
Setelah penyelidikannya gagal bersama fikran akhirnya Itnas memutuskan untuk menyelidiki sendiri bagaimana diri Yudha yang sebenarnya. Dari penyelidikan yang dia lakukan sendiri dia bisa menyimpulkan bahwa Yudha adalah seorang pemain wanita dan pengedar obat-obatan terlarang sekaligus. Untuk itu Itnas memutuskan untuk bercerai dengan Yudha sebelum akhirnya melaporkan ke kantor polisi.
Namun, sepertinya keputusan harus ditunda dulu tatkala Thalita menghampiri kediamannya dan meminta Itnas untuk membantu Thalita agar terlepas dari Yudha dan mengurus surat perceraian mereka. Thalita mengatakan kepada Itnas bahwa dia sudah menyerah dengan rumah tangganya karena bukan kebahagiaan yang dia dapat melainkan siksa setiap hari. Baginya tidak apa kalau dirinya tersiksa tapi yang dia takutkan Yudha juga akan mencelakai bayi dalam kandungannya.
"Mbak maafkan aku ya karena aku telah hadir dalam kehidupan rumah tangga Mbak, dan Thalita mohon bantu Thalita untuk lepas dari Mas Yudha. Thalita ingin bercerai darinya Mbak karena sudah tidak kuat menghadapi sikapnya yang kejam dan arogan setiap hari." Begitulah penuturan Thalita pada Itnas hari itu.
"Apakah kamu yakin Thalita?"
"Aku yakin Mbak karena sebenarnya aku sudah tahu bahwa Mas Yudha tidak mencintaiku lagi. Awalnya aku pikir dia menerimaku karena anak dalam kandunganku ini, tetapi ternyata aku salah dia menerimaku hanya karena ingin balas dendam dan menyakitiku karena telah berani berhubungan dengan Mas Juno. Walaupun aku tidak tahu apa hubungan antara keduanya tapi itulah alasan kemarahannya setiap kali menyiksaku. Untuk itu mulai hari ini aku kembalikan Mas Yudha seutuhnya pada Mbak. Semoga keputusanku ini bisa mengembalikan kebahagiaan rumah tangga Mbak bersama Mas Yudha."
"Kamu salah Thalita ada ataupun tidak dirimu dalam rumah tangga kami semua tidak ada bedanya," batin Itnas.
"Baiklah kalau tekadmu sudah bulat aku akan membantumu mengurus surat perceraian kamu dan akan mengirimkannya ke alamatmu nanti, boleh aku tahu kamu setelah ini akan tinggal di mana?"
"Setelah ini aku akan pulang ke kampung halamanku Mbak ini alamatnya, Mbak bisa mengirimkan surat itu nanti ke alamat ini dan biayanya nanti aku akan transfer ke rekening Mbak."
"Jangan pikirkan masalah biaya biar aku yang tanggung semuanya kamu tinggal terima beres saja," ucap Itnas karena merasa terenyuh dengan kehidupan Thalita. Dia tahu wanita itu sangat menderita selama ini.
"Terus bagaimana dengan kehidupan anak kamu nantinya?" tanya Itnas lebih lanjut.
"Biarlah Mbak aku besarkan sendiri, lebih baik anak ini tidak memiliki seorang ayah ketimbang dia punya ayah tapi bisa mencelakai hidupnya."
"Iya, Mbak mengerti semoga hidupmu di kampung nanti akan bahagia ya! Dan kau menemukan jodoh yang menyayangimu dan juga anakmu."
"Amin. Terima kasih Mbak kalau begitu aku pamit dulu!"
"Eh tunggu Thalita ini buat kamu dan anakmu ya, semoga bisa meringankan beban hidupmu," ucap Itnas sambil menyodorkan setumpuk uang di tangannya. sebenarnya Thalita sangat tidak ingin menerimanya, tapi bagaimanapun dia membutuhkan uang itu paling tidak dengan uang itu dia bisa membuka usaha di kampung untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dengan terpaksa dia menerima pemberian Itnas tersebut dengan berjanji dalam hati suatu saat apabila dia telah sukses dia akan mengembalikan uang itu kepada Itnas.
"Terima kasih Mbak semoga Tuhan yang akan membalas kebaikan Mbak nantinya."
__ADS_1
Itnas hanya mengangguk.
