Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 73. Hari Pertunangan


__ADS_3

"Mau kemana mereka?" Itnas mengernyit heran sekaligus penasaran.


Bola mata mereka semua fokus memandang Leon dan Leona yang terus berjalan menjauhi mereka.


"Dasar aneh," ucap Vierdo kesal sebab Leon dan Leona seolah melewati meja mereka seperti orang yang tidak kenal saja.


"Awas ya, tuh orang," gumam Vierdo.


Leon naik ke sebuah panggung dengan terus menggenggam tangan Leona seolah takut gadis itu akan meninggalkan dirinya.


Vierdo dan semua


teman-temannya menganga sebab kaget karena ternyata di sudut ruangan tersebut ada sebuah panggung yang sudah dihias dengan gorden, lampu hias, dan bunga-bunga cantik sehingga kelihatan begitu indah. Ada sebuah kursi dan gitar di atas kursi tersebut.


Leon meraih gitar di atas kursi kemudian mempersilahkan Leona untuk duduk di sana. Setelah Leona duduk Leon menyambut kedatangan para tamu di restoran itu dengan ramah.


"Terima kasih untuk semua yang telah hadir di tempat ini. Untuk teman-temanku, Vierdo dan semuanya selamat datang dan selamat menikmati hidangannya." Terdengar suara Leon dari mikrofon.


"Dasar Leon bahkan kita belum memesan makanan karena menunggu kedatangannya," protes Vierdo sambil menepuk jidatnya. Semua orang yang duduk dalam satu meja bersama Vierdo hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Bagi semua karyawanku terimakasih juga telah meluangkan waktu liburnya untuk hadir di tempat ini. Nikmatilah hari ini dan hidangan yang ada dengan keluarga dan sahabat-sahabat terdekat kalian." Leon tampak menjeda ucapannya sebentar.


"Untuk menemani kalian menyantap hidangan, saya akan membawakan sebuah lagu spesial untuk kekasihku yang bernama I Gusti Ayu Leona dan semua yang hadir di tempat ini. Selamat menikmati."


Leon memetik gitar dan langsung mendapat tepuk tangan dari semua hadirin di tempat itu. Leon menyanyikan lagu romantis dengan penuh penghayatan membuat semua orang terpukau melihat dan mendengarnya. Bahkan orang-orang yang tadinya menikmati makanan berhenti sebentar hanya karena ingin fokus mendengarkannya Leon bernyanyi.


"Wah ternyata Pak Leon bisa nyanyi juga," ucap salah satu anak buah Leon di kantor.


"Iya ya, kenapa dia jadi hangat seperti itu padahal sebelum-sebelumnya dia dinginnya melebihi es di kutub utara," sambung karyawan yang lainnnya.


"Iya ya jadi romantis dadakan dia dan kenapa juga dia harus membawa Bu Leona ke atas panggung. Apa jangan-jangan mereka ada hubungan," tebak salah seorang karyawan Leon yang lainnnya.


"Ya iyalah apa kamu tidak mendengar tadi bahwa lagu yang Pak Leon bawakan spesial untuk Bu Leona," sahut yang lain.


"Oh iya ya, aku lupa," ucap karyawan tadi yang menebak-nebak sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Wah baru tahu aku kalau Leon bisa nyanyi," ucap Juno heran. Sebab saat kuliah dulu, Leon paling pantang kalau disuruh bernyanyi.

__ADS_1


"Iya Jun suaranya juga mantap sepertinya kamu kalah deh," goda Vierdo dan Juno mengangguk membenarkan.


"Mas Juno bisa nyanyi juga?" tanya Thalita penasaran.


"Wah kalau dia dulu mah memang suka menyanyi bahkan menyanyi menjadi andalannya untuk merayu kaum cewek-cewek di kampus, hahaha." Vierdo tertawa renyah setelah meledek Juno.


Thalita tampak cemberut sepertinya dia cemburu dengan masa lalu suaminya.


"Sayang jangan cemburu dong itu kan cuma masa lalu," protes Juno melihat raut wajah tidak enak dari Thalita.


"Sayangnya dia payah pas benar-benar suka sama cewek malah kicep, keahliannya dalam rayuan gombal terbang ke angkasa seketika, hahaha." Vierdo tertawa lagi.


