
Adi juga berangkat ke kantor tanpa pamitan pada Aira.
"Bunda panggil Aira, suruh dia sarapan" ucap Arnold di saat bibi datang memberikan air putih tambahan
"Non Aira sudah sarapan, pak" sahut bibi
"Kapan?" tanya Arnold
"Tadi pagi sebelum bapak dan ibu keluar kamar, dia minta izin pada bibi makan lebih dulu karena tumben katanya terasa lapar" jawab bibi
"Terima kasih bi, informasinya" ucap Aisyah
"Ada apa dengan Adi dan Aira" pikir Arnold
"Mungkin hanya kesalahpaham kecil, wajar saja, bukankah kita dulu begitu" ucap Aisyah santai
"Bunda tidak mau tanya sama Aira?" tanya Arnold
"Takut Aira tidak nyaman jika bunda bertanya perihal rumah tangganya, jadi biarkan mereka berdua yang mengatasi, kita cukup jadi penonton saja, nanti jadi bumerang untuk rumah tangganya jika kita terlalu ikut campur, mereka juga sudah pada dewasa" jawab Aisyah
"Selalu begitu jawabannya, ayah tuh hanya kasihan dengan Aira, nanti dia canggung apabila mau sesuatu, dan apalagi tadi sarapan dia tidak menemani Adi' ucap Arnold
Ceklek... Suara pintu kamar terbuka
"Aira, sayang sudah makan?" tanya Aisyah lembut
"Alhamdulillah sudah bunda, mas Adi mana bun?" tanya Aira polos
"Adi berangkat ke kantor, memangnya tidak pamit kamu?" jawab Aisyah pura-pura tidak tau
"Tidak bun, tadi hanya bilang mau ke meja makan duluan, karena aku tadi lagi teleponan dengan umi" ucap Aira duduk di samping bundanya
"Tadi dia buru-buru, ayah suruh cepat sampai kantor, ada hal penting" timpal Arnold
"Oh" ucap Aira
Apa mas Adi masih marah dengan ku, biarlah aku juga bingung harus menanggapinya gimana, karena memang aku belum terlalu paham dengan sikap dan sifat mas Adi. Batin Aira
"Apa Aira mau mencoba membawakan makan siang nanti untuk Adi ke kantor?" tanya Aisyah
"Nanti mas Adi marah bun, lebih baik tidak usah deh" jawab Aira enggan bertemu Adi
"Aira terakhir kuliah kapan?" tanya Arnold
__ADS_1
"Sebelum balik lagi kerja di cafe bunda, Aira lupa" jawab Aira
"Lalu putus kuliah karena apa?" tanya Arnold lagi
"Masalah biaya, waktu itu pas kebetulan adik-adik Aira lagi membutuhkannya jadi terpaksa Aira yang mengalah" jawab Aira
"Aira mau kuliah lagi?" tanya Aisyah
"Kalau ada kesempatannya, Aira ingin merasakan kuliah lagi hingga wisuda, tapi apa daya sepertinya tidak mungkin Aira kuliah lagi" jawab Aira sendu
"Kenapa tidak mungkin?" tanya Arnold menambahi
"Tidak mungkin karena status Aira seorang istri, kedua Aira juga sedang mengandung, ketiga Aira tidak dapat izin terakhir Aira juga harud ada biaya dulu, tidak mungkin Aira minta pada Abi" jawab Aira benar-benar polos
"Apa Adi tidak mengizinkanmu kuliah?" tanya Arnold memancing Aira
"Tidak" jawab Aira singkat
Arnold dan Aisyah hanya saling pandang, bingung sudah pasti padahal terakhir, Adi pernah bilang akan memberikan izin untuk Aira melanjutkan pendidikannya.
"Kamu sudah tanya sama Adi?" tanya Arnold
"Sudah, lalu katanya dia ragu mengizinkan aku kuliah, takut aku dekat teman laki-laki" jawab Aira
"Sekarang apa yang kamu rasakan, ada keluhan di awal kehamilan?" tanya Aisyah beralih mengganti topik
"Hanya lebih sering ngantuk dan lapar saja, bun" jawab Aira
"Itu hal wajar" sahut Arnold
Arnold, Aisyah dan Aira sedang asik berdiskusi ringan tentang kehamilan dan lain-lain.
Rumah Yusuf
"Zalin, persiapkan dirimu ya, besok temannya ayah akan datang ke sini" ucap Khanza
"Iya kak, Zalin kenapa jadi deg degan gini ya" jawab Zalin memegang dadanya
"Masih besok, Zalin. Masa sudah gerogi dari sekaranh" ucap Khanza
"Tapi ini bener kak, huftt semoga saja dia bener jodoh Zalin deh, males kalau harus ganti lagi ketemu cowo yang kebanyakan begitu deh" jawab Zalin
"Papih juga rencana besok akan kesini lebih awal" ucap Khanza
__ADS_1
"Untuk apa datang lebih awal? Mencari keributan" jawab Zalin
"Kamu pikir papih begitu ya orangnya?" tanya Khanza
"Tidak juga sih, bisa jadi dia datang dengan mak lampirnya itu" jawab Zalin memancing kakak iparnya
"Husstt, sama orangtua tidak baik bicara begitu, kamu sendiri yang bilang, seburuk apapun mamih itu tetap orangtua kita" ucap Khanza tegas
"Ya maaf, suka kesel aja kalau terbayang tingkahnya" jawab Zalin senyum
Ternyata kak Khanza tidak ikut menjelekan mamih, padahal sering aku pancing, tapi dia masih menghargai mamih ku yang seperti iblis. Batin Zalin
"Sudah jangan bicara kejelekan mamih, kakak lagi bahas kamu, jika kalian berjodoh lalu segera menikah bagaimana" ucap Khanza
"Dengan senang hati dong walau tidak ada rasa cinta" jawab Zalin
"Insyaa allah kita juga berkeinginan agar kamu mendapatkan imam yang baik dan bisa membawa mu kejalan yang selalu lurus" ucap Khanza tersenyum
"Aamiin, doain Zalin terus ya kak, jika Zalin tidak bahagia, kakak bantu Zalin ya" jawab Zalin serius
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
hai readers terima kasih yang sudah setia membaca "Kesetiaan Cinta Yusuf" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ like
π komen
π hadiah
ποΈ vote
dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Beda Usia? Tak Masalah ππΌππποΈ
berikan dukungan juga untuk kedua cerita ini. oh iya sebelum membaca Kesetian Cinta Yusuf baca terlebih dahulu yang no. 1 ya, supaya tidak bingung nantinya, sebab itu cerita ini adalah sambungan dari cerita yang No. 1.
__ADS_1