
Adi dan yang lain sudah tiba dirumah sakit, mereka menunggu sesuai antrian yang di dapat.
"Bun, kenapa kita tidak pakai akses cepat sih" jawab Adi merasa bete jika nunggu terlalu lama
"Sabar, kita itu tidak selamanya berada di atas, sayang. Bumi ini berputar, jadi biasakan menunggu dan antri" jawab Aisyah sangat sabar dengan tingkah Adi
"Iya, kita menunggu saja, lagian kalau lewat akses cepat kasian pengunjung yang lebih dulu datang, cuma karena kekuasaan atau jabatan" sahut Aira pelan
"Istrimu saja paham" timpal Arnold
"Tapi kan ini rumah sakit kakek, tidak mungkin dari semua suster dan dokter disini tidak kenal kita" ucap Adi masih males menunggu dan tidak sabar
"Tuan Arnold, apa kabar" ucap salah satu dokter laki-laki
"Dokter Alex, Alhamdulillah kabar baik, dokter kembali tugas disini? karena setau saya dokter di Singapura" jawab Arnold berjabat tangan pada dokter tersebut
"Iya, Tuan besar (Almahendra) meminta saya kembali, Tuan Arnold sedang apa? ada keluarga yang sakit?" tanya Alex begitu ramah
"Hanya ingin memeriksakan kandung menantu saya, masih menunggu antrian" jawab Arnold senyum
"Antri? kenapa harus antri, Tuan Arnold ini anak dari pemilik rumah sakit ini, untuk apa antri" ucap Alex berpikir dan heran
"Membiasakan anak-anak, agar tidak seenaknya saja" jawab Arnold pelan
"Dokter, dokter bisa kan buat kami tidak antri dan langsung masuk?" tanya Adi semangat
Aisyah dan Arnold sudah memberi kode agar Alex menjawab tidak bisa.
"Bisa saja, karena kalian bagian dari pemilik rumah sakit ini" jawab Alex
"Nah, kalau begitu bantu kami" ucap Adi
"Jika kamu meminta bantuan dengan akses cepat, bunda akan marah padamu dan akan meninggalkan kalian berdua disini" sahut Aisyah tanpa menoleh dia fokus pada ponselnya
"Jangan gitu dong bunda, Adi juga memikirkan kondisi bunda yang tidak sehat" ucap Adi
"Bunda baik-baik saja, alasan kamu saja itu" jawab Aisyah ketus
"Bagaimana, apa jadi? saya akan langsung bilang pada bagian dokter kandungan agar kalian bisa duluan" tanya Alex
"Tidak perlu dokter Alex, terima kasih, kami akan tetap mengikuti antrian, lagi pula antrian kami pendek di no. 4" jawab Arnold
"Baiklah, kalau begitu saya kembali ke visit ke kamar pasien" ucap Alex meninggalkan kaluarga Arnold
Adi terpaksa mengikuti keinginan sang bunda, karena selama ini juga Aisyah saat hamil selalu menunggu antrian, walau Arnold sempat ngambek karena lama menunggu, sifat Adi kurang lebih sebelas dua belas dengan Arnold.
