KESETIAAN CINTA YUSUF

KESETIAAN CINTA YUSUF
Menyediakan Makan Siang Untuk Mamih


__ADS_3

Yusuf dan Khanza sudah tiba dirumah mamih, ternyata mamihnya sedang istirahat, dan Khanza meminta izin pada Yusuf untuk stay dirumah mamih sampai dia bertemu ibu mertuanya.


"Yakin mau tungguij mamih?" tanya Yusuf memancing Khanza


"Harus yakin, kaka tunggu sini ya, aku mau buatkan makanan untuk makan siang" jawab Khanza semangat


"Jangan, kan ada bibi yang masak, untuk apa kamu cape cape memasak" sahut Yusuf melarang istrinya


"Masak yang simple aja, sudah kak Yusuf duduk saja nonton tv, kalau masih bawel aku suruh pulang" ucap Khanza


"Ini rumah orangtua ku, kenapa jadi kamu yang usir kaka" sahut Yusuf tidak terima


"Hussttt, makanya jangan bawel suamiku yang tampan, sudah ya tenang" jawab Khanza


"Kalau masakannya tidak dimakan mamih bagaimana?" tanya Yusuf


"Kita makan aja berdua, eh bertiga deh ajak bibi, gitu aja repot yang penting kita tidak membuang makanan" jawab Khanza dengan santai sambil memotong sayuran


"Kamu kan tau, mamih itu tidak suka dengan mu, jadi jangan repot repot masak, sayang" sahut Yusuf tidak mau melihat istrinya kecewa jika mamihnya tidak memakan masakannya


"Harusnya kaka dukung aku, untuk mengambil hati mamih, tapi ini mematahkan harapan aku" jawab Khanza duduk lesu


"Maafin kaka, kaka ingin melihat mamih menghargai kamu, tapi itu sangat sulit sayang, mamih itu bukan bunda yang pandai bertutur kata, dan attitude yang baik seperti bunda, kaka senang ternyata istri kaka perhatian sama orangtua kaka, tapi kaka juga tidak ingin melihat mu sedih dan kecewa dengan sikap mamih" tutur Yusuf duduk di depan hadapan Khanza


"Aku juga tidak ingin berlama lama di benci sama mami, aku juga ingin seperti seorang mantu dan mertuanya biasanya saja, tanpa ada dendam atau apapun" ucap Khanza meneteskan air mata


"Ya Allah, jangan menangis sayang, kaka sakit lihat kamu menangis, maafin kaka ya" sahut Yusuf memeluk istrinya memberikan ketenangan


"Aku lanjut masak dulu, setelah selesai masak kita pulang, dan bilang sama bibi ini semua bibi yang buat" ucap Khanza melerai pelukan suaminya


"Kaka bantu memasaknya ya, nanti kita cari waktu lagi untuk main ke sini dan bertemu mamih" sahut Yusuf menghapus air mata Khanza yang masih mengalir


Khanza sedang sibuk membuat masakan untuk mertuanya, ada rasa senang dan ada juga rasa khawatiran.


"Kak, aku sudah selesai, ayo kita pulang" ucap Khanza menghampiri Yusuf yang sedang menata masakan Khanza


"Kaka benar-benar minta maaf ya" sahut Yusuf memeluk kembali tubuh kecil istrinya


"Ayo kita pulang, sebelum mamih bangun dan melihat ku, aku takut mamih melihat ku menjadi emosi dan tambah sakit" ucap Khanza dengan sedih


"Jangan bicara seperti itu, mamih sakit karena dirinya sendiri, bukan kamu penyebabnya" jawab Yusuf

__ADS_1


"Kita langsung pulang aja kerumah kake Niel" sahut Khanza pelan


"Tapi mampir dulu ya ke tempat makan, kita juga belum makan siang" jawab Yusuf membelai pipi halus sang istri


"Makan dirumah kakek Niel aja, aku masakin buat kaka" ucap Khanza


"Nanti kamu kelelahan, belum tugas kampus pasti banyak" sahut Yusuf


"Ya sudah, makan warteg pinggir jalan saja" ucap Khanza mengambil tas yang berada disamping Yusuf


