
Sesuai kesepakatan keesokan harinya Nana membawa Thalita menemui sang manager di cafe tempatnya bekerja.
"Pak perkenalkan dia ini Thalita. Dia yang akan menggantikan saya bekerja di sini."
Thalita mengulurkan tangannya dan disambut oleh sang manager. "Saya Thalita."
"Saya Reihan. Oh ya sebelum kamu resmi diterima bekerja di sini kamu akan di tes dulu selama seminggu apakah kamu layak bekerja di sini apa tidak."
"Baik Pak saya siap."
"Silahkan bergabung bersama yang lainnya nanti saya akan menyuruh salah satu karyawan saya untuk menjelaskan apa saja yang harus kamu kerjakan."
"Iya Pak."
Setelah Thalita bergabung ke belakang bersama karyawan lainnya Reihan memanggil Linda. "Lin, tolong ajari karyawan baru itu ya kalau perlu ajari dia masak juga. Oh ya kasih atributnya juga. Seragam celemek dan yang lainnya."
"Baik Pak."
"Yasudah kamu boleh pergi."
Setelah seminggu melewati masa training akhirnya Thalita resmi menjadi karyawan di cafe tersebut.
"Selamat karena kegigihan dan kerajinan kamu saya putuskan kamu resmi menjadi karyawan di cafe ini," kata Reihan.
"Terima kasih Pak."
Tak terasa sudah satu bulan Thalita bekerja di cafe. Hari ini dia menerima gaji pertamanya. Dia membuka amplop yang diberikan sang manager.
"Lima juta." Mata Thalita terbelalak melihat uang di tangannya, bagaimana tidak selama ini dia tidak pernah memegang uang sebanyak itu.
"Banyak banget," ucapnya pada diri sendiri.
Reihan yang melihat Thalita tertegun memandang uangnya hanya geleng-geleng kepala.
"Kenapa?" tanyanya
"Banyak banget Pak, ups." Thalita menutup mulutnya sendiri.
"Iya itu saya kasih bonus. Biasanya gaji karyawan di sini cuma 4 juta, tapi karena kamu karyawan baru dan rajin jadi saya kasih kamu bonus satu juta."
"Wah terima kasih ya Pak. Bapak benar-benar orang yang baik."
Tiba-tiba dari arah pintu, Nana muncul dengan segepok undangan di tangan.
"Kak Nana. Kak Nana ngapain ke sini mau kerja lagi? Atau mau makan di sini?"
Nana menggeleng. "Emang kamu nggak lihat kakak pegang apa?"
"Coba lihat. Oh, undangan pernikahan. Emang kapan Kakak nikahnya?"
__ADS_1
"Minggu depan. Bantuin kakak yuk nyebarin undangan ini sama teman-teman. Belum pada pulang kan?"
"Kayaknya belum deh Kak tapi hampir pada mau pulang. Yuk Kak cepetan!"
"Iya ayok."
Setelah selesai membagikan undangan Thalita dan Nana pulang bersama. Di sepanjang perjalanan Thalita hanya terdiam.
"Kenapa kok kamu diam?"
"Ah nggak kenapa-napa sih Kak."
"Cerita dong sama Kakak. Kali aja kakak bisa bantu. Apa ada yang bersikap tidak baik sama kamu di cafe?"
"Nggak kok Kak mereka semua pada baik kok. Ini masalah hutang-hutang bapak di kampung. Saya janji pada ibu tiri saya untuk mengirimkan uang itu sekarang. Kenapa saya bisa menyanggupi ya? Padahal uang lima belas juta itu, kan banyak banget. Dapet dari mana coba uang tambahannya sekarang aku baru ada lima juta itu pun masih belum bayar uang kos."
"Kan kakak udah bilang kalau butuh bantuan ngomong sama kakak. Untuk bulan ini kamu nggak usah pusing bayar uang kos karena sudah kakak bayar langsung dua bulan sebelumnya. Kakak juga bakal ngasih kamu pinjaman sepuluh juta buat kamu plus dua juta gratis buat kamu."
"Janganlah Kak, Thalita kan jadi nggak enak ngerepotin Kakak terus."
"Sudahlah kayak sama siapa saja pakek bilang ngerepotin segala. Dulu Almarhumah ibu kamu juga sering bantu ibu aku di kampung. Mungkin inilah jalan untuk aku balas budi kepada beliau. Ya lewat kamu."
