
"Nas ada polisi yang masuk kamar rawat Yudha," lapornya pada Itnas setelah sampai di depan pintu.
"Serius kamu Jun?" tanya Thalita kaget.
"Sepertinya ia sih Nas, masa aku salah kamar sih?"
"Mungkin keberadaan Mas Yudha di rumah sakit memang sudah terdeteksi oleh polisi. Ya sudah aku ke kamar Mas Yudha dulu ya Jun. Kak Vier mau ikut nggak?"
"Ikut," jawab Vierdo sambil memberikan bayi dalam gendongannya pada bibi dan dirinya menyusul Itnas keluar.
Juno mendekati Thalita dan duduk di sampingnya. "Kenapa dengan Yudha Mas?" tanya Thalita agar lebih jelas. Mungkin yang di dengarnya tadi hanyalah salah dengar saja.
"Dia ditangkap polisi," jawab Juno. "Kamu mau melihatnya?"
Thalita menggeleng. "Buat apa?" Suaranya terdengar datar.
"Aku tidak ingin melihatnya lagi bahkan meski bayi ini putranya sekalipun," imbuhnya.
Juno mengelus-elus bahu Thalita untuk menyalurkan ketenangan. Juno tahu pasti Thalita akan sakit hati mengingat perlakuan Yudha pada Thalita sebelumnya.
"Atas dasar apa polisi menangkapnya?" tanya Thalita meski benci dengan pria itu tetapi, dia penasaran juga apa yang membuat pria itu harus mendekam di penjara.
"Mungkin atas penculikan Om Husein waktu itu, juga penembakan atas dirimu beberapa hari yang lalu." Juno hanya menebak-nebak.
"Katakan juga pada polisi dia harus dihukum karena penganiayaan terhadap aku dan putraku saat berada dalam kandungan." Thalita berkata dengan mata yang sudah nampak berembun. Tak sanggup lagi membayangkan saat-saat dirinya selalu dipukuli oleh Yudha padahal dalam keadaan sedang hamil.
"Katakan juga dia harus dikenakan pasal IT karena telah menyebar video laknat itu," tambah Thalita dan kini air matanya menetes sudah.
"Sudah-sudah jangan diingat semua itu. Biarkan saja hanya menjadi masa lalu yang tidak akan pernah bisa merusak masa depan kita. Kita dijadikan saja masa lalu itu sebagai pelajaran bagi kita agar tidak pernah mengulang kesalahan yang sama lagi. Jadikan sebagai pedoman bagaimana kita seharusnya mendidik anak-anak kita ke depannya jangan sampai mereka tergelincir ke jurang kelam seperti kita berdua," ucap Juno sambil mendekap erat tubuh Thalita dan membelai rambut wanitanya itu.
Thalita hanya mengangguk dan berusaha mengusap air matanya yang semakin deras saja mengalir. Bersamaan dengan itu dokter datang.
"Selamat pagi, maaf mengganggu. Berhubung kalian ingin melakukan tes DNA untuk bayi kalian, maka saya ke sini untuk mengambil sampel dari Pak Juno beserta bayinya."
"Baik Dok, silahkan ambil sampel saya dan putra saya," ucap Juno mempersilahkan dokter untuk bertugas.
"Mau pakai sampel apa?" tanya dokter lagi. "Rambut, kuku atau darah?"
"Jangan darah Dok kasihan putraku masa baru lahir harus diambil darahnya." Juno merasa tidak tega jika dokter mengambil darah putranya.
"Kalau begitu rambut saja ya, saya lihat rambut bayinya sudah lebat." Dokter mengambil keputusan melihat bayi Juno memang sudah ada rambutnya sejak lahir.
__ADS_1
"Iya Dok kalau begitu saya setuju," ucap Juno.
"Saya juga," timpal Thalita.
"Baik kalau begitu. Sus, silahkan diambil sampelnya!" perintah dokter pada suster yang ikut bersamanya.
"Baik Dok." Setelah meminta izin pada Thalita suster itupun melakukan tugasnya. Menggunting rambut bayi Thalita dan memasukkan pada sebuah wadah dan menutupnya. Kemudian beranjak pada Juno.
"Maaf ya Pak rambut Bapak akan saya gunting sedikit." Suster meminta izin sebelum menggunting rambut Juno.
"Silahkan Sus, tapi sebaiknya saya duduk dulu ya biar suster bisa dengan mudah mengambil rambut saya," ucap Juno sambil
duduk.
"Ide bagus Pak," jawab suster tersebut dan Juno hanya mengangguk. Suster itupun mengambil rambut Juno dan meletakkan pada wadah yang lain.
Setelah mengambil sampel dokter dan suster pamit keluar.
"Terima kasih, nanti tunggu beberapa hari untuk mendapatkan hasilnya," ucap dokter.
