
Khanza yang merasakan tangan Yusuf semakin lama semakin dingin dan berkeringat melihat wajah Yusuf yang tegang.
"Kita pulang aja yuk kak, antriannya masih lama" ucap Khanza bohong
"Sudah terlanjur disini" jawab Yusuf pelan
"Loh, bu Khanza ada apa kesini lagi? atau butuh copyan rekaman medis kesehatan ibu lagi" tanya seorang dokter wanita yang bernama Delima
Khanza bingung harus jawab apa, karena disebelahnya ada Yusuf.
"Maksud dokter apa?" tanya Yusuf pelan
"Iya beberapa minggu yang lalu, Ibu Khanza ini pernah tes kandungan dan cek up kesehatan" jawab Dokter Delima
"Terima kasih dok infonya, saya kesini ingin mengecek kesehatan saya saja" ucap Yusuf ramah
"Baiklah, kalo perlu apa-apa hubungi saya saja, Ibu Khanza kan sudah memiliki kontak saya" sahut dokter tersenyum dan meninggalkan Yusuf Khanza
"Apa ini maksudnya Khanza?" tanya Yusuf menatap Khanza
"Aku ndak ada maksud apa-apa kak" jawab Khanza pelan
"Kamu sudah pernah cek, dan rahim kamu baik-baik saja, lalu tujuan kamu mengajak kembali ke rumah sakit ini apa? kamu ingin tau aku sehata apa tidak, IYA" ucap Yusuf kesal
"Bukan gitu" jawab Khanza
"Jika kamu memang ingin aku cek kesehatan ku, kamu setidaknya bilang aja dengan jujur, ngga usah pura-pura kamu yang mau cek up, aku semakin yakin kenapa kamu belum hamil, karena aku yang mandul" ucap Yusuf menahan amarah
"Sumpah kak, aku ndak maksud apapun, aku murni ingin cek kembali kesehatan aku" sahut Khanza sedikir berbisik
"Kita kerumah mamih, dan aku akan mengatakan bahwa disini aku yang sulit mempunyai anak, bukan kamu" ucap Yusuf menarik tangan Khanza keluar rumah sakit
"Kaka jangan buat statemen yang belum pasti, kita kan belum cek, kenapa sekarang kaka beranggapan mandul sih" jawab Khanza tenang setelah masuk ke dalam mobil
Yusuf mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah mamihnya. Sampai dirumah Yusuf berpas-pasan dengan papihnya
"Ada apa Yusuf kamu terlihat menahan amarah" tanya papih tenang
Yusuf mengabaikan pertanyaan papih, papih langsung melihat Khanza keluar dari mobil.
"Ada apa ini nak?" tanya papih pada Khanza
"Pih, kak Yusuf lagi marah sekali dengan mamih, tapi alasannya belum tau apa" jawab Khanza mengajak papihnya ikut masuk kedalam rumah
Di dalam rumah
"Mamih" teriak Yusuf menahan amarah
__ADS_1
"Mamih keluar lah" teriak Yusuf lagi
"Kak Yusuf apa-apaan sih panggil mamih teriak bergitu , ndak baik" ucap Khanza menenangkan Yusuf
"Kamu kali ini jangan ikut campur urusan aku dengan mamih" jawab Yusuf menatap Khanza
"Tapi bukan begini caranya, ingat kak, mamih adalah orangtua kak Yusuf, yang melahirkan kak Yusuf, jadi kak Yusuf ngga pantas teriak begitu" sahut Khanza masih mencoba meredam amarah suaminya
"Ada apa ini? kenapa kamu teriak memanggil mamih, sudah bosan kamu dengan mamih atau ajaran istrimu yang membuat kamu kurang ajar seperti ini" ucap mamih turun dari tangga
Papih yang melihat ingin menghampiri mamih, tapi di tahan oleh Khanza.
"Hahahahaha" ketawa Yusuf menggelegar
"Apa mamih bilang, Otak Yusuf di cuci oleh Khanza? Hahaha" ucap Yusuf lagi tertawa heran melihat tingkat mamihnya semakin tua semakin julid
Yusuf jalan mendekat pada mamihnya.
