Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 33. Dia Memang Anakmu


__ADS_3

Setelah hampir satu bulan dirawat di rumah sakit akhirnya Thalita diperbolehkan pulang. Sampai di lorong-lorong rumah sakit ketika mau pulang tiba-tiba saja ia merasakan perutnya teramat sakit.


"Kenapa Lit?" tanya Juno yang melihat Thalita meremas perutnya sambil meringis.


"Sakit Mas, sakit banget!"


"Kalau begitu kita ke dokter kandungan dulu sebelum pulang," saran Juno Thalita hanya mengangguk mengiyakan.


Melihat Thalita berjalan kesakitan akhirnya Juno berinisiatif menggendong dan membawa ke ruang dokter kandungan. Dirinya tidak memperdulikan orang-orang yang menatap aneh ke arah mereka berdua.


Sampai di depan ruangan dokter kandungan Juno menurunkan Thalita.


"Ada apa Pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter yang bertugas pada hari itu. Kebetulan hari itu ruangan sedang sepi hanya ada seorang pasien yang nampak keluar dari ruangan tersebut.


"Iya Dok dia sakit perut mungkin saja mau melahirkan."


Mendengar perkataan Juno dokter tersebut mengernyitkan dahi sedang Thalita hanya diam tidak menjawab.


"Apa memang sudah waktunya?"


"Iya Dok," jawab Juno sok tahu. Kalau menurut perhitungannya memang kandungan Thalita sudah berumur sembilan bulan."


"Baiklah kalau begitu silahkan naik ke ranjang biar saya periksa dulu," ujar sang dokter.


Thalita pun menuruti perkataan dokter, ia naik ke ranjang dan berbaring.


"Maaf," ucap sang dokter sambil menyingkap dress Thalita. Kemudian dokter tersebut memeriksa perut Thalita.


"Saya USG dulu ya Bu," ucap sang dokter dan Thalita hanya mengangguk.


"Apa Bapak dan Ibu sudah tahu jenis kelamin bayinya?"


Juno mengangguk dia masih ingat jenis kelamin yang disebutkan dokter pada waktu itu, waktu pertama kali dia ikut memeriksa kandungan Thalita.


"Laki-laki, kan Dok?"


"Iya Pak benar. Bayinya sehat kok mungkin tadi dia menendang perut ibunya dengan keras sehingga membuat si ibu kesakitan. Apa masih sakit sekarang?" tanya dokter tersebut pada Thalita.


"Sudah tidak lagi Dok."


"Oke kalau begitu, ini saya kasih vitamin buat ibunya biar bayi dan ibunya tambah sehat."


"Juno menerima obat dari tangan sang dokter, tapi sebelum membayar dia malah bertanya, "Apa dia tidak mau melahirkan Dok?"


Dokter tersebut tertawa. "Bapak keburu banget ya punya putra masa masih delapan bulan sudah disuruh lahiran."


"Apa Dok delapan bulan?" Juno kaget mendengar pernyataan dokter.

__ADS_1


"Iya Pak masih delapan bulan, apa Bapak tidak tahu?" tanya sang dokter ragu.


"Tidak Dok aku kira sudah sembilan bulan."


"Sabar ya Pak masih sebulan lagi," ujar sang dokter sambil tersenyum dan Juno hanya mengangguk.


Setelah proses pemeriksaan selesai Juno dan Thalita akhirnya berjalan menuju mobil. Setelah duduk di kursi mobil tiba-tiba saja Juno langsung memeluk Thalita.


"Mas apa-apaan sih, lepaskan pelukan Mas Juno!"


Juno tidak menggubris ucapan Thalita dia tetap memeluk erat wanita itu. "Lit kenapa kamu tidak bilang sama aku?"


"Bilang apa Mas?"


"Bahwa umur kandunganmu masih umur 8 bulan?"


"Buat apa Mas? Sama aja dia umur 7 bulan kek 8 bulan kek 9 bulan kek dia tetap saja tidak akan memiliki ayah," ucap Thalita apatis.


"Bodoh! Apa kau tidak berpikir 8 bulan itu waktu kamu sudah tinggal bersamaku."


"Haah." Thalita menghembuskan nafas kasar kemudian tersenyum getir. "Justru itu akan menambah masalah bagiku."