"Jangan cemberut gitu dong" bisik Aira mengelus lengan suaminya
"Aku tuh tidak sabar, ingin tau kebenarannya" jawab Adi pelan
__ADS_1
"Kita hanya menunggu dua orang lagi, jadi bersabarlah" ucap Aira
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Adi menatap Aira
"Aku baik-baik saja, memangnya aku terlihat lemah ya" jawab Aira
"Tidak, aku hanya takut kamu kelelahan, dan aku juga takut bunda menjadi sakit" ucap Adi serius
"Habis ini kita ajak bunda cek up saja sekalian, biar adil" jawab Aira memberikan usul
"Kamu benar juga, dan bunda harus mau" ucap Adi tersenyum, Aira pun membalas senyuman suaminya
"Ekkhhmmm" dehem Arnold melihat anak mantunya bisik-bisik
"Ayah kenapa?" tanya Adi menoleh ke belakang
"Tidak apa, hanya jadi panas saja suasana, begitu sempit dunia ini bagaikan milik kalian berdua" jawab Arnold, Aisyah hanya tersenyum saja
Kembali ke Rumah
"Makasih ya pak Yono atas informasinya" ucap Zalin kembali masuk ke dalam rumah memanggil kakak dan kakak iparnya
"Ada apa Zalin" ucap Yusuf keluar dari kamar bersama Khanza
"Kak, tadi Zalin melihat ayah, bunda, Adi dan Aira pergi, terus Zalin tanya sama pak Yono, katanya mereka semua mau kerumah sakit" jawab Zalin serius
"Pak Yono juga tidak tau, tapi katanya kemarin bunda sempat sakit, jadi kemungkinan bunda yang di bawa kerumah sakit" jawab Zalin khawatir
"Kita yang tinggal di sebelahnya tidak tau apa-apa, kenapa Adi tau bunda sakit, apa bunda memberitahu Adi" ucap Khanza heran
"Kata pak Yono, Adi dan istrinya memang sengaja datang untuk menginap, tapi disaat pas bunda lagi kurang sehat, makanya Adi yang jauh bisa tau kalau bunda sedang sakit" jawab Zalin bercerita sesuai ucapan pak Yono
"Apa kita susul bunda kerumah sakit?" tanya Khanza melihat Yusuf
"Lebih baik kita menunggu bunda dirumahnya, nanti aku hubungi Adi apa yang terjadi" jawab Yusuf mencoba menenangkan perasaan sang istri
Mereka bertiga menunggu Aisyah dan yang lain pulang, sudah hampir siang mereka tak kunjung datang, membuat Khanza cemas.
"Adi tidak di angkat ponselnya" ucap Yusuf pelan
"Mungkin lagi perjalanan pulang, karena tadi pagi yang menyetir Adi, bunda dan ayah paling tidak suka melihat orang main ponsel di mobil" jawab Khanza berusaha tenang
Tin... tin... suara klaksok mobil Adi membuat mereka jauh lebih tenang, pak Yono segera membukakan pintu gerbang.
"Assalamualaikum" ucap mereka berempat
"Wa'alaikumsalam" jawab Yusuf, Khanza dan Zalin
"Kalian disini" ucap Aisyah lebih dulu memeluk Khanza
__ADS_1
"Bunda baik-baik saja, kata pak Yono kerumah sakit" jawab Khanza langsung bertanya
"Hanya cek kesehatan saja, calon ibu dokter" ucap Aisyah senyum mengelus perut anaknya yang sudah terlihat membuncit
"Hasilnya apa? Kakak mau lihat mana?" jawab Khanza meminta hasil medical checkup
"Ada sama Adi" ucap Aisyah bahagia, anak-anaknya selalu memberikan perhatian padanya sesibuk apapun mereka
Adi memberikan hasil bundanya pada sang kakak, Khanza oun membacanya dengan teliti.
"Bu dokter begitu ya, sangat serius bacanya, lah kita orang awam tidak ngerti itu tulisan" ucap Adi tertawa
"Bunda kenapa jadi ada riwayat darah tinggi, bunda mikirin apa sampai tekanan darah naik" sahut Khanza cemas
"Hanya memikirkan kebahagian kalian" ucap Aisyah asal
"Bunda kami semua ini sudah bahagia, jadi bunda jangan mikir apapun lagi, bunda hanya fokus dengan kesehatan saja, dan jangan terlalu lelah, tidak perlu juga urusin hal-hal kecil tentang rumah" jawab Khanza
"Iya sayang, tapi kan bibi juga kasihan, usianya tidak mungkin melakukan semuanya sendiri" ucap Aisyah
"Adi dan Aira akan tinggal disini, dan Aira bisa membantu bibi sedikit-sedikit, ya kan sayang, kamu mau bantuin bunda dan bibi" sahut Adi
"Iya Aira mau" jawab Aira
"Nanti Yusuf carikan art untuk memperingan kerjaan bibi dan juga bunda" ucap Yusuf
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
hai readers terima kasih yang sudah setia membaca "Kesetiaan Cinta Yusuf" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ like
π komen
π hadiah
ποΈ vote
dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Beda Usia? Tak Masalah ππΌππποΈ
berikan dukungan juga untuk kedua cerita ini. oh iya sebelum membaca Kesetian Cinta Yusuf baca terlebih dahulu yang no. 1 ya, supaya tidak bingung nantinya, sebab itu cerita ini adalah sambungan dari cerita yang No. 1.
__ADS_1