
Syahdu berjalan santai menuju ke kantin kantor dengan baby Athar yang masih anteng dalam gendongannya. Sesekali gadis itu menciumi pipi Athar lalu pura-pura mencubitnya karena gemas. Bukannya menangis bayi itu malah tersenyum dengan mulut yang menganga lebar membuat Syahdu semakin senang saja.
"Ini, nih Athar, bunyi nih." Syahdu menggerakkan mainan di tangannya sehingga berbunyi gemerincing. Bayi itu nampak senang dan tertawa-tawa lagi.
"Duh lucunya!" gumam Syahdu lalu menaiki tangga untuk sampai ke kantin.
"Kenapa Du, nangis ya dia?" tanya Thalita kemudian buru-buru untuk menghentikan makannya.
"Nggak Lit orang dia tertawa dari tadi masa dibilang nangis," protes Syahdu.
"Nggak soalnya kalau sama orang lain biasanya dia nggak betah lama-lama. Sama mama aja sebentar sudah nangis," terang Thalita.
"Itu mah karena mama berisik Sayang. Mama ngajak dia ngomong terus dan bicara selalu heboh kayak ngajak orang gelut. Bayi kita kan nggak suka suara berisik," ucap Juno.
"Mungkin saja sih Mas," ucap Thalita.
"Waduh Untung dari tadi saya nggak banyak ngomong," ucap Syahdu membuat Thalita dan Juno tersenyum ke arah Syahdu.
"Padahal Tante Syahdu aslinya cerewet loh Sayang," ucap Juno seolah bicara dengan bayinya itu.
"Nggak apa-apa deh demi baby Athar Tante jadi kalem, siapa tahu kamu jadi jodoh Tante," kelakar Syahdu lalu terkekeh.
"Enak saja, ya saya nggak setuju lah kalau dia sama kamu," ucap Juno juga bercanda lalu ikut tertawa.
"Nggak Sayang Tante nggak akan nunggu kamu kok karena kalau sampai Tante nunggu kamu, Tante akan lumutan," ucap Syahdu dan langsung tertawa terbahak-bahak.
"Sudah Lit lanjutkan makanmu, baby Athar anteng kok sana aku," ucap Syahdu lagi dijawab anggukan oleh Thalita dan wanita itu mulai makan kembali.
"Terimakasih ya Du."
"Sama-sama."
Mereka pun menyelesaikan makannya yang belum berakhir sedangkan Syahdu masih fokus dengan mengajak baby Athar bicara dan duduk di kursi kosong yang tidak jauh dari tempat teman-temannya duduk.
__ADS_1
Setelah selesai Thalita mengambil baby Athar dalam gendongan Syahdu.
"Sama mami aja ya gendongnya sekarang, sebab Tante Syahdu pasti sudah capek ngajak Athar jalan-jalan dari tadi," ucap Thalita.
"Nggak kok Lit nggak capek, aku malah senang," ucap Syahdu dan Thalita mengangguk lagi.
"Kamu beneran nggak mau makan Du?" tanya Thalita lagi barangkali Syahdu sudah berkenan untuk makan.
"Nggak deh biar aku makan roti saja nanti kebetulan yang aku bawa untuk sarapan tadi pagi masih banyak."
"Oke kalau begitu."
Mereka semua sudah selesai makan. Mereka semua tampak minum.
Setelah selesai semua orang yang bukan bekerja di kantor itu berpamitan untuk pulang.
"Kami pulang ya Om-Om dan Tante-Tante," ucap Juno menirukan suara anak kecil seakan mewakili putranya.
"Iya makasih ya Nas. Vier, Leon, Leona, Wendi dan Kana. Kamu juga Du, terimakasih ya atas waktu dan kebaikan kalian semua. Terima kasih juga atau traktiran makanannya. Lain kali boleh dong berkunjung ke kantorku biar aku yang tak traktir kalian semua."
"Sama-sama Jun," jawab mereka serentak.
"Ya sudah kalau begitu aku harus pergi dulu. Mau antarkan istri pulang dulu baru kembali ke kantor," pamit Juno.
"Wah semangat Jun dan hati-hati ya."
"Iya Mbak-mbak dan Mas-mas terima kasih ya semuanya." Thalita yang menjawab sedangkan Juno hanya mengangguk saja.
Setelah Thalita dan Juno pergi, sekarang giliran Leon yang pamit. Dengan menggandeng Leona pria itu mengajak Itnas untuk kembali ke kantor.
"Baik semuanya terima kasih atas makan siang dan waktunya juga karena hari ini aku sedang berbahagia maka semua makanan aku yang traktir saja," ucap Leon.
"Sudah nggak usah biar aku saja, ini kan kantorku kalau kantormu baru elo yang bayar," tolak Vierdo.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Vier aku yang bayar," ucap Leon lagi.
"Sudah kubilang biar aku saja kalau mau traktir lain kali saja biar saya hubungi teman-teman lagi agar mereka berkumpul lagi," tolak Vierdo.
"Baiklah sampaikan pada semuanya hari Minggu besok saya traktir semuanya di restoran yang berada di dekat kantorku saja," ucap Leon pasrah.
"Baiklah nanti aku sampaikan," ucap Vierdo kemudian.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita balik ke kantor Nas," ajak Leona dan dia berjalan keluar dari kantin dengan tangan yang masih menggenggam tangan Leona.
"Eh, eh mau apa tuh Leona dibawa-bawa kan dia kerja di sini," protes Vierdo.
"Hehe sorry lupa," ucap Leon nyengir kuda. "Abis terlalu bahagia bisa dapatin dia," sahut Leon.
"Cih lebay," ledek Vierdo.
"Gimana kalau tukaran lagi yuk!" ajak Leon.
"Eh enak saja dia harus ikut meeting besok. Kalau mau tukeran lagi sekalian Itnas di kembalikan ke perusahaan ini," pinta Vierdo.
"Eh jangan ding dia sangat dibutuhkan di perusahaanku," tolak Leon.
"Ya sudah, kalau begitu pergi tanpa Leona," pungkas Vierdo.
"Baiklah," ucap Leon pasrah lalu melepaskan genggaman tangannya di tangan Leona.
"Aku pergi dulu ya Na," pamit Leon pada Leona dijawab anggukan disertai senyuman dari Leona membuat Leon menjadi beku dan tidak mau beranjak dari tempat itu.
"Woi pergi woi sudah waktunya jam kerja," goda Vierdo.
"Oke-oke aku pergi dulu," ucap Leon kemudian melangkah pergi diiringi Itnas di belakangnya.
Bersambung.
__ADS_1