
Di sebuah perusahaan periklanan Vierdo duduk menghadap persiden direktur dengan membawa seorang sekretaris.
Ya kali ini Vierdo tidak datang sendiri melainkan bersama Lala, sang sekretaris.
"Ada apa?" tanya Leon dingin melihat Vierdo datang bersama seorang perempuan. Dalam pikiran Leon pasti ada yang tidak beres dengan kedatangan sahabatnya kali ini.
"Jangan dingin-dingin nanti kami beku," kelakar Vierdo.
"Vierdo ini waktunya bekerja bukan main-main. Kau lihat saja pekerjaanku menumpuk begini jadi aku benar-benar sibuk."
"Oke aku langsung saja ke pokok pembicaraan," ucap Vierdo.
"Oke, apa ada produk dari perusahaan kamu yang ingin kami buatkan iklannya? Bawa saja produk kami dan nanti akan memotretnya, kalau mau pakai artis spill saja maunya siapa agar pihak kami bisa langsung menghubungi artis tersebut dan menanyakan bisa atau tidak. Mau dikoran, majalah atau di televisi dan medsos. Mau dalam bentuk foto ataukah video?"
Sedang serius bertanya Vierdo malah menertawakan Leon.
"Ckk, kok ketawa sih? Kalau nggak ada yang penting mending balik sana ke kantormu," kesal Leon merasa dipermainkan.
"Yang mau bilang kita mau dibikinin iklan itu siapa?" protes Vierdo. "Memangnya aku bilang mau bicara tentang itu?" lanjut Vierdo.
"Katakan secepatnya aku tidak punya banyak waktu!"
"Aku hanya ingin kita tukaran sekretaris," ucap Leon.
"Apa?!" Sontak saja Leon kaget mendapat penawaran aneh dari Vierdo.
"Kamu masih waras kan?" Leon menempelkan tangannya di dahi Vierdo.
"Aku tidak sakit." Vierdo menepis tangan Leon dari dahinya.
__ADS_1
"Kupikir kau demam dan kelewat panas sehingga mengigau."
"Aku serius," ketus Vierdo.
"Lah atas dasar apa kamu mau melakukan itu?" tanya Leon heran.
"Atas dasar kenyamanan Leona bekerja. Dia tidak nyaman punya bos yang dingin dan acuh seperti dirimu."
Leon tidak menjawab tetapi nampak berpikir.
"Bagaimana, kamu mau? Kamu jangan khawatir, sebagai gantinya aku akan menempatkan sekretaris terbaik di tempatmu. Kurang baik bagaimana sih aku sama kamu?"
"Cih." Leon hanya berdecih.
"Kau tenang saja Lala ini sangat berkompeten di bidangnya. Bisa menyelesaikan tugas dengan begitu cepat. Aku yakin kalau kamu mau mempekerjakan dia di sini, pekerjaan yang menumpuk itu akan cepat terselesaikan," rayu Vierdo sambil menunjuk berkas-berkas yang tersusun tinggi di meja Leon.
"Kau pikir pekerjaan di kantormu sama dengan di kantor ini Vier?" protes Leon.
"Baiklah kalau kamu memaksa, tapi apa keduanya bersedia?"
"Saya bersedia Pak," jawab Lala dan Vierdo mengangguk.
"Oke bagaimana dengan Leona?" Sebentar saya panggil dia dulu."
Leon berjalan keluar ruangan.
"Leona sini!" panggil Leon dengan suara datar.
"Iya Pak," jawab Leona sambil berjalan mendekat.
__ADS_1
"Apa kau mau bekerja di perusahaan Vierdo?" tanya Leon setelah wanita itu sudah berdiri di depannya.
Leona menatap ke dalam ruangan, tampak Vierdo melambaikan tangannya sambil tersenyum dan mengangguk.
"Saya bisa bekerja di manapun Pak yang penting halal," sahut Leona.
"Baiklah kalau kamu bersedia. Silahkan masuk dulu!"
Leona mengangguk dan masuk ke dalam.
"Bagaimana sudah siap bekerja di kantorku?" tanya Vierdo pada Leona.
Leona menatap wajah Leon dengan perasaan tidak nyaman. Namun, dia menunduk dan mengangguk.
Leon pun melirik ke arah Leona. Mengapa rasanya begitu berat melepaskan sekretarisnya ini.
"Tuh dia juga mau," ucap Vierdo membuyarkan lamunan Leon.
"Baiklah kalau begitu, tapi ada syaratnya," ucap Leon.
"Apa itu?" tanya Vierdo penasaran.
"Kalau sekretarismu ini tidak bekerja dengan baik atau salah satu dari mereka tidak betah di tempat kerja baru maka harus ditukar kembali," ucap Leon.
Vierdo memandang keduanya yang sama-sama mengangguk mantap.
"Baik Deal." Vierdo mengangkat tangan dan menumpukan sikutnya di atas meja seperti orang yang mau ikut lomba panco.
"Oke deal," ucap Leon juga sambil menjabat tangan Vierdo seperti orang yang melakukan panco juga.
__ADS_1
Bersambung.