"Maksudmu Lit?"


"Kalau itu bukan anak Yudha kau akan mengatakan aku selingkuh pada waktu itu."


"Lit mengapa kau masih mengungkitnya? Baiklah maafkan aku karena telah berucap salah padamu waktu itu tapi aku tidak bermaksud mengatakan itu semua, kamu salah paham Lit!"


"Lit tapi dia anakku, kenapa kau tega tidak memberitahuku bahwa bayi yang kau kandung adalah anakku?"


"Aku jarang Mas memeriksa kandungan dan aku pun tidak pernah memperhatikan umur kandungannya yang penting dia sehat aku sudah bersyukur. Lagipula Mas Juno sendiri kan yang bilang mana mungkin dia anak Mas Juno karena saat kita melakukannya Mas Juno selalu ..."


"Sstt jangan diteruskan," potong Juno.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku yakin dia putraku," lanjutnya.


"Mas, bagaimana Mas yakin?"


"Karena aku percaya kau wanita baik-baik."


"Hem, mana ada wanita baik-baik yang hamil diluar ..."


"Jangan teruskan! Aku tidak ingin bayi kita mendengarnya."


"Sudahlah aku mau pulang tolong Mas Juno antarkan aku ke rumah ya, aku mau istirahat."


Juno mengangguk. "Asal kamu berjanji satu hal!" pintanya.

__ADS_1


"Janji apa?"


"Mau ya menikah denganku!"


"Mas Juno yakinkan dulu diri Mas Juno baru mengatakan itu."


"Lit aku sudah yakin sedari dulu untuk menikahimu tapi kamu malah menikah dengan Yudha."


"Karena aku pikir anak ini ... dan aku pikir Mas Juno tidak perduli denganku lagi. Buktinya teleponku nggak pernah diangkat."


"Kamu salah paham sayang, waktu itu aku benar-benar sibuk. Perusahaan mengalami masalah besar jadi aku merasa lelah dan stres sehingga melupakan segalanya bahkan saat itu ponselku sering lowbat karena aku tidak memperdulikannya. Dan kamu tahu setelah masalah perusahaanku selesai bukannya merasa lega, tapi aku malah dibuat syok dengan kabar pernikahanmu."


"Maafkan aku ya Mas."


"Tidak apa-apa yang penting sekarang kamu kembali padaku," ucap Juno sambil tersenyum dengan posisi masih memeluk Thalita.


"Mas lepaskan ah pelukannya! Ini kampung lo nanti kita disangka berbuat mesum lagi."


"Ah iya." Akhirnya Juno tersadar dan melepaskan pelukannya pada Thalita kemudian mulai menghidupkan mobilnya.


"Tapi mana ada orang yang akan menganggap orang hamil berbuat mesum? Palingan mereka juga menganggap kita suami istri," protesnya kemudian. Thalita hanya diam saja tidak menyanggah sedikitpun.


"Tapi mau kan menikah denganku?" tanyanya lagi sambil mengemudikan mobil.


"Iya, tapi setelah bayi ini lahir ya!" pinta Thalita.


"Siap, aku pasti akan menunggu." Mendengar ucapan Juno Thalita tersenyum.


"Makasih ya Mas," ucapnya masih tersenyum manis kalau saja tidak takut Thalita marah rasanya Juno ingin mencium wanita itu sekarang juga. Namun, perasaan itu harus dia tahan dan akhirnya dia hanya bisa mengangguk.


"Mas!" Tiba-tiba saja raut wajah Thalita menjadi serius.


"Iya ada apa?"


"Aku mau bertanya tapi Mas janji jangan marah ya!" ucap Thalita hati-hati.


"Tanya apa sih sampai aku akan marah?"


"Bertanya tentang Yudha, apa sih hubungan kalian berdua?"


"Oh itu." Juno nampak kesal.


"Kalau Mas nggak mau cerita nggak apa-apa sih," ucap Thalita pelan.


"Ah nggak apa-apa aku akan cerita karena hal itu berhubungan dengan cerita masa laluku yang kelam yang belum aku ceritakan padamu. Kamu janji ya jangan berubah pikiran kalau tahu masa laluku!"


Thalita mengangguk. "Aku janji Mas."

__ADS_1


"Aku dan Yudha...."


Bersambung....


__ADS_2