leona mengangguk. "Ayo Gin ikut masuk kan?"
__ADS_1
"Iya Na, sekalian aku mau bertemu Vierdo," ucap Gino lalu menyusul Kana yang sudah berjalan terlebih dahulu.
"Kamu kapan nikah sama Leon?" tanya Gino pada Leona.
"Masih bulan depan Gin. Sebenarnya aku ke sini sekarang ingin memberikan undangan pernikahan juga buat rekan-rekan kerjaku di sini. Emang kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa sih, bareng nggak sama Wendi?"
"Kayaknya duluan pak Wendi deh."
"Oh, oke."
"Kamu kira-kira kapan mau melamar Kana secara resmi ke orang tuanya?"
"Nggak tahu nih, aku tunggu aja dulu, soalnya Kana kayaknya masih nggak begitu yakin deh sama aku. Mungkin butuh waktu dulu sebab aku tahu dia masih ada perasaan sama Wendi."
"Oke deh kalau begitu selamat berjuang ya Gin untuk mendapatkan hati Kana seutuhnya."
"Terima kasih ya Leona kalau bisa bantu aku juga ya untuk meyakinkan dia."
"Oke beres."
"Eh tuh Kana sudah masuk ke dalam buruan yuk!"
Gino mengangguk dan mempercepat langkahnya begitupun dengan Leona.
Bersambung.
__ADS_1