
"Tidak perlu kak, lebih baik kakak perhatikan kak Khanza, dan temani dia saat ini, pasti batinnya lagi bergejolak dengan kejadian hari ini" jawab Zalin
"Ya sudah, kakak ke kamar dulu, kamu istirahat dan maafkan mamih untuk kejadian hari ini" ucap Yusuf mengelus kepala adiknya penuh cinta dan kasih sayang
Yusuf mencoba menemui istrinya yang diam saja di kamar semenjak kejadian mamihnya tadi, ada rasa khawatir yang menyelimuti diri Yusuf, dia takut istrinya akan marah dan enggan bicara padanya, apalagi dengan kondisi Khanza yang sering badmood semenjak hamil.
Ceklek.... suara pintu terbuka
"Sayang" panggil Yusuf melihat Khanza melamun di depan kaca meja rias, Khanza masih belum menyadari kehadiran suaminya
Apa segitu buruknya diriku, sehingga ibu mertua ku tidak menyukai ku, bahkan membenci ku, terlalu banyak kah kekurangan yang ada pada diriku. batin Khanza menahan rasa sakit dan sedihnya
"Sayang" panggil Yusuf lagi memegang kedua bahu Khanza, Khanza terkejut dan membuyar lamunannya
"Lagi mikirin apa?" tanya Yusuf memandang wajah istrinya yang terlihat sendu
"Tidak memikirkan apapun" jawab Khanza apa adanya
"Kakak minta maaf atas nama mamih, jika perkataan mamih selalu mengusik pikiran mu, dan selalu berperilaku tidak baik padamu" ucap Yusuf serius
"Iya" jawab Khanza singkat
Dia benaran marah padaku atau pada mamih, dan kekesalan yang dimiliki masih tersimpan. batin Yusuf
"Kita jalan-jalan yuk, kemana gitu, cari hiburan" ucap Yusuf senyum
"Males, cuacanya juga panas" jawab Khanza
Yusuf membuang nafas kasarnya, Khanza pun hanya terdiam.
"Jika kamu ada kegiatan lain, silahkan, aku dirumah saja" ucap Khanza merebahkan tubuhnya di atas kasur yang nyaman baginya
"Kami marah sama kakak?" tanya Yusuf memandang punggung Khanza yang membelakangi Yusuf
"Tidak" jawab Khanza tanpa menoleh
"Selamat istirahat" ucap Yusuf meninggalkan kamar
Mungkin dia butuh waktu sendiri, lebih baik tunggu suasana hatinya membaik, aku akan bicara lagi. batin Yusuf sebelum meninggalkan kamar
Yusuf kembali keruang tamu, di sana masih ada Zalin yang sedang menonton tv.
"Loh, kok kakak turun lagi, bukannya mau menemani kak Khanza?" tanya Zalin bingung
"Sepertinya dia membutuhkan waktu untuk sendiri" jawab Yusuf mengusap wajahnya dengan kasar
"Kak Khanza marah?" tebak Zalin menatap kakaknya
__ADS_1
"Kurang tau" sahut Yusuf menyandarkan kepalanya
Yusuf memejamkan matanya dalam posisi duduk, Zalin hanya iba melihat kakaknya yang sedang memikirkan sesuatu di dalam hatinya
"Kak, aku kembali ke rumah bunda ya" ucap Zalin, Yusuf membuka matanya
"Untuk apa? lebih baik disini saja" jawab Yusuf kembali memejamkan matanya
"Hanya cari hiburan saja dirumah bunda" ucap Zalin pelan
"Disini saja, temani kakak hari ini, karena pikiran kakak benar-benar suntuk dan ingin sekali rasanya kepala ini ku benturkan ke tembok dengan sekuat tenaga yang kakak miliki" tutur Yusuf sedikit kesal
Akhirnya Zalin menemani sang kakak yang sedang tidak baik-baik saja.
Khanza mendengar ucapan Yusuf, dia bukannya ingin mendiamkan Yusuf, hanya saja hatinya pun kurang baik.
"Maafkan aku ya kak" lirih Khanza kembali masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya
Sedangkan Yusuf tertidur di sofa, lelah berpikir membuat dia lelah dan terlelap, Zalin dengan setia menunggu kakaknya hingga terbangun nanti.
