KESETIAAN CINTA YUSUF

KESETIAAN CINTA YUSUF
Teringat Zalin


__ADS_3

Beberapa keluarga sudah pada berkumpul untuk menyaksikan acara pernikahan orangtua Yusuf, Yusuf sangat senang apabila kedua orangtuanya selalu akur dan damai, tidak ada lagi yang namanya pertikaian.


Tetapi Yusuf terlihat murung karena adiknya tidak bisa menyaksikan kebahagian orangtua mereka.


"Kakak kenapa?" tanya Khanza mengelus bahu Yusuf


"Apa iya Zalin tidak diberitahu, ini kan hari bahagia papih dan mamih" jawab Yusuf menatap foto adiknya


"Kata bunda, kita itu tidak boleh mengganggu Zalin, sekarangkan Zalin fokus di pesantren, belajar dan juga mengajar" ucap Khanza


"Rasanya ada yang kurang tanpa dia, kaka juga sudah kangen sekali, lama tidak lihat dia" jawab Yusuf


"Sabar ya, pasti pas acara bunda akan info ke Zalin kok, pasti Zalin mendapatkan kabar bahagia ini" ucap Khanza bersandar pada bahu Yusuf


"Sedang memikirkan apa?" tanya Yusuf melihat istrinya seperti banyak pikiran


"Tidak memikirkan apa-apa" jawab Khanza tersenyum


"Perempuan kalau jawab begitu pasti ada sesuatu yang disembunyikan" ucap Yusuf


"Aku juga tidak tau kak, aku hanya kepikiran apa mamih bener-bener sudah menerima ku?" tanya Khanza menatap suaminya


"Kita sama-sama berjuang ya, kamu tidak perlu khawatir, kaka akan selalu ada sama kamu, kecuali Allah meminta kaka untuk kembali pada-Nya lebih dulu" jawab Yusuf mengelus pipi Khanza


"Jangan bawa-bawa kematian, aku tuh tidak sanggup mendengarnya" ucap Khanza pelan


"Baiklah, kamu jangan berpikir terlalu berat, pikirkan saja bagaimana caranya kamu lulus secepat mungkin" sahut Yusuf memandang wajah istrinya yang tidak pernah bosan


"Oh iya, kedokteran kaka bagaimana?" tanya Khanza bingung suaminya terlalu santai


"Ternyata kedokteran pusing, lebih asik bisnis" jawab Yusuf


"Lalu?" tanya Khanza


"Lalu aku fokus aja pada perusahaan papih" jawab Yusuf tersenyum


"Sudah mengeluarkan biaya mahal-mahal, S2 pula, diputus begitu saja" ucap Khanza tidak habis pikir dengan suaminya ini


"Tidak apa-apa, papih aja santai tuh menanggapinya, yang penting cinta kita tidak akan pernah putus selamanya, hingga maut memisahkan kita" jawab Yusuf mencium hidung Khanza


"Lagi bahas kuliah, ini nyambungnya ke cinta" ucap Khanza jutek


"Gemes banget sih istriku lagi ngambek begini" sahut Yusuf menarik hidung Khanza


"Ihhh, sakit, tadi di gigit, sekarang dicubit" jawab Khanza kesal


"Sini kaka obatin" ucap Yusuf mencium sekilas bibir Khanza,


Khanza mendapat serangan dadakan dari suaminya hanya membulatkan mata dan menatap suaminya, Yusuf hanya tertawa terbahak melihat Khanza yang mulai kesal.

__ADS_1


"Hei, ketawa sampai kedengaran keluar loh" ucap Aisyah menghampiri anak mantunya


"Maaf bunda" ucap Yusuf menutup mulutnya


"Kak Yusuf ngeselin tuh, bun." sahut Khanza cemberut


"Se ngeselin apapun Yusuf, itu suami mu, yang tetap harus kamu hormati dan kamu hargai" ucap Aisyah dengan lembut mengelus kepala Khanza


"Salah bicara" sahut Khanza bete


"Bun, apa Zalin tidak bisa dipaksakan untuk datang?" tanya Yusuf kembali mengingat adiknya


"Berapa kali bunda harus katakan pada kalian, Zalin itu lagi proses perbaikan diri agar menjadi wanita soleha, jadi biarkan saja Zalin tetap belajar disana, nanti saat akad nikah papih dan mamih mu, bunda akan melakukan videocall pada Zalin" jawab Aisyah sabar