"Mamih dan Papih dengarkan ucapan Yusuf baik-baik, selama ini yang MANDUL BUKANLAH KHANZA MELAINKAN YUSUF SENDIRI YANG TIDAK BISA MEMILIKI ANAK" ucap Yusuf lantang dan tegas
"Apa maksud kamu?" tanya mamih memastikan omongan anaknya salah
"Ternyata pendengaran mamih sudah berkurang ya, YUSUF MANDUL" jawab Yusuf penuh penekanan
"PUAS MAMIH, MAMIH YANG SELALU MENGHINA KHANZA MANDUL TERNYATA ANAK MAMIHLAH YANG BERMASALAH" teriak Yusuf emosi dengan nafas yang ngga beraturan
"Yusuf pulang lah" sahut papih setuju dengan Khanza
"Oh iya, Yusuf akan bertanggung jawab dengan Zalin, Yusuf akan membawa Zalin, terserah kalian mau bercerai apa tidak, perceraian kalian itu kesepakatan kalian bukan kesalahan oranglain, tapi ke egoisan dari kalian berdua" ucap Yusuf menarik tangan Khanza keluar dari rumah orangtuanya
Apa maksud kak Yusuf, papih dan mamih bercerai. batin Khanza penuh pertanyaan
Didalam mobil Yusuf masih terlihat emosi, Khanza belum berani menanyakan sesuatu tentang papih mamihnya dan juga Zalin.
"Secepatnya kita cari rumah, dan apa kamu keberatan apabila Zalin hidup dengan kita" tanya Yusuf pelan
"Bagaimana kalo kita sewa apartemen ayah dulu aja, lalu kita cepat membawa Zalin hidup dengan kita" jawab Khanza memberikan usul
"Otak ku mentok, nanti aku coba tanya langsung pada ayah" sahut Yusuf bingung
"Apa aku perlu ikut andil bilang dengan ayah?" tanya Khanza hati-hati
"Biar aku saja yang bicara dengan ayah, huft, maaf ya" jawab Yusuf pelan fokus pada jalan di depannya
"Ngga seharunya kaka mengambil kesimpulan bahwa kaka Mandul, kan kaka sendiri yang bilang, jika kita belum punya anak tandanya Allah menginginkan kita untuk pacaran lebih lama" ucap Khanza lembut
Maaf Khanza, kaka melakukan ini agar mamih tidak lagi menghina kamu lagi. Gumam Yusuf dalam hati
__ADS_1
"Kaka kok melamun, mikirin apa?" tanya Khanza pelan
"Makasih ya, sudah ada buat kaka, dengan kekurangan emosi yang naik turun ini" jawab Yusuf melirik Khanza
"Aku juga sama belum bisa mengatur emosi yang aku miliki, gimana kalo sekarang kita ke kantor ayah, kamu bicara disana, aku akan menunggu di ruangan uncle Andre" ucap Khanza tersenyum
"Baiklah kita ke kantor ayah sekarang" sahut Yusuf tersenyum manis pada Khanza
"Gitu dong senyum, tambah tampan deh kalo lagi senyum" ucap Khanza menggoda Yusuf
"Hmm, sudah pandai menggoda ya kamu ini, nanti kaka khilaf disini loh" sahut Yusuf tersenyum lagi
"Hahaha, memang kaka aja yang mesum otaknya" jawab Khanza tertawa kecil
"Mesum dengan istri sendiri ngga masalah buat ku, yang penting aku bahagia, kan menyenangkan suapi pahala bukan?" ucap Yusuf mengedipkan sebelah matanya
"Ih genit, pake segala main mata" jawab Khanza menutup matanya
"Hahahaha, makasih ya untuk segala-galanya" ucap Yusuf melepaskan tangan Khanza dari wajah Khanza
"Terima kasih juga selalu mendukung dan melindungi ku dari orang-orang yang jahat pada ku" sahut Khanza melihat Yusuf
"Termasuk mamih?" tanya Yusuf menatap Khanza saat lampu lalu lintas berwarna merah
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Kesetiaan Cinta Yusuf" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Beda Usia, Tak Masalah ππΌππποΈ
Berikan dukungan juga untuk Kedua cerita ini. Oh iya sebelum membaca Kesetian Cinta Yusuf baca terlebih dahulu yang No. 1 ya, karena masih sambungan cerita
__ADS_1