Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 88. Makan Bersama


__ADS_3

Puas bermain ski di atas salju buatan itu sambil kejar-kejaran mereka menghentikan aksi permainan mereka.


"Udahan yuk Gin," ajak Kana.


"Oke Yuk."


Setelah melepas jaket dan peralatan lainnya lalu mengembalikan alat-alat bermainnya Gino langsung mengajak Kana keliling-keliling mall.


"Belum capek, kan?"


"Nggak capek kok malah seru."


"Kok minta berhenti tadi kalau seru?" protes Gino.


"Hmm, kenapa ya?" Kana tampak berpikir. "Takutnya kamu yang capek. Bukankah lusa sudah mau pergi? Kenapa tidak istirahat ataupun menyiapkan diri saja?"


"Kalau aku capek sudah biasa Kan, jadi mau berangkat sekarang juga nggak masalah."


"Stamina terjaga ya?"


"Harus Kan, kita makan dulu yuk! Kena hawa dingin perutku jadi lapar kembali."


Kana hanya mengangguk sebab dirinya sama saja dengan Gino, lapar lagi.


Mereka pun berhenti di salah satu restoran yang masih berada di dalam mall tersebut.


"Mau pesan apa?" tanya Gino pada Kana.


"Samain aja deh Gin."


"Oke."


"Mas pesan nasi sama ... eh soup buntut kamu mau?" tanya Gino sebelum melanjutkan pesanannya.

__ADS_1


"Ih, nggak lah aku nggak suka sama makanan yang begituan." Kana terlihat jijik dengan menu masakan itu dan Gino malah tersenyum dengan ekspresi Kana.


"Ayam bakar madu mau?" tanya Gino lagi agar pesanannya cocok dengan selera Kana.


"Hmm, apa yang saya pengen sekarang ya? Ramen aja deh, aku lagi pengen makan yang begituan." Setelah penuh pertimbangan akhirnya pilihannya jatuh pada jenis makanan mie kuah Jepang.


"Oke, nggak ada lagi Kan?"


"Nggak ada Gin itu aja sudah kenyang."


"Oke yang tadi tetap jadi ya nasi sama soup buntutnya ditambah ramen satu mangkok."


"Oke Mas, ditunggu ya." Setelah mengatakan itu pelayanan tersebut langsung bergegas pergi.


Beberapa saat kemudian pelayan itu datang dengan membawa pesanan Gino dan juga Kana. setelah itu menata makanan tersebut di atas meja dan mempersilahkan keduanya untuk makan setelah siap.


"Oke makasih ya Mas," ucap Kana dan Gino hampir bersamaan.


"Sama-sama Mas, Mbak, kalau begitu saya permisi dulu ya. Kalau ada yang kurang atau mau pesan yang lain lagi panggil saya saja atau bisa dengan teman saya."


"Sama-sama." Pelayan tersebut langsung melenggang pergi.


"Ayo Kan dimakan mumpung masih hangat."


"Panas Gin bukan hangat," sanggah Kana.


"Ah iya tapi kan cocok habis main yang dingin-dingin kita langsung beralih ke yang panas-panas." Gino terkekeh. Seorang pria yang ada di meja di samping Kana dan Gino duduk mengernyit. Sepertinya pria itu gagal paham mengartikan perkataan Gino.


"Yang ada lidahku nanti panas dalam," protes Kana sambil meniup-niup ramen di tangannya.


"Oh yang panas makanan berarti hadeh, otakku kok jadi ngeres." Pria yang berburuk sangka tadi hanya bisa menepuk jidatnya sendiri.


Tidak ada yang bicara lagi diantara keduanya karena masing-masing dari mereka fokus dengan makanannya sendiri-sendiri. tidak membutuhkan waktu lama keduanya sudah menyelesaikan makannya.

__ADS_1


"Mau nambah lagi?" Gino menawarkan mungkin saja Kana masih lapar.


"Nggak Gin aku sudah kenyang lebih baik sekarang kau antarkan aku pulang saja."


"Oke."


"Mas minta bill-nya dong!" seru Gino sambil melambaikan tangan ke arah seorang pelayan dan pelayan itu langsung menghampiri meja Gino dan Kana.


Setelah membayar Gino dan Kana langsung bergegas meninggalkan mall tersebut.


"Nggak mampir ke mana lagi?" tanya Gino saat mereka sudah berada di dalam mobil.


nggak kan langsung pulang aja ya


"Oke siap." Gino langsung tancap gas dan mengantar Kana hingga ke depan pagar rumahnya.


"Mampir dulu?"


"Lain kali aja ya Kan, sekarang aku langsung pulang aja," tolak Gino.


"Oke bye bye."


"Bye."


"Hati-hati di jalan Gin!"


"Iya Kan kamu juga hati-hati di rumah ya, dan jangan sedih sedih lagi kalau butuh sesuatu telepon aku saja ya sebelum aku berangkat ke Turki."


"Oke Gino."


Gino langsung masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan ke arah Kana. Kana pun membalas lambaian tangan Gino dan setelah mobil Gino hilang dari pandangan mata dia pun bergegas masuk ke dalam pintu pagar rumahnya.


"Mengapa aku berat Kan berpisah denganmu walaupun hanya untuk sementara saja," gumam Gino disela-sela menyetirnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2