
Setelah semua teman-temannya mengucapkan kata selamat, kini Wendi beralih menyambut para kerabat dan rekan-rekan kerjanya yang lain sedangkan semua orang yang telah mengucapkan selamat kini dipersilahkan untuk menyantap hidangan prasmanan yang telah di sediakan oleh WO yang sudah dibooking oleh Wendi.
Seperti biasa para sahabat Vierdo berkumpul di meja yang sama sambil menikmati makanan berat.
"Abis Wendi, menyusul Kana sama Gino," ujar Vierdo sambil mengunyah makanannya.
"Amin," ucap Gino mengaminkan ucapan Vierdo sedangkan Kana hanya tersenyum tipis.
"Leon gimana persiapannya masa kalah sama Wendi?" Vierdo menggoda Leon dan Leona sebab pernikahan mereka malah sampai dilangkahi dirinya dan juga Wendi padahal rencananya Leon yang ingin menikah terlebih dahulu diantara mereka berdua.
"Biarkan saja, kita mah santai-santai aja ya Na, yang penting pernikahan kita nanti sakinah mawadah warahmah iya nggak Na?"
Leona hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah Leon dan Vierdo.
"Iya padahal mereka kan yang dapat bunga yang dilemparkan di hari pernikahan Juno dan Thalita," protes Syahdu.
"Jangan percaya dengan hal itu Du, itu hanya seru-seruan saja," protes Leon pada Syahdu. "Jangan sampai dijadikan kepercayaan, syirik jatuhnya nanti," imbuhnya.
"Oke, nggak kok," ucap Syahdu. "Bercanda doang," tambahnya.
"Oh ya Du, mau nggak aku kenalkan dengan teman aku?" tanya Leon kemudian.
"Ciee, Leon mau menjodohkan Syahdu dengan sahabatnya deh kayanya," goda Itnas.
"Nggak juga sih mau ngenalin aja tapi kalau cocok siapa tahu jodoh," sanggah Leon akan perkataan Itnas.
"Tapi kalau memang orangnya baik aku setuju kok kalau kamu mau menjodohkan mereka," ujar Itnas kemudian.
"Ya kalau menurut aku sih orangnya baik cuma belum tentu baik juga menurut Syahdu. Intinya aku mau ngenalin mereka aja," jelas Leon.
"Siapa? Sepupu kamu?" tanya Leona berbisik di telinga Leon.
Leon menjawab dengan anggukan.
"Cih mentang-mentang aku jomblo malah main mau dijodoh-jodohkan," protes Syahdu cemberut kemudian tertawa sendiri.
__ADS_1
"Bukan gitu Du, kebetulan ada sepupu aku tuh katanya pernah lihat kamu. Pas aku bilang kalau aku kenal sama kamu dia minta supaya aku kenalin dia sama kamu," jelas Leon agar Syahdu tidak salah paham.
"Santai aja lagi Leon, aku kan cuma bercanda," ujar Syahdu. "Serius amat tuh muka," tambahnya.
Leon hanya terkekeh sendiri. "Lagian aku kan sudah ada janji sama kamu buat nyariin jodoh," ucap Leon lagi.
"Oh iya ya." Kini giliran Syahdu yang terkekeh.
"Jadi kapan bisa ketemuan sama sepupu aku?"
"Kau serius?" tanya Syahdu tidak percaya.
"Iyalah masa bohong, kapan aku pernah mengerjai orang atau PHP-in orang lain. Kalau Vierdo sih iya." Leon terkekeh lagi.
"Elah aku kena," protes Vierdo.
"Iyalah wong kamu php-in Kana. Katanya mau jodohin dia dengan Wendi, eh nyatanya malah jodohin Wendi ama cewek lain."
"Jodoh itu di tangan Tuhan Leon bukan di tanganku. Kau tahu saat aku berjanji untuk mendekatkan Kana dengan Wendi ternyata si Wendi sudah pendekatan pada Gladis."
"Cih kok sok tahu sih? Aku nih diceritain oleh Papa. Nih gara-gara dia nih," ucap Vierdo sambil mengusap manja rambut Itnas.
"Loh-loh kok sekarang aku malah yang dibawa-bawa." Sekarang Itnas yang protes.
"Lah kan iya, dulu kamu kan yang meminta tolong papa untuk menangani masalah Gladis dengan Regan, kan?"