"Dasar lo Vier demen banget sih meledak aku," ucap Juno kesal karena gara-gara Vierdo istrinya jadi terlihat masam.


"Playboy cap kacang dia," sambung Itnas membuat semua orang tertawa kecuali Thalita yang tampak melirik Juno.


"Sayang, jangan percaya dia ya," mohon Juno dengan wajah yang nampak memelas.


Thalita memalingkan muka bukan karena kesal, tetapi karena ingin menahan tawanya melihat wajah Juno yang terlihat khawatir, begitu lucu dan menggemaskan.


"Emang siapa sih Kak yang dia taksir dulu?" tanya Itnas penasaran.


Itnas menggeleng tidak tahu.


"Cewek itu teman dekat kamu, Gladis," ucap Vierdo.


Juno semakin membelalakkan matanya mendengar Vierdo blak-blakan mengungkapkan tentang dirinya di masa lalu. Alamat nanti dia tidak akan mendapat jatah dari Thalita karena wanita itu kesal dan cemburu.


Di saat Juno begitu panik Thalita hanya bisa tertawa dalam hati dan penampakan dirinya dibuat seperti orang kesal saja. Membuat Juno semakin merasa bersalah saja dan menyesal datang ke tempat itu.


"Gladis?" tanya Wendi ikut penasaran.


"Iya, kenapa? Kamu kenal?" tanya Vierdo penasaran.


Wendi hanya mengangguk.


"Sudah lupakan semuanya kita fokus ke Leon saja. Mau ngapain dia sekarang?" Vierdo mengakhiri pembicaraan tentang masa lalu Juno.

__ADS_1


Semua orang pun kembali menoleh pada Leon. Pria itu selesai bernyanyi dan berjongkok di depan kursi yang diduduki oleh Leona sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jasnya.


Sebuah kotak beludru berwarna merah maroon dibuka dan menampakkan sebuah cincin dari dalam sana.


Leon mencabut cincin dari dalam kotak itu dan berkata, "Will you marry me?" tanyanya dengan penuh harap.


Leona dengan wajah yang nampak malu-malu menjawab. "Aku mau menikah denganmu."


Sorak sorai dari semua yang hadir memenuhi ruangan. Wajah keduanya tampak memerah karena sama-sama menahan malu. Namun, Leon terpaksa melakukan ini semua agar ada kenangan yang indah diantara dirinya dan Leona yang akan diingat selalu saat mereka telah merajut hidup dalam pernikahan nantinya.


Leon tampak memasang cincin di jari manis Leona dan mengecupnya.


"So sweet banget sih." Syahdu meleleh melihat keromantisan keduanya sedangkan Kana melirik Wendi yang nampak biasa-biasa saja. Sepertinya pria itu tidak tertarik dengan apa yang dilihatnya.


Juno dan Thalita tampak baper. Mereka mengingat momen di mana dulu pernah melakukan hal yang sama seperti Leon dan Leona meskipun bukan di depan orang banyak dan tanpa musik. Namun, cukup terkesan di hati keduanya.


"Kak Vier mau dong dinyanyiin seperti itu." Itnas merajuk.


"Terima kasih Leona, my love. Terima kasih semuanya. Sebelum saya turun saya ingin memanggil teman saya untuk menyumbang lagu ...."


"Siapa?"


Semua orang yang ada dibawah menebak-nebak siapa yang dimaksud oleh Leon.


"Dia adalah ... Juno!" seru Leon dari atas panggung.


Semua orang bersorak-sorai sambil bertepuk tangan.


"Kepada Juno dipersilakan untuk naik ke atas panggung!"


Setelah mengatakan itu Leon menggenggam tangan Leona lagi dan menuntunnya untuk turun dari panggung.


Keduanya sekarang melangkah ke arah tempat duduk Vierdo dan teman-temannya.


"Sana Jun naik!" perintah Leon dan dirinya ikut duduk bersama yang lain.


"Keren," ucap Itnas, Syahdu, Thalita dan Kana secara bersamaan.

__ADS_1


"Kompak banget kalian," ucap Leon lalu terkekeh.


Bersambung.


__ADS_2