KESETIAAN CINTA YUSUF

KESETIAAN CINTA YUSUF
Membuat Rencana Baru


__ADS_3

Khanza hanya tersenyum, dia khawatir suatu saat Yusuf akan meninggalkannya demi mamih yang sudah melahirkan Yusuf, mungkin jika perpisahan itu terjadi Khanza tidak bisa tegar. Tapi Khanza sekarang sudah memikirkan dan mempersiapkan semua hal yang terjadi tentang rumah tangganya saat ini.


Semoga kamu benar benar mempertahankan rumah tangga ini kak, dan akan selalu terbuka serta jujur pada aku.


Yusuf dan Khanza mengabari kakek dan neneknya, bahwa mereka tidak pulang malam ini karena Yusuf memesankan kamar hotel untuk bermalam. Itu semua membuat sang kakek sangat senang cucunya menginap di hotel.


Yusuf masih saja terdiam dan tidak banyak bicara, pikirannya membuat dia tidak konsentrasi.


"Kaka butuh sesuatu?" tanya Khanza dengan lembut dan ada rasa sedih mengingat semua pernyataan dari Yusuf


"Tidak, kemarilah, kaka hanya ingin memeluk kamu saja" ucap Yusuf merentangkan kedua tangannya


Khanza mendekati suaminya dan masuk dalam pelukan sang suami, entah perasaan apa yang mereka rasakan saat ini.


"Jika kaka sudah bingung dan segala macam dengan keinginan mamih, aku hanya minta satu sama kaka, pulangkan aku secara baik baik kepada ayah dan bunda" ucap Khanza sendu


"Kenapa bahas itu" sahut Yusuf


"Aku hanya mengingatkan saja kok" ucap Khanza menahan tangisnya


"Apa kamu benci dengan mamih?" tanya Yusuf


"Aku tidak punya hak untuk membenci mamih, aku sendiri masih banyak kekurangan jadi untuk apa membenci orang yang tidak suka dengan aku" jawab Khanza asal


"Kaka mewakili mamih, mohon maaf pada mu, apabila sikap mamih selalu ketus" ucap Yusuf mencium kepala Khanza


"Kita disini hanya malam ini saja kan?" tanya Khanza


"Kenapa? apa kamu tidak betah berlama lama dengan kaka?" tanya balik Yusuf


"Bukan begitu, kita kan tidak membawa pakaian salin, mau tidak mau besok harus pulang mengganti pakaian dan aku harus kuliah" jawab Khanza


"Iya sayang, besok pagi kita pulang, bagaimana kalau misalkan kita pindah rumah ke jakarta, memulai hidup dari nol disana?" tanya Yusuf terlihat serius


"Aku mau saja, tapi ayah dan bunda apa setuju" jawab Khanza


"Bukankah seorang istri harus mengikuti kemana suaminya pergi?" ucap Yusuf menatap Khanza


"Iya" jawab Khanza singkat jelas padat


"Jadi kenapa semua yang kita lakukan harus melewati persetujuan ayah dan bunda, apa mereka tidak percaya dengan kaka" ucap Yusuf


"Bukan kah lebih baik sebelum kita bertindak, harus berkonsultasi pada orang yang lebih lama menjalani pahit manisnya kehidupan rumah tangga?" jawab Khanza


"Tapi kan kehidupan rumah tangga orang beda beda, tidak sama semua, jadi lebih baik juga kita bangun istana kita sendiri tanpa campur tangan orangtua kita" ucap Yusuf yakin


"Kaka serius ini?" tanya Khanza menatap suaminya


"Kamu pikir kaka sedang bergurau gitu" jawab Yusuf menarik hidung Khanza

__ADS_1


"Aku ikut keputusan kaka saja, apabila itu semua yang terbaik untuk kita" ucap Khanza


"Bagaimana kalau bulan depan kita mulai mencari rumah di daerah jakarta, setelah dapat baru kita bisa langsung pindah" tanya Yusuf antusias


"Kuliah ku bagaimana?" tanya balik Khanza yang terlihat enggan jauh dari kota kelahirannya


"Kuliah bisa pindah, nanti saat kita mencari rumah, sekalian kita cari kampus untuk kamu menimba ilmu" jawab Yusuf yakin


"Ya, aku baiknya menurut kaka deh" ucap Khanza


"Apa sebenarnya kamu berat meninggalkan keluarga mu disini?" tebak Yusuf saat melihat raut wajah sang istri


"Mau jawaban jujur atau bohong" ledek Khanza


"Jujurlah, sejak kapan seorang Adiba Khanza Zavier menjadi pembohong" ucap Yusuf tertawa


"Iya, aku sangat berat meninggalkan ini semua, jauh dari bunda, ayah dan Adi" sahut Khanza jujur


