
Bagaimana Kana bisa tenang Ma sebelum mendengar kabar dari Gino?"
"Sudah kamu telepon?"
"Sudah Ma tapi tidak bisa karena berasa di luar jangkauan dan terakhir ponselnya malah mati."
"Sudah tenang Nak nanti aku akan mencari informasi tentang keadaan Nak Gino."
"Bagaimana bisa Ma? Kita bahkan tidak ada yang tahu dengan rumah Gino. Nyesal aku kemarin-kemarin diajak tetapi tidak mau."
"Sebentar saya akan meminta tolong teman mama yang bekerja di bandara internasional Singapura," ucap sang mama sambil mencari-cari kontak sahabatnya itu melalui ponselnya.
Kana hanya mengangguk dengan raut wajah yang masih terlihat khawatir. Sebelum dia mendengar kabar baik tentang Gino sepertinya gadis itu tidak akan pernah tenang.
"Ah dapat." Sang mama tersenyum senang dan segera mengunjungi nomor telepon sahabatnya itu.
__ADS_1
"Bagaimana Ma?" tanya Kana masih ketar-ketir saja.
"Sebentar katanya dia masih mengecek siapa saja korban meninggal dan siapa saja korban luka-luka."
Kana hanya bisa pasrah dan mengangguk. Kalau saja dekat dia pasti akan segera mendatangi bandara ataupun rumah sakit yang menampung korban kecelakaan pesawat itu. Sayangnya itu berada di luar negeri dan tidak mungkin Kana bisa terbang ke sana mengingat di negara sana mengeluarkan peringatan keras agar tidak ada pesawat yang berani melakukan penerbangan baik keluar ataupun masuk ke negaranya tersebut karena cuaca yang benar-benar buruk.
"Sambil menunggu kabar tidur lagi gih!" perintah sang mama dan Kana hanya menggeleng lemah.
"Ya sudah kalau tidak mau tidur lagi biar mama buatkan teh buat kamu sekalian kopi buat nama sendiri agar bisa melek dan menemani kamu." Kali ini Kana mengangguk setuju.
"Oke mama ke dapur dulu." Sang mama lalu bangkit dan berjalan ke arah dapur dan membuat minuman untuk putrinya dan dirinya sendiri. Tidak menunggu lama akhirnya dia kembali dengan membawa dua gelas minuman.
"Iya Ma terima kasih," ucap Kana setelah meniup teh yang panas dan mencium aromanya dia lalu menyeruput tehnya itu. Lumayan sedikit melonggarkan dadanya yang sedari tadi serasa sesak.
Mereka berdua bergadang hingga pagi karena belum mendapatkan kabar juga. Sang mama terus menyemangati Kana saat gadis itu menangis lagi ketika mengingat Gino.
__ADS_1
"Kenapa Tuhan mempertemukan kita jika dalam waktu yang sangat singkat memisahkan kita lagi," gumam Kana di sela isak tangisnya dan sang mama yang sudah kehilangan akal membujuk dan merayu putrinya untuk tidak menangis dan meyakinkan bahwa Gino akan baik-baik saja sudah kehilangan akal untuk menghibur Kana sebab tidak pernah digubris oleh putrinya itu.
"Ada apa kalian berkumpul di sini?" Sang ayah yang tadinya menyadari sang istri tidak ada di sampingnya segera mencari ke kamar mandi. Tidak ada di sana beralih ke dapur. Tidak ada juga akhirnya memutuskan untuk mengecek ke kamar putrinya.
"Mama sedang menghibur Kana Pa dia lagi sedih sekarang," jawab sang istri.
"Kenapa emangnya sampai nangis begitu diputuskan pacarnya?" sang ayah hanya menebak mengingat putrinya memang tidak pernah memiliki pacar yang sudah dikenalkan padanya, tetapi mungkin saja Kana memiliki kekasih yang belum dikenalkan pada kedua orang tuanya, dan sebelum dikenalkan malah putus duluan.
"Ah papa ngeselin, ini jauh lebih sakit dibandingkan diputuskan pacar," protes Kana pada sang ayah.
"Emang ada apa sih sebenarnya?Dini hari begini minum berdua tanpa mengajak papa," keluh sang papa melihat ada 2 cangkir dihadapan anak dan istrinya.
"Baiklah saya buatkan kopi untuk papa tapi janji setelah ini bantu Kana yah untuk mendapatkan kabar tentang keberadaan Gino di Singapura," rayu sang mama.
"Oke kalau masalah kabar-kabari serahkan saja pada papa." Sang papa menjawab dengan mantap.
__ADS_1
"Oke sip," ucap sang mama sambil melenggang pergi ke dapur.
Bersambung.