"Emangnya uang Kakak nggak mau di pakai buat apa gitu? Kakak kan mau menikah."
"Nggaklah semua keperluan pernikahan sudah ditanggung sama calon suami kakak. Kakak cuma diminta nentuin konsep, milih gaun pengantin ama foto prewed aja selebihnya dia yang ngurusin termasuk biayanya juga."
"Oh, tapi yang dua juta beneran gratis Kak?"
"Iya Kak makasih banget ya! Saya bersyukur dikelilingi orang baik kayak kakak dan pak Reihan. Oh ya Kak tadi aku dikasih bonus satu juta sama pak Reihan."
Nana mengelus rambut Thalita. "Itu tandanya kerjamu bagus jadi harus dipertahankan."
"Oh ya Kak, aku nanti bayarnya nyicil ya untuk yang sepuluh jutanya."
"Iya terserah kamu deh. Kakak nggak buru-buru kok. Seadanya kamu aja nanti. Kalau ada ya bayar kalo nggak ada yasudah nggak usah dibayar dulu."
"Asyik ya pinjem sama kak Nana," ucap Thalita menggoda.
"Kalo sama aku mah santai aja."
"Iya Kak makasih kalau begitu aku minta no rekening kakak biar gampang nanti kalo mau bayar utang."
"Baiklah ini." Nana memberikan buku tabungannya.
"Dicatat nomornya ya!"
"Iya Kak terima kasih."
"Eh sudah sampai. Ayo Lit turun!"
__ADS_1
Mereka pun turun dari taksi di depan kosan dan masuk ke dalam kamar masing-masing.
Menjelang kurang sehari dari pernikahan Nana, Reihan menghampiri Thalita. "Besok kamu datang ke pesta pernikahan Nana?"
"Iya pastilah Pak. Bapak sendiri?"
"Pengennya sih datang tapi sayang aku ada kepentingan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Aku nitip ya dan sampaikan permohonan maaf ku sama Nana."
"Baik Pak."
"Kamu besok berangkatnya sama siapa?"
"Kayaknya sendiri deh Pak abis yang lain katanya mau berangkat sama pasangan masing-masing."
"Maaf ya kalau saja saya tidak ada kepentingan pasti aku bisa nemenin kamu."
"Enggak apa-apa kok Pak."
"Eh Sauna besok berangkat bareng yuk! Kita kan sama-sama jomblo." Menawarkan diri saat melihat Sauna melintas di hadapannya.
"Enak aja jomblo besok gue mau dateng ama gebetan gue." Yang diajak bicara menjawab sambil memalingkan muka.
"Kamu bisa berangkat sama kami kok Lit kami kan besok berangkatnya rombongan satu mobil gitu."
"Nggak usahlah mbak Lin aku berangkat duluan aja besok mau nemenin kak Nana."
"Oh ya sudahlah kalau begitu sampai ketemu di sana ya!"
"Oke mbak."
"Semangat ya!"
"Siap Mbak."
Dan di sinilah mereka di pesta pernikahan Nana dan sang dokter. Setelah mengantarkan Nana ke meja ijab kabul Thalita bergabung bersama teman yang lain. Setelah acara ijab kabul selesai secara bergantian mereka memberikan selamat kepada sepasang mempelai yang telah berdiri di pelaminan.
"Selamat ya Kak semoga bahagia dan menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah. Oh ya, ada titipan nih dari bapak Reihan beliau mohon maaf karena tidak dapat hadir karena ada kepentingan yang mendesak." Sambil menyodorkan amplop titipan Reihan.
"Iya makasih ya Lit semoga kamu cepat menyusul."
Thalita terkekeh. "Makasih Kak."
"Sudah sana cicipi jamuannya."
"Oh ya pastinya."
Ketika hendak mengambil makan tiba-tiba kaki Thalita kesandung.
"Maaf Anda tidak apa-apa?" tanya seorang pria sambil berusaha membantu membangunkan Thalita.
__ADS_1
Bersambung....
Hai Reader mohon maaf ya baru bisa update setelah dua hari libur karena othor ketularan Itnas demam dan kepala rasanya mau pecah. So nggak bisa mikir dan nulis tapi kali ini othor usahakan update. Jangan lupa like dan komennya ya!" Love u all.