Rumah Aira
"Aira" panggil Abi
"Iya, Abi" sahut Aira
"Suamimu kemana?" tanya Abi lagi
"Kamu bahagia" tanya Abi mengelus bahu anaknya
"Kenapa Abi bertanya seperti itu?" tanya balik Aira tidak mengerti dengan pikiran abinya
"Abi hanya bertanya, jika kamu tidak bahagia dengan pernikahan mu, abi juga ikut andil dan merasa bersalah, selama ini selalu mengorbankan dirimu dalam setiap masalah yang abi punya" tutur Abi sendu
"Aira sangat bahagia Abi, mas Adi belum pernah sekali pun berbicara kasar atau bertindak kasar pada Aira" jawab Aira menunduk
"Apa kamu sudah mencintainya?" tanya Abi
"Aira tidak tau abi, selama menikah dengan mas Adi, yang Aira pahami hanya menjalankan saja tugas sebagai seorang istri" jawab Aira pelan
"Belajar lah mencintai suamimu, apa kurang selama ini perhatian dan perilaku Adi padamu, yang selalu menjadikan mu seorang ratu" ucap Abi mengingatkan anaknya
"Aira akan selalu berusaha, untuk mencintai mas Adi" jawab Aira
"Apa yang membuat mu ragu mencintai suamimu?" tanya abi, Aira hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak tau.
"Yang abi mu katakan benar, belajar lah mencintai suamimu, karena separuh hidup kita akan selalu di samping suami, mau keadaan susah maupun senang, kita sebagai seorang istri hanya bisa mendukung dan menemaninya, jangan sedang berjaya kita agungkan, lalu di kala suami kesusahan kita abaikan" tutur umi menimpali
__ADS_1
"Iya umi, abi, setiap hari Aira selalu berusaha menjadi istri yang terbaik untuk mas Adi" ucap Aira senyum
"Apa kamu belum isi?" tanya umi
"Isi? isi apa?" tanya balik Aira tidak mengerti
"Maksud umi, apa kamu belum ada tanda-tanda sedang mengandung cucu kita gitu" jawab umi senyum, membuat Aira malu dan merona
"Assalamualaikum" ucap Adi baru saja pulang dan tersenyum manis pada keluarganya
"Wa'alaikumsalam" jawab serempak, Aira mencium tangan suaminya begitu juga Adi mencium kembali tangan Aira dan kening Aira, membuat Aira bertambah malu di depan kedua orangtuanya
"Aira ambilkan mas Adi minum dulu ya" ucap Aira hendak pergi
"Tunggu, ada yang mau aku bicarakan sebentar disini, mumpung ada umi dan abi" sahut Adi memegang tangan Aira
"Bicara apa? terlihat penting sekali" tanya Abi penasaran
"Tidak penting sih, hari ini Adi ingin mengajak Aira menginap dirumah bunda, boleh?" tanya Adi menatap orangtuanya
"Aira istrimu, silahkan saja, kenapa harus izin pada umi dan abi, harusnya kalian bicara berdua dan tanya Airanya langsung dong" jawab abi bingung dengan sikap Adi, selalu berbeda dengan yang lain
"Ya, tidak ada salahnya jika izin juga pada umi dan abi" jawab Adi cengengesan
"Aira itu sudah tanggung jawab mu, bukan tanggung jawab Abi, dosa Aira saja yang menanggu bukan Abi lagi tetapi suaminya" ucap abi senyum
"Aira mau kan hari ini kita menginap dirumah bunda? mungkin selama satu minggu" tanya Adi pada istrinya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
hai readers terima kasih yang sudah setia membaca "Kesetiaan Cinta Yusuf" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ like
π komen
π hadiah
ποΈ vote
dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Beda Usia? Tak Masalah ππΌππποΈ
__ADS_1
berikan dukungan juga untuk kedua cerita ini. oh iya sebelum membaca Kesetian Cinta Yusuf baca terlebih dahulu yang no. 1 ya, supaya tidak bingung nantinya, sebab itu cerita ini adalah sambungan dari cerita yang No. 1.