Ingatan Itnas melayang ke beberapa tahun lalu. Dia ingat saat menangis di kantor dan Pak Husein meminta dia untuk jujur dengan masalahnya. Mau tidak mau Itnas menceritakan kejadian yang menimpa sahabatnya itu dan juga menceritakan sikap bundanya Gladis yang tidak memperbolehkan Itnas untuk bertemu putrinya lagi pasca kejadian di club yang membuat hati Gladis terguncang dan malah menyisakan trauma berat.
"Kamu benar, tapi apa hubungannya dengan Wendi?" tanya Itnas tidak mengerti.
"Kau tahu? Papa tidak menangani masalah itu sendiri, tetapi menyerahkan semuanya kepada Wendi untuk menuntaskan kasus tersebut. Ya saat itu Wendi bukan hanya ditugaskan untuk mencari bukti dan memasukkan Regan ke dalam penjara. Namun, papa juga meminta Wendi agar pria itu mencari jalan keluar untuk membuat Gladis menjadi hidup normal kembali, sebab setelah kejadian itu katanya Gladis suka takut melihat laki-laki, bahkan kadang wanita itu berteriak-teriak hanya karena melihat seorang lelaki yang melintas di hadapannya."
"Wah ngeri banget ya," ucap Syahdu mengingat cerita Vierdo.
"Ya begitulah. Kebanyakan kasus pemerkosan menyisakan trauma pada korbannya, bahkan ada sampai stres ataupun gila karena teramat malu dan tak terima dengan perilaku tersangka. Terkadang kalau si korban luput dari pengawasan bisa nekat membunuh si pelaku atau lebih parahnya lagi bunuh diri."
__ADS_1
Semua orang mengangguk membenarkan mendengar cerita Vierdo.
"Karena terbiasa menangani Gladis Wendi menjadi kasihan sama Gladis. Dia selalu mendekati Gladis agar wanita itu tidak takut lagi sama laki-laki. Wendi mendekati Gladis karena ingin wanita itu tidak menganggap laki-laki itu sama dengan menunjukkan sikap yang baik padanya. Lama kelamaan Wendi terjebak sendiri lambat-laun dia mulai menyukai Gladis dan Gladis sendiri seolah bergantung pada Wendi." Vierdo menarik nafas panjang saat mengakhiri ceritanya.
"Maaf ya Kan, aku tidak mungkin meminta Wendi untuk meninggalkan Gladis sebab kalau itu terjadi maka kepercayaan Gladis terhadap seorang pria akan pudar kembali," mohon Vierdo pada Kana.
"Tidak usah dipikirkan Pak, saya baik-baik saja," ujar Kana.
"Iya baik-baik saja karena ada Gino, kalau tidak saya tidak yakin sekarang kamu ada di sini. Bisa-bisa kamu sudah ada di akhirat karena bunuh diri," sambung Leon lalu tertawa renyah.
"Enggak lah Pak Leon," ucap Kana tegas. Laki-laki banyak kok di dunia ini ngapain bunuh diri belum ngerasain enaknya nikah juga," sanggah Kana.
"Sudah buruan nikah ma Gino saja," suruh Syahdu pada Kana.
"Tenang Du, nanti kamu pasti kami undang," ujar Gino.
"Aku mau nikah kalau kamu sudah ada pasangan," goda Kana.
"Benar ya, tunggu aku biar nggak selalu menghadiri pernikahan dengan jomblo sendiri," ucap Syahdu lalu terkekeh.
"Kana memandang wajah Gino seolah ingin meminta pendapat pria itu.
"Boleh," sahut Gino.
"Kalian dari tadi ngomong apaan sih?" protes Juno sebab kebanyakan dari mereka lebih fokus berbicara daripada makan.
"Makanya jangan makan aja Jun, dengerin kabar-kabari dong," protes Itnas.
"Yang namanya makan ya harus makan Nas masa berbicara. Kalian sekolah tinggi-tinggi kok nggak tahu adat makan sih." Sebab diprotes Juno jadi balik protes.
"Sudah makan sana baru lanjut ngobrol lagi," saran Juno.
"Baik Pak ustadz," ucap Syahdu lalu tertawa.
"Awas ada lalat masuk mulut nanti nyampur ama nasi jadi lauk," ucap Juno pada Syahdu membuat Syahdu jadi langsung diam dan fokus mengunyah makanannya.
__ADS_1
Bersambung.