Setelah Thalita pergi Itnas merenungi nasibnya sendiri. Ternyata nasibnya masih mending ketimbang nasib Thalita. Yudha memang tidak pernah mau menyentuhnya entah apa sebabnya tapi paling tidak dia tidak pernah disiksa oleh Yudha. Sedangkan Talita sudah dibuat hamil malah disiksa lahir batin.
Setelah berpamitan pada Itnas kini Thalita pergi ke kampung, ke rumah bibinya. Dia sengaja tidak mau pergi ke rumah ayahnya karena tidak ingin bertemu ibu tirinya yang akan bertanya macam-macam tentang kehamilannya.
Kehadirannya di kampung halaman disambut baik oleh bibi dan adik sepupunya, Fadil.
"Kau sudah hamil Nak mana suamimu?" tanya bibinya. Bibi dan Fadil tahu Thalita sudah menikah karena yang menjadi wali waktu itu adalah Fadil karena adiknya sendiri tidak mau menjadi wali karena tidak dibayar.
"Sudah Bik tapi sebentar lagi kami akan bercerai," jawab Thalita datar.
"Perceraian? Dalam keadaan hamil seperti itu?"
"Iya Bik Thalita sudah tidak kuat karena dia suka main pukul dan menyiksa Thalita setiap hari."
Mendengar perkataan Thalita bibi segera memeluk keponakan suaminya itu sambil menangis. "Kalau memang itu yang terbaik buat kamu Nak lakukanlah!" ujar bibinya itu.
Thalita pun tidak enggan ke dapur meski dirinya dalam keadaan hamil. Dia begitu bersemangat mengelola warungnya dan berharap suatu saat warungnya akan berkembang menjadi tempat makan yang layak.
Usaha yang sungguh-sungguh akhirnya membuahkan hasil. Karena dekat dengan pabrik warungnya berkembang pesat. Tidak hanya berbelanja kebutuhan pokok di sana para karyawan di pabrik itu juga sering makan pagi ataupun makan siang di sana. Menu yang beragam dan enak serta harga yang terjangkau membuat warungnya menjadi terkenal di kalangan para buruh di sekitar tempat itu.
Setelah sampai tiga bulan perkembangan warungnya bertambah pesat. Kini Thalita sudah membangun warungnya menjadi dua bagian. Bagian yang pertama menjadi depot sedangkan bangunan yang disampingnya digunakan untuk menjual sembako.
"Alhamdulillah ini rezeki kamu sayang dan kamulah yang selama ini menjadi penguat ibu." Bicara sambil mengelus-elus perutnya.
"Sekarang ibu tinggal menabung untuk mengembalikan uang tante Itnas dan om Juno," lanjutnya.
"Kak!" panggil Fadil dari luar.
__ADS_1
"Iya Fa ada apa?"
"Mbak tahu hasil hari dagangan kita hari ini berapa?" Thalita menggeleng.
"Ini Kak," ucapnya sambil menunjukkan segepok uang pada Thalita.
"Aaaa, banyak banget Fa," ucapnya dengan mata yang berbinar.
"Kalau tiap hari banyak seperti itu aku bisa dengan cepat
mengembalikan modalnya dan meyerahkan pada Mbak Itnas."
"Ia Kak semoga terus lancar ya usaha kita biar modalnya cepat kembali."
"Iya Fa kita berdoa aja ya biar Tuhan selalu memberikan rezeki pada kita semua."
"Iya Kak, amin."
Tapi bagaimana dengan surat perceraianku ya, apakah sudah diurus oleh Mbak Itnas?
"Kakak lagi memikirkan apa?" tanya Fadil yang melihat Thalita tiba-tiba merenung dan menjadi sedih.
"Ah nggak Kakak cuma memikirkan perceraianku dengan Mas Yudha apakah sudah diurus sama Mbak Itnas soalnya kakak kan minta tolong dia untuk mengurus semuanya."
"Mungkin sudah Kak cuma Mbak Itnas nya mungkin belum ada waktu untuk ke sini. Kenapa Kakak nggak coba telepon aja?"
"Ah itu dia kakak lupa menanyakan nomor teleponnya. Kalau besok Mbak Itnas belum ke sini juga lusa kakak ke kota ya?"
"Iya Kak."
__ADS_1
Bersambung....