
"Terima kasih ya bun, sudah mau menerima Yusuf dan Zalin dirumah bunda dan ayah" sahut Yusuf tersenyum
"Ini semua yang kita jalani, sudah ada catatannya di Allah, jadi kita sebagai pemeran nikmati aja kehidupan di dunia ini, yang punya skenario kan Allah langsung" ucap Aisyah
"Coba mamih seperti bunda" sahut Zalin menunduk
"Hust, ndak baik membandingkan orangtua dengan oranglain, sejelek apapun mamih menurut Zalin, itu tetaplah orangtua kalian, jangan di ulangi lagi ya membanding-bandingkan itu ndak benar" ucap Aisyah menatap Zalin
"Tapi mem..." jawab Zalin terpotong
"Cukup ya jangan dilanjutin lagi, ingat baik-baik kita ndak boleh membicarakan kekurangan orang lain, atau saling menjelekan, yang kita ucapkan tentang orang lain bila benar itu ghibah, bila salah itu menjadi fitnah, hati-hati dalam berucap, ucapan yang kita keluarkan adalah doa sayang, jadi berucap yang baik-baik saja" sahut Aisyah mengingatkan semuanya
"Baiklah bunda Zalin tidak akan menjelekan mamih lagi" jawab Zalin memeluk Aisyah lagi
Dimana orangtua ku disaat anaknya butuh pelukan kasih sayang, Ya Allah ampunilah segala dosa hamba dan keluarga hamba. Gumam Yusuf dalam hati melihat kemesraan adik dan bundanya.
Khanza menoleh ke arah Yusuf, mata Yusuf sangat berkaca-kaca. Khanza hanya mengelus bahu Yusuf dengan lembut membuat Yusuf menatap Khanza dengan lembut.
"Bunda harap ndak mendengar kata perpisahan dari kalian berdua ya, sesulit apapun ombak datang menghampiri, bunda harap kalian bisa menjadi keutuhan rumah tangga kalian" ucap Aisyah melihat ke arah Khanza dan Yusuf secara bergantian
"Misal kak Yusuf dan kak Khanza berpisah, aku pasti jadi anak jalanan yang tidak punya keluarga lagi" sahut Zalin sedih
"Apaan sih dek, bicaranya begitu, tadi kan bunda udah bilang ucapan adalah doa, jangan berucap yang aneh lagi" ucap Yusuf menatap Zalin
"Maaf" lirih Zalin
"Ya sudah, Zalin siap-siap ya, kaka dan Kak Yusuf ingin ajak Zalin keluar" ucap Khanza lembut
"Kemana?" tanya Zalin singkat
"Banyak tanya kamu dek" jawab Yusuf
"Ish, orang tanya doang jawabnya begitu" gerutu Zalin masuk ke dalam kamar
"Bunda ndak apa kan kalo hari ini kaka dan Ka Yusuf makan siang di luar mengajak Zalin?" tanya Khanza melihat bundanya
"Ndak apa-apa, pergilah, hibur Zalin, sampe kondisinya tenang, insyaa allah ada jalan keluar terbaik untuk Zalin dan keluarga Yusuf" jawab Aisyah santai
"Atau bunda ikut saja bersama kami" sahut Yusuf
"Kasihan Adi kalo pulang ndak ada orang, jadi kalian saja yang pergi jalan-jalan, apalagi Khanza kan besok masuk kuliah lagi ya nak" ucap Aisyah lembut mengelus bahu Khanza
"Iya bun, doain ya" sahut Khanza pelan
__ADS_1
"Orangtua itu akan selalu mendoakan anaknya terbaik, dan mendoakan keselamatan anaknya, pikiran harus positif, oke" ucap Aisyah memeluk Khanza
"Aku sudah siap, ayoo kita jalan-jalan" sahut Zalin keluar dari kamar
"Tadi aja banyak tanya, sekarang semangat banget" jawab Yusuf sinis
