Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 125. Pernikahan Dan Hari Persalinan Yang Sama (Tamat)


__ADS_3

"Ya ampun Du kenapa tanggal nikahmu sama ya dengan Kana," ucap Talita dengan terkaget-kaget.


Itnas langsung merampas undangan dari tangan Thalita. Wanita itu juga melongo melihat kertas undangan di tangannya sendiri. "Gila terus kita harus menghadiri pernikahan siapa?" Itnas jadi pusing sendiri.


"Haruskah kita giliran datangnya?" tanya Thalita lagi.


"Giliran sih iya cuma waktu ijabnya nih jam dan harinya sama. Haruskah aku dan Kak Vier menemani Kana dan Gino pas ijab dan kamu sama Juno menemani Syahdu dan Fikran saja Lit?"


"Mungkin bisa begitu Mbak Nas."


"Ih nggak asyik ah, masa Itnas sama Pak Vier nggak nemenin aku akad." Syahdu cemberut.


"Atau mau ditukar? Aku yang nemenin kalian sedangkan Thalita dan Juno menemani Kana dan Gino." Itnas memberikan tawaran.


"Nggak asyik lagi, masa baby Athar nggak bisa nemenin Tante sih?"


"Terus gimana dong Du?" tanya Thalita dan Itnas sarempak sedangkan karena hanya memilih diam saja.


"Coba lihat Kan undanganmu!" Syahdu meminta undangan pernikahan Kana dan karena langsung memberikan undangan yang khusus untuk Syahdu.


Syahdu menerima, membuka dan membacanya. Dia kaget ternyata apa yang dikatakan oleh kedua sahabatnya itu adalah benar-benar nyata.


"Beneran ya kan kita barengan ini tanggal dan jam akadnya?"


Kana hanya mengangguk lemah, dia tidak tahu harus berkata apa-apa lagi.


"Kalau kamu memang mau semua teman-teman kita datang ke pernikahan kamu, ya kamu tunda aja pernikahanmu dengan Fikran Du karena yang duluan menentukan tanggal ini adalah keluarga Kana


"Aduh gimana ya Nas aku nggak enak sama orang tuanya Fikran. Semuanya sudah ditentukan, baju pengantin, catering semuanya sudah ditentukan kapan waktunya dan yang terpenting mereka sudah matang menentukan tanggal baik," ujar Syahdu merasa tidak enak dengan Kana. Namun, dirinya juga tidak bisa mundur atau dimajukan pernikahan karena persiapannya sudah matang walaupun dia juga ingin semua teman-temannya hadir termasuk Kana sendiri.


"Aku juga nggak bisa diubah tanggal pernikahannya. Orang tua kami sudah sepakat menentukan tanggal itu, jadi bagaimana dong Du padahal aku sangat ingin hadir di dalam pesta pernikahanmu itu," ujar Kana juga merasa tidak enak pada Syahdu.


"Aduh, hidup kalian memang setia kawan ya dari dulu, dari kecil dari sekolah barang-barang, kerja bareng-bareng dan sekarang nikahnya pun bareng-bareng," ujar Itnas lalu terkekeh.

__ADS_1


"Kebetulan Nas kebetulan," ujar Syahdu.


"Nanti deh Kan aku rembuk lagi sama bunda dan ayah biar ngomong baik-baik dengan keluarga Fikran. Mereka juga sih kenapa nggak konfirmasi dengan keluarga Kana sehingga jadwal pernikahan kami benturan kayak gini."


Kana hanya mengangguk setuju mendengar ucapan Syahdu.


"Nanti aku ngomong juga deh sama bokap dan nyokap," ucap Kana kemudian.


***


Mendengar protes dari anak-anaknya, orang tua Syahdu dan juga orang tua Kana akhirnya berjanji untuk bertemu. Dalam pertemuan itu mereka membahas tentang pernikahan kedua putrinya dan ternyata mereka sepakat untuk menikahkan mereka di tempat yang sama agar teman-temannya tidak pecah menjadi dua dan suasana pesta pernikahan akan semakin ramai. Untung saja surat undangan pernikahan belum disebar sehingga mereka langsung mengubah tempat pernikahan putrinya.


Di hari yang ditentukan dua pernikahan dilaksanakan dalam satu tempat sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Benar saja keadaan semakin ramai sebab yang menghadiri pesta pernikahan itu adalah kerabat dari 4 orang dan juga teman dari 4 keluarga.


"Selamat Syahdu dan Fikran juga Kana dan Gino. Kalian kayak nikah masal saja," ujar Vierdo menggoda kedua pasangan itu.


"Awas pengantin wanitanya jangan sampai tertukar." Juno pun ikut menggoda Gino dan Fikran.


"Mereka nggak kembar kenapa harus tertukar?" tanya Fikran.


"Kali aja," ujar Juno lalu tertawa, dan semua orang yang mendengar candaan mereka juga ikut tertawa.


****


9 Bulan kemudian.


Di dalam sebuah rumah sakit terlihat 4 orang wanita yang sedang memegang perutnya yang buncit.


"Kalian bertiga ngapain ada di sini?" tanya Vierdo sambil menggandeng tangan Itnas yang salah satu tangannya memegang perut.


"Nganterin Leona. Dia sakit perut mungkin sudah waktunya melahirkan," sahut Leon.


"Syahdu sudah pembukaan 8," ujar Fikran.

__ADS_1


"Kana meringis dari tadi, kata dokter sih dia juga mau melahirkan," ucap Gino.


"Apa? Gila ya kalian. Kenapa hari lahiran istri-istri kalian malah barengan?"


"Mau gimana lagi kalau sudah takdir," ucap Fikran dan dibarengi anggukan dari Leon dan Gino.


"Gercep banget kalian, 9 bulan langsung mau punya baby," ucap Vierdo lagi.


"Bukan kami yang gercep, tapi baby kamu yang lambat," protes Gino.


"Masa sampai sekarang belum mau lahir juga," tambah Fikran.


"Iya itu makanya aku bawa Itnas ke sini untuk operasi saja, sebab bayinya udah lebih bulan belum lahir juga," terang Vierdo.


"Apa?" tanya Thalita kaget mendengar Itnas juga akan lahiran sekarang juga.


"Kalian berempat kompak ya dan kenapa aku yang nikah duluan belum dikaruniai anak lagi? Padahal aku sudah pengen punya baby cewek." Thalita terluas cemberut.


"Sabar Lit kamu kan sudah ada baby Athar. Besarkan dulu dia baru punya anak lagi. Kasihan dia kalau kamu punya bayi lagi takutnya kekurangan kasih sayang," ujar Syahdu dengan ekspresi yang meringis.


Thalita hanya mengangguk lalu mencium pipi putranya.


"Tenang pulang dari sini kita usaha yang lebih kencang lagi. buat anak lagi, siapa tahu jadi," kelakar Juno pada Thalita.


"Wah itu enak di Juno nggak enak di kamu Lit," ujar Vierdo lalu tertawa. Semua teman-temannya pun ikut ketawa sebelum mereka kembali khawatir terhadap keadaan istrinya masing-masing.


Semoga saja mereka berempat bisa melahirkan dengan mudah dan selamat.


Tamat.


Terima kasih untuk yang masih mengikuti. Semoga kalian dalam lindungan Allah SWT. Mampir yuk ke ceritaku yang lain. Dijamin lebih seru🙏


__ADS_1


__ADS_2