"Bagaikan sayur asem tanpa asem bun, tidak ada Zalin" sahut Yusuf lesu lagi


"Doakan adikmu, supaya bisa mendapatkan calon suami yang baik dan tulus menemani dia dan mendukung dia" ucap Aisyah


"Emang Zalin mau nikah?" tanya Khanza pelan


"Semua orang ditakdirkan untuk saling berpasang pasangan, dan siapapun pasti ingin merasakan rasanya pernikahan" jawab Aisyah


"Maksudnya, apa Zalin sudah memiliki calon?" tanya Khanza memastikan


"Selama berkomunikasi dengan bunda atau ayah, Zalin tidak pernah membahas laki-laki ataupun yang menjurus kesana, makanya kan tadi bunda bilang, doakan Zalin sayang" jawab Aisyah


"Ayah yang akan seleksi langsung calonnya Zalin" ucap Arnold tiba-tiba


"Lah, kenapa ayah, emang ayah siapanya Zalin, papih sama mamih dong yang berhak" jawab Khanza


"Zalin anak ayah dan bunda juga, jadi ayah dan bunda wajib mengintrogasi calon suami untuk Zalin, tidak peduli Zalin punya orangtua kandung" ucap Arnold tegas


"Egois" sahut Aisyah tersenyum


"Bukan egois ya, bun. ayah ingin melihat anak-anak ayah itu hidup bahagia, jadi apa salahnya jika ayah ikut menyeleksi" ucap Arnold


"Terserah ayah saja, kalau dibahas terus jadi panjang nih urusan" jawab Aisyah


Keluarga Zavier benar-benar menjaga putriku seperti anak kandungnya, sementara aku selalu melukai perasaan anak perempuannya, ini sungguh tidak adil bagi Khanza. Gumam dalam hati mamih Yusuf, mendengar dan melihat apa yang sedang besan dan anaknya lakukan


"Nyonya kenapa disini, bukan kah nyonya diminta untuk istirahat" tanya bibi saat melihat nyonyanya ada di sudut ruang keluarga


"Ponsel saya tertinggal, kamu tolong antarkan ke kamar saya ya" jawab mamih Yusuf meninggalkan bibi dan yang lain


Rumah orangtua Yusuf semakin ramai dengan pernak pernik dekorasi yang elegen bertengger di dinding rumahnya.


"Adi tidak kesini ya, bun?" tanya Khanza


"Lagi dijalan, tadi bunda suruh kesini, lumayan tenaga dia bisa digunakan" jawab Aisyah tertawa pelan

__ADS_1


"Ada Yusuf bun, emang butuh tenaga untuk apa?" tanya Yusuf heran


"Kamu itu tuan rumah, jadi fokus saja pada papih dan mamih, kalau Adi bisa bunda suruh-suruh apapun itu, tenaga lelaki pasti dibutuhkan" jawab Aisyah


"Kasihan Adi, bun, masa baru datang langsung disuruh" sahut Yusuf tidak terima


"Assalamu'alaikum, kaka ku yang cantik dan tampan" ucap Adi nyeleneh


"Wa'alaikumsalam" jawab yang lain


"Ngapain kamu kesini?" tanya Khanza bercanda


"Mau minta makan gratisan, hahaha" jawab Adi tertawa pelan


"Sudah ku duga, hidupnya numpang makan terus" ucap Khanza


"Biarkan, dari pada nyolong, lebih baik numpang makan, ini sekaligus izin langsung sama keluarga yang punya hajat" jawab Adi menaik turun kan alis menatap Yusuf


"Beneran belum makan?" tanya Yusuf khawatir


"Dia hanya bercanda, tidak perlu di tanggapi, Adi itu sebelum ke sini izin ngumpul sama temannya di kafe" timpal Aisyah melerai kekonyolan Adi


"Bunda tidak asikkk, kenapa harus dipisahkan antara aku dan kak Yusuf" ucap Adi


"Maksudnya apa?" tanya Aisyah bingung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


hai readers terima kasih yang sudah setia membaca "Kesetiaan Cinta Yusuf" terus berikan dukungannya ya dengan cara


πŸ‘πŸΌ like


πŸ“ komen


🎁 hadiah


🎟️ vote


dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :



Cinta Zavier untuk Aisyah πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ


Beda Usia? Tak Masalah πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ



berikan dukungan juga untuk kedua cerita ini. oh iya sebelum membaca Kesetian Cinta Yusuf baca terlebih dahulu yang no. 1 ya, supaya tidak bingung nantinya, sebab itu cerita ini adalah sambungan dari cerita yang No. 1.

__ADS_1


__ADS_2