Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 119. Akhirnya Menang


__ADS_3

Sementara pertarungan antara Syahdu dan pria bertato yang dipanggil John tersebut terjadi, Fikran sadar bahwa ada orang yang berkelahi jauh dari tempat dirinya berdiri saat ini.


"Pak ada orang berkelahi di depan sana!" seru rekan kerja yang berdiri di sampingnya sambil menunjuk ke arah syahdu dan John yang sedang berkelahi.


"Iya ayo kita segera ke sana!" ajak Fikran lalu tanpa aba-aba berlari menuju ke arah Syahdu. pria yang diajaknya pun mengangguk dan ikut berlari menyusul Fikran.


"Syahdu!" Fikran terperangah melihat Syahdu yang begitu kuat melawan pria bertato yang dipanggil John itu. Kekuatan mereka hampir setara padahal Syahdu adalah perempuan yang terlihat begitu lemah selama ini. Ternyata penampilan dan sikap Syahdu membuat Fikran terkecoh dengan Syahdu yang sesungguhnya. Namun, tak mengapa ini justru menguntungkan bagi diri Fikran yang tugasnya memang memata-matai dan menangkap penjahat. Jadi, dia tidak perlu begitu khawatir dengan keselamatan Syahdu apabila nanti gadis itu menjadi istrinya. Syahdu adalah wanita yang bisa menjaga diri.


Fikran dan seorang temannya langsung menyerang pria bernama John itu sehingga mau tidak mau wanita yang menjadi bos dari pria bertato itu ikut dalam pertarungan.


Pertarungan 3 lawan 2 pun tidak bisa terelakkan hingga akhirnya kemenangan berada di pihak Syahdu ataupun Fikran.


"Fik terima kasih telah menolongku," ucap Syahdu. Meskipun Syahdu sendiri yakin dirinya bisa menaklukan pria bertato itu seorang diri. Namun, dia tidak boleh belagu. Bagaimanapun Fikran dan satu orang temannya itu telah menolongnya sehingga pertarungan menjadi lebih cepat dimenangkan oleh dirinya.


"Sama-sama, kamu tidak apa-apa kan? Tadi kenapa kamu sampai pingsan? Apa yang mereka lakukan terhadap dirimu?" tanya Fikran menghawatirkan keadaan Syahdu sebab yang dilihat melalui ponselnya tadi Syahdu sedang tidak berdaya dengan beberapa ikatan tali di tangan dan kakinya.


"Aku tidak apa-apa Fik, tadi aku hanya berpura-pura pingsan saja agar mereka lengah sehingga aku bisa melepaskan diri secepatnya dari sekapan mereka.

__ADS_1


"Wah bagus taktikmu," ujar Fikran.


"Biasa aja Fik, aku kan hanya ingin menyelamatkan diri takutnya kamu sedang sibuk dan tidak bisa menyelamatkan diriku. Aku tahu mereka tadi memancingmu untuk datang ke tempat ini dan maaf saya tidak bisa memberikan informasi kepadamu sebab ponselku dicuri olehnya," ujar Syahdu sambil memeriksa saku celana John yang sudah terbaring lemah di atas tanah dengan darah yang mengucur dari mulut dan hidungnya.


"Mereka memancing untuk datang kemari?" tanya Fikran tidak percaya. Dia pikir penjahat itu menculik Syahdu karena ingin meminta tebusan kepada dirinya.


"Ya, kamu melakukan penyelidikan apa tadi? Mereka mengecohmu sehingga penyelidikanmu teralihkan untuk menyelamatkan diriku. Sekarang lebih baik kau kembali secepatnya dan tuntaskan tugasmu, walaupun aku tidak tahu tugasmu apa yang sebenarnya."


"Jadi mereka adalah salah satu komplotan pengedar narkoba?" tanya Fikran tak percaya.


"Kau melakukan penangkapan terhadap penjahat narkoba?" tanya balik Syahdu.


"Itu pekerjaan bagus Fik, walaupun pekerjaan itu menentang bahaya, tapi pekerjaan tersebut adalah pekerjaan mulia," ujar Syahdu yang membuat Fikran bisa bernafas lega.


"Terima kasih atas semangatnya," ujar Fikran dengan senyum yang mengembang di bibir.


"Oh ya Fik ...." Syahdu mendekat ke arah Fikran dan membisikkan sesuatu. Dia tadi sempat mendengar taktik yang disebutkan oleh wanita yang penjahat tersebut agar aksi pengedaran narkobanya bisa lolos dari pengamatan polisi.

__ADS_1


Mendengar informasi yang diberikan Syahdu, Fikran langsung menelpon rekan-rekannya yang masih bertugas di tempat lain dan juga menelpon rekan-rekan lain untuk menjemput kedua penjahat yang sudah terkulai lemah di hadapan mereka saat ini.


"Kau tidak kembali Fik?" tanya Syahdu heran sebab Fikran belum beranjak juga dari tempatnya sekarang. Fikran malah duduk di tanah, di samping dirinya yang kini mengaktifkan ponselnya kembali.


"Sudah ada teman-teman yang menangani penangkapan mereka dan aku saat ini masih menunggu rekan-rekan yang lain untuk membawa kedua penjahat ini ke kantor polisi."


Syahdu hanya mengganggu mendengar penjelasan fikran dan persamaan dengan itu ponselnya langsung berbunyi. setelah diperiksa ternyata Itnas yang menelpon dirinya.


"Du, kau ada di mana sekarang? bundamu menanyakan dirimu tahu! keluyuran ke mana sih seharian ini? Katanya pusing nggak mau ikut kami semua jalan-jalan, eh nggak tahunya melancong ke mana-mana," protes Itnas dari balik telepon.


"Aku tadi sempat diculik Nas, tapi sekarang Fikran sudah berhasil menyelamatkan diriku," jelas Syahdu.


"Diculik?" Itnas terperangah mendengar pengakuan dari Syahdu.


"Kau tidak apa-apa kan Du?" tanya Itnas khawatir.


"Kalau aku kenapa-kenapa ya nggak mungkin sekarang bisa menghubungi elo Nas," jawab Syahdu lalu tertawa cekikikan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2