"Iya Dok. Oh iya agar lebih mudah sebaiknya dokter menghubungi saya langsung kalau hasilnya sudah siap," ucap Juno.
"Boleh, berikan nomor telepon Bapak biar nanti saya akan menghubungi Bapak langsung kalau hasilnya sudah ada."
Dokter itu pun meraih kartu nama yang disodorkan Juno lala pamit pergi begitupun dengan suster.
Setelah dokter pergi Itnas berjalan dengan tergopoh-gopoh mendekat ke arah Thalita.
"Ada Mbak Nas?" Thalita tahu Itnas ingin menyampaikan sesuatu padanya.
"Mas Yudha ingat bertemu kamu," ucap Itnas.
"Buat apa? Aku sudah tidak ada urusan sama dia," jawab Thalita.
"Please temui dia. Dia hanya ingin meminta maaf padamu."
"Thalia tidak menjawab pertanyaan Itnas dan Juno pun hanya dian. Dia tidak mau memaksa Thalita karena paham calon istrinya ini tidak mau menemui pria itu.
"Ayolah Lit!" mohon Itnas.
Thalita menggeleng. "Kalau dia yang membutuhkan aku kenapa tidak dia yang ke sini?"
__ADS_1
Bersamaan dengan pertanyaan Thalita, dari balik pintu terlihat Yudha yang sudah diborgol dan didampingi oleh dua orang polisi masuk ke dalam.
Yudha segera berlari ke arah Thalita dan bersimpuh di kakinya.
"Lit maafkan aku ya," mohon Yudha dengan ekspresi memelas sedang Thalita malah melihat ke arah lain. Dia tidak mau menatap Yudha.
"Lit aku tahu dosaku besar padamu, maka aku mohon ampuni aku."
"Minta ampunnya sama Tuhan jangan sama aku," sahut Thalita masih tidak mau menatap ke arah Yudha.
"Itu pasti, tetapi Tuhan tidak akan memaafkan hambanya kalau orang yang telah aku siksa belum bisa memaafkan," sesal Yudha.
"Maka kumohon maafkan aku dan sebelum pergi aku ingin melihat anakmu dulu, boleh ya!"
Thalita tidak menjawab. Yudha mendekati bibi dan menatap ke arah bayi dalam dekapannya. "Maafkan ayah ya selalu menyiksa dirimu. Ayah khilaf, maafkan ayah."
"Boleh aku mencium pipinya?" tanya Yudha lagi pada Thalita. Thalita tidak menjawab.
Yudha menatap Juno untuk meminta izin. Juno yang paham pun mengangguk.
"Terima kasih," ucap Yudha dan langsung mencium pipi mungil itu. "Baik-baik ya sama mama kamu," ucap Yudha lagi sambil menitikkan air mata. Dia merasa bersalah telah menyiksa bayi ini sejak dalam perut hanya karena membenci ayah biologis bayi ini. Dari semua orang Yudha lah yang pertama kali tahu bahwa bayi ini memang bukan putranya melainkan putra Juno. Mantan sahabat dan musuh besarnya.
"Jun maafkan aku juga ya, sekarang aku harus mempertanggung jawabkan semua kesalahanku di masa lalu. Kuharap kau bisa memaafkan aku atas perlakuanku padamu dan juga Thalita. Berikan dia kebahagiaan yang tidak bisa aku berikan," ujar Yudha panjang lebar pada Juno.
"Pasti aku akan selalu membuatnya merasa aman bersamaku dan akan selalu berusaha membahagiakannya," ucap Juno.
"Maafkan aku ya," ucap Yudha sekali lagi.
"Baiklah aku maafkan," jawab Juno sambil menepuk bahu Yudha. Perkataan Juno yang begitu gampang memaafkan Yudha membuat Thalita menoleh.
"Mas!" protes Thalita.
"Berikan dia kesempatan untuk memperbaiki diri. Jangan tambah beban dia dalam penjara nanti karena selalu memikirkan kita yang tidak bisa memaafkannya," nasehat Juno dan Thalita pun mengangguk.
"Dan aku pun minta padamu hapus video ranjangmu dengan Thalita waktu dulu agar tidak ada yang bisa menyebarkan lagi." Kini Juno beralih bicara pada Yudha.
"Video apa maksudmu?" tanya Yudha heran.
"Video syur," jawab Juno kesal. Dia benci mengingat Yudha pernah memberikan obat dan meniduri Thalita. Bagi Juno cara Yudha itu adalah cara pria pecundang.
"Aku tidak pernah merekam apapun apalagi video pribadi seperti itu," jawab Yudha jujur.
__ADS_1
"Bohong, kamu bohong kan?" tanya Thalita dengan suara yang keras.
Bersambung.