"Ya udah, aku ngga jadi ikut dengan kalian, sana pergi aja berdua" ucap Zalin masuk ke dalam kamar lagi
"Ka Yusuf apaan sih, bikin ngambek Zalin aja deh" sahut Khanza memukul bahu Yusuf, Aisyah hanya tersenyum melihatnya
"Awss, sakit tau, main pukul aja" jawab Yusuf mengelus bahunya
Ceklek ... suara pintu kamar
"Dek, ayoo kita jalan-jalan" ucap Khanza masuk ke kamar yang di pakai Zalin
"Ngga ah, sudah malas dengan kak Yusuf" jawab Zalin tengkurap di kasur
"Kak Yusuf hanya bercanda, dia kan memang begitu, suka nyebelin, tapi sayang keluarga, ayoo, nanti keburu siang dek" ucap Khanza menarik pelan tangan Zalin
"Iya...iya ini demi kak Khanza" jawab Zalin dengan malas keluar kamar
"Jadi juga ikut, lagian denger kata belanja mana tahan" goda Yusuf ke garasi
"Begitu juga sayang sama kamu" ucap Aisyah menenangkan
"Bunda Zalin pergi dulu ya" sahut Zalin memeluk Aisyah, entah kenapa Zalin ini sering sekali memeluk Aisyah bagaikan anak kandung Aisyah, Aisyah juga dengan senang hati menerima pelukan dari Zalin
"Hati-hati dijalan, Yusuf jangan ngebut ya" ucap Aisyah peringati semua anaknya agar tetap hati-hati
"Siap bunda, kita pamit dulu ya" jawab Yusuf mencium tangan Aisyah sebelum pergi dan di ikuti oleh Khanza serta Zalin
Jadi ingat adiknya Khanza yang tidak sempat lahir ke dunia ini, sayang tunggu bunda ya di surga, bantu bunda supaya bisa melihat mu disurganya Allah. Gumam Aisyah dalam hati dan meneteskan airmata
"Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah, Ya Allah maafkan lah hamba mu ini" ucap Aisyan pelan masuk ke dalam kamar
Dalam mobil.
"Kita kemana?" tanya Yusuf melirik Khanza sebentar
"Mall aja, kasihan nih si bontot, biar dia belanja sedikit aja terus makan siang di luar cari yang enak, ndak a0a kan?" jawab Khanza pelan
"Ndak apa dong, justru aku senang" sahut Yusuf tersenyum
__ADS_1
"Ingat dong ada jomblo nih, malah mesra-mesraan gitu" ucap Zalin cemberut
"Biarin jomblo terhormat, dari pada jomblo bekas" jawab Yusuf santai
"Ka Yusuf, bicaranya ndak boleh begitu" sahut Khanza mengingatkan
"Iya sayang maaf" ucap Yusuf lembut
"Huh, mesra-mesraan lagi" sahut Zalin
"Dek, kaka ini kan sudah menikah, jadi wajar mesra dengan istri, kecuali kamu lagi lihat kaka dengan cewe lain mesra baru kamu marah dan tegur kaka, nanti suatu saat kamu juga akan merasakan kok" jawab Yusuf lembut
"Masih jauh kali untuk aku" ucap Zalin
"Iya, takdir tidak ada yang tau, bisa aja habis lulus, eh ada yang lamar" sahut Yusuf melirik Khanza
"Masa kaya kaka mu tiba-tiba melamar" timpal Khanza sambil memainkan ponsel
"Hahaha, itu namanya kita jodoh sayang" ucap Yusuf santai
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Kesetiaan Cinta Yusuf" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Beda Usia, Tak Masalah ππΌππποΈ
Berikan dukungan juga untuk Kedua cerita ini. Oh iya sebelum membaca Kesetian Cinta Yusuf baca terlebih dahulu yang No. 1 ya, karena masih sambungan cerita
__ADS_1