
"Aku ada dimana?" Saat ini Syahdu membuka mata dan melihat dirinya ada di sebuah ruangan sempit dan pengap, bahkan karena tidak adanya fentilasi udara di ruangan tersebut membuat Syahdu sesak nafas. pandangannya pun terbatas karena keadaan dalam ruangan tersebut gelap. Hanya ada sedikit sinar matahari yang menerobos melalui celah-celah genting yang mungkin saja akan bocor saat terkena air hujan.
"Aku diikat?" Gadis itu tampak mengingat-ingat kejadian yang menimpa dirinya sendiri hingga membawa tubuhnya kini berada di dalam sebuah ruangan yang sudah terlihat rapih dan tak berpenghuni.
"Oh iya rupanya tadi ada yang menculik ku. Mulai menyadari keadaan yang sebenarnya. Syahdu mencoba melepaskan ikatan tali yang telah mengikat tangan dan kakinya itu dengan cara menggesek-gesekkan tali melalui tangan maupun kaki.
"Hei jangan coba-coba kabur kamu!" bentak seseorang yang melihat Syahdu sedang berusaha untuk melepaskan ikatan yang membelenggu dirinya.
Syahdu seketika diam. Menatap pria kekar bertato di hadapannya dengan perasaan takut. Gadis itu panik seketika dan menangis.
"Diam jangan berbisik atau aku akan melukaimu," ancam pria bertato itu hingga membuat Syahdu diam kembali dan menahan tangisnya.
"Tidak, aku tidak boleh cengeng!" Syahdu menyemangati diri sendiri. Dia bukanlah wanita lemah dan cengeng selama ini. Kenapa sekarang hanya begini saja sampai membuatnya cengeng?
Sejenak Syahdu berpikir bagaimana caranya agar dapat terbebas dari tempat terkutuk ini.
Gadis ini pura-pura tertidur hingga bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga dirinya lelah dan juga lengah.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan gadis itu?" Terdengar suara wanita dari arah luar sana. Syahdu mencoba menyetel telinga dengan baik agar bisa mendengar pembicaraan di luar ruangan.
"Sepertinya gadis itu telah tertidur." Terdengar suara berat dari seorang laki-laki menjawab pertanyaan perempuan tersebut.
"Bagus kita tidak perlu melukainya. Gadis itu hanya kita gunakan untuk menjebak seseorang agar tidak konsentrasi dengan tugasnya yang kami curigai saat ini memata-matai aktifitas tim kita." Suara Wanita itu terdengar lagi.
"Siapa dia dan pria mana yang dia maksudkan? Apa hubungannya denganku?" Syahdu sama sekali tidak paham dengan apa yang kedua orang bicarakan di luar sana.
Syahdu mencoba membuka ikatan tangannya lagi sebab pria bertato tadi sepertinya masih fokus berbicara dengan seorang wanita di luar bangunan yang suaranya tidak dapat Syahdu tebak sama sekali.
Saat Syahdu sedang berusaha membebaskan diri terdengar bunyi ponsel dari arah luar sana. Syahdu tebak ponsel yang berbunyi itu adalah ponsel wanita itu.
"Tim kita sudah bergerak dan lelaki itu masih mengikuti kami semua. Pancing dia agar tidak fokus ke arah kami!" Terdengar perintah dengan nada tegas dari balik telepon.
"Baik akan segera kami laksanakan."
"Bagus."
__ADS_1
"San ambil ponsel gadis itu dan cari kontak yang bernama Fikran!"
"Baik Bos." Pria bertato itu langsung masuk ke dalam gudang lagi dan merampas tas Syahdu yang masih disandangkan dilehernya.
Syahdu dengan sekuat tenaga menerjang pria itu dengan kedua kakinya meskipun keduanya masih dengan posisi yang sama yakni diikat.
"Berani menerjang ku lagi mati kau," ancam pria itu.
"Aku tidak takut," ujar Syahdu dengan berteriak, tetapi suaranya tidak keluar sebab mulutnya disumpal dengan kain.
Syahdu menatap tajam pria bertato tersebut sebab telah berani mengacak-acak tasnya.
"Bagaimana ketemu ponselnya?" tanya wanita tadi yang hanya terdengar suaranya kini masuk ke dalam ruangan.
"Cepat cari kontak Fikran!"
Sontak saja Syahdu kaget mendengar nama pria itu disebut.
__ADS_1
Bersambung.