"Kok warteg, yang bagusan sedikit dong" sahut Yusuf kesal karena istrinya suka sekali makan di warteg


"Makan di mana pun, masuk ke dalam perut dan keluar menjadi kotoran, belajar untuk menghargai uang dong kak, bukannya pelit tapi kita belajar bersyukur dengan apa yang kita miliki, kaka bayangkan kita makan di restoran berdua habis jutaan, sedangkan makan di warteg hanya puluhan ribu, kalau kita mengeluarkan jutaan makan diwarteg dapat berapa bungkus dan bisa kita bagikan ke orang yang ada dijalan" tutur Khanza menatap Yusuf


Yusuf mencium kepala istrinya yang terbalut hijab.


"Kaka memang tidak salah pilih istri, terima kasih sudah mengingatkan kaka ya" ucap Yusuf tersenyum


"Saling mengingatkan saja, jika aku ada kesalahan kaka juga wajib menegur aku" jawab Khanza


"Iya sayang, ya sudah kita jalan sekarang, biar cepat sampe rumah kake Niel dan istirahat" ucap Yusuf menggandeng tangan istrinya


Percakapan mereka ternyata dilihat dan di dengar oleh mamih Yusuf, yang sedang menatap ke arah mantu dan anaknya.


"Menurut bibi, apa selama ini saya jahat pada menantu saya?" tanya balik mamih


"Yang bibi lihat, nyonya memang terlalu kejam dengan non Khanza, padahal dia memiliki perasaan yang sangat lembut" jawab bibi dengan hati hati


"Tapi dia katanya tidak bisa memiliki keturunan bi" ucap mamih


"Nyonya sudah yakin jika wanita pilihan nyonya bisa memiliki keturunan?" tanya bibi


Mamih Yusuf hanya terdiam mendengar ucapan bibi.


"Jadi ini bagaimana? nyonya mau makan bersama mereka atau makan sendiri, bibi sih kalau jadi nyonya akan mengajak mereka makan bersama dengan tenang dan nyaman" ucap bibi lagi


"Yusuf, Khanza" teriak mamih saat melihat anaknya sudah berjalan ke arah pintu


Yusuf dan Khanza tersentak mendengar suara yang mereka kenali, sebelum menoleh Yusuf dan Khanza saling pandang, ada perasaan takut melihat maminya.


"Kalian mau kemana lagi?" tanya mamih mendekati anak mantunya dibantu oleh bibi menggunakan kursi roda

__ADS_1


Yusuf menoleh ke sumber suara "Kami mau pulang mih" jawab Yusuf singkat


"Baru datang sudah mau pulang?" tanya mamih kembali


"Kita sudah dari tadi, hanya saja mamih sedang istirahat" jawab Yusuf mengenggam tangan Khanza yang mulai keringat dingin


"Lalu kalian tidak menunggu mamih sampai terbangun?" tanya mamih menatap tajam ke arah Yusuf dan Khanza


"Mih, Yusuf kan kerja dan Khanza juga masih ada tugas kuliah, jadi kita tidak mungkin menunggu lama lagi" jawab Yusuf mulai kesal


"Sebenarnya kan kalian bisa bangunkan mamih jika memang ingin bertemu mamih" ucap mamih ketus


"Terserah mamih mau bicara apa, yang jelas niat kita datang ke sini dengan tulus" sahut Yusuf menaikan nada bicaranya


"Ndak boleh marah marah sama mami" bisik Khanza mengingatkan suaminya


"Kita pulang dulu" ucap Yusuf menarik pelan tangan Khanza


"Tunggu kalian" panggil mamih


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


hai readers terima kasih yang sudah setia membaca "Kesetiaan Cinta Yusuf" terus berikan dukungannya ya dengan cara


πŸ‘πŸΌ like


πŸ“ komen


🎁 hadiah


🎟️ vote


dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :



Cinta Zavier untuk Aisyah πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ


Beda Usia? Tak Masalah πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ


__ADS_1


berikan dukungan juga untuk kedua cerita ini. oh iya sebelum membaca Kesetian Cinta Yusuf baca terlebih dahulu yang no. 1 ya, supaya tidak bingung nantinya, sebab itu cerita ini adalah sambungan dari cerita yang No. 1.


__ADS_2