"Sudah ku duga, pasti kamu berat meninggalkan mereka" ucap Yusuf mencubit kedua pipi Khanza


"Ih, jangan cubit cubit, nanti tembem pipi ku" sahut Khanza kesel


"Aku suka kamu tembem, enak buat dicium cium lebih empuk, hahaha" ucap Yusuf tertawa


"Ngaco aja, nanti aku jadi jelek, terus kaka ninggalin aku" sahut Khanza cemberut


"Eh, kok bicaranya begitu, kaka tidak mau mendengar kamu bicara begitu lagi" ucap Yusuf tegas


"Kita istirahat, supaya besok segar dan semangat" ucap Yusuf tersenyum


"Besok kita jenguk mamih ya?" ajak Khanza


"Untuk apa?" tanya Yusuf panik


"Emang aku tidak boleh menjenguk mamih, orangtua ku sendiri, terus kenapa kaka jadi panik begitu?" tanya Khanza heran


"Aku hanya tidak mau kamu di sakiti sama mamih, jadi tidak perlu kesana" jawab Yusuf


"Gimana mamih mau suka sama aku, kalau kaka aja sekarang menjauhkan aku pada mamih, itu sangat jelas mamih akan semakin tidak suka sama aku" ucap Khanza apa adanya


"Ya Allah, bukan begitu sayang, nanti kamu dihina dan di caci maki oleh mamih bagaimana?" tanya Yusuf khawatir


"Bukannya itu hal biasa, yang sering mamih lalukan padaku, aku juga tidak akan mengambil kata kata mamih kok" jawab Khanza


"Jangan ya sayang, besok kita cari kegiatan lain aja" ucap Yusuf


"Please, izinkan aku ketemu sama mamih ya" mohon Khanza pada Yusuf


"Baiklah, tapi hanya sebentar, tidak boleh lama, dan kamu jangan pernah membantah omongan kaka saat disana" ucap Yusuf memberi peringatan

__ADS_1


"Siap pak bos" sahut Khanza memberi hormat


"Uhhh, gemes deh" ucap Yusuf mencium pipi Khanza


Kakek Niel memberitahu pada Arnold dan Aisyah tentang Khanza yang malam ini tidak pulang dan bermalam di salah satu hotel, awalnya Arnold kaget dan heran kenapa harus menginap di hotel, dirumah kakeknya kan untuk ruang pribadi khusus diberikan untuk Khanza dan Yusuf.


Arnold yang tadinya berniat ingin bertanya langsung pada Yusuf, akhirnya tidak jadi, sebab Aisyah sudah memberikan tatapan tajam pada Arnold agar sang suami tidak mengganggu waktu bersama Khanza dengan Yusuf.


Dengan terpaksa Arnold membatalkan bertanya, dan membuat dirinya khawatir dengan Putri satu satunya itu.


"Ya Allah, ayah, bisa tidak diam tenang gitu" ucap Aisyah menatap suaminya


"Apa ayah salah khawatir dengan Khanza? bunda juga melarang ayah untuk menghubungi mereka" sahut Arnold bete


"Ayah sayang, mereka itu sudah menikah, bukan pacaran, jadi wajar jika suaminya ingin menghabiskan waktu berdua sama istrinya" ucap Aisyah tidak habis pikir dengan suaminya ini


"Kalau Kaka disakiti bagaimana?" tanya Arnold sengaja memancing Aisyah


"Istighfar, Astaghfirullah, omongan itu doa, ndak baik tau" jawab Aisyah kesal


"Sebentar doang ya ayah telpon Khanza" ucap Arnold memohon


"NO, jangan ganggu anak kita, biarkan Khanza menjadi wanita yang lebih dewasa dan menjadi matahari di dalam rumah tangga sendiri, kita jangan ikut campur urusan mereka, walaupun itu anak kandung kita loh" jawab Aisyah dengan lembut


"Huufttt, bunda nyebelin" ucap Arnold masuk ke dalam kamarnya.


"Seperti anak kecil aja sampe merajuk begitu" lirih Aisyah


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


hai readers terima kasih yang sudah setia membaca "Kesetiaan Cinta Yusuf" terus berikan dukungannya ya dengan cara


πŸ‘πŸΌ like


πŸ“ komen


🎁 hadiah


🎟️ vote


dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :



Cinta Zavier untuk Aisyah πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ


Beda Usia? Tak Masalah πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ


__ADS_1


berikan dukungan juga untuk kedua cerita ini. oh iya sebelum membaca Kesetian Cinta Yusuf baca terlebih dahulu yang no. 1 ya, supaya tidak bingung nantinya, sebab itu cerita ini adalah sambungan dari cerita yang No. 1.


__ADS_2