
Menunggu makanan di hidangkan, Zalin lebih banyak bercerita tentang hidup dirumah keluarga Zavier. Dia juga bercerita menempati kamar Adi dan Adi dengan rela serta senang hati memberikan kamar pribadinya untuk Zalin tempati dan dia memilih tidur bersama dengan ayah bundanya.
Arnold bahkan anak laki-laki kamu bersedia menyerahkan milik pribadinya pada anakku, dan kamu rela tidur di dalam satu kamar bertiga dengan anakmu. maafkan aku Arnold, aku akan membalas semua kebaikan dan aku saat ini hanya bisa berdoa semoga keluargamu selalu dalam lindungan Allah SWT. Gumam papih dalam hati merasa terharu dengan keluarga Zavier pada Zalin dan Yusuf.
Mereka semua makan dengan tenang, sesekali hanya bicara. Setelah makan Zalin mengajak papihnya untuk menemani dirinya jalan-jalan di mall.
Zalin sudah mulai merasa lelah dan bosen, dia mengajak Khanza dan Yusuf untuk kembali pulang ke rumah Arnold.
"Pih, ikut yuk kerumah ayah Arnold" ucap Zalin bergelayutan di lengan papihnya
"Papih masih ada kegiatan lain, sayang. Nanti deh ya, papih akan berkunjung kesana, menjenguk kamu" sahut papi merangkul Zalin dengan perasaan bahagia
"Huh, tidak seru papih ini" ucap Zalin cemberut
"Begini saja, papih selesai beberapa pekerjaan di kantor, nanti sore papih akan ke rumah ayah Arnold" jawab papih menatap Zalin
"Janji ya pih, jangan php, nanti Zalin sedih loh" sahut Zalin menunduk
"Papih janji sama Zalin, apa pernah janji papih tidak di tepati?" tanya papih memegang pipi anak gadisnya
Zalin hanya menggeleng kepala menatap mata papihnya yang terlihat lelah.
"Misalkan papih tidak jadi datang, papih harus kabarin Zalin, agar Zalin tidak menunggu papih" ucap Zalin
"Pasti sayang" sahut papih mencium kepala Zalin
Yusuf, Khanza dan Zalin mengangar papihnya sampai ke Lobby menunggu supir kepercayaannya, sementara Yusuf, Khanza dan Zalin berjalan beriringan ke arah parkiran yang berada di basemen.
Yusuf dan Khanza bercanda di dalam mobil untuk menghibur Zalin. Zalin terlihat senang, tapi sorot matanya mengatakan sedang sedih.
Yusuf berusaha dengan Khanza untuk membuat lelucon atau tebak-tebakan, agar Zalin tertawa.
"Zalin, lihat tuh sebelah kiri, ada badut joget" ucap Yusuf membuat Zalin menoleh
"Ahhh...ahhhh, kaka cepatan jalan, Zalin takut" teriak Zalin saat melihat badut bergoyang dekat kaca mobil Yusuf
"Kaka buka ya kaca mobilnya" ledek Yusuf
"JANGAN" teriak Zalin panik "Kaka Khanza tolong Zalin, bilang kak Yusuf suruh jalan cepetan" ucap Zalin menutup wajahnya dengan bantal kecil yang tersedia di dalam mobil
"Ini lagi lampu merah, bagaimana bisa jalan, nanti kaka mu yang ketilang" sahut Khanza kasihan dengan Zalin
__ADS_1
Dengan gerakan cepat Zalin melangkahkan kakinya ke kursi penumpang bagian depan yang diduduki Khanza. Khanza sangat terkejut dengan tingkah Zalin.
"Astaghfirullah dek, ngapain kamu pindah ke depan kasihan kak Khanza" ucap Yusuf panik
"Zalin takut kaka" sahut Zalin pelan
"Zalin sayang itu hanya orang di dandani, bukan apa-apa, kalau Zalin seperti ini polisi nanti curiga" ucap Khanza lembut
"Bukan dia itu orang jahat" teriak Zalin menyembunyikan wajahnya di bagian dada Khanza. Khanza yang merasa pegal Zalin duduk di pangkuannya bersikap tenang.
"Kok orang jahat sih?" tanya Khanza bingung
"Dia itu dulu waktu kecil umur empat tahun pernah di culik sama badut seperti itu, makanya dia trauma, padahal sudah di bawa ke psikiater konsultasi, entah kenapa sulit sekali menghilangkan bayangan badut penculik dulu" tutur Yusuf menjelaskan dengan
"Astaghfirullah, pantas saja Zalin sampai seperti ini" ucap Khanza memeluk Zalin
"Apa sudah jauh dengan orang jahat itu?" tanya Zalin dengan lirih, dia juga tidak tega duduk di atas Khanza
"Sudah dari tadikan, mobilnya sudah melaju ini dek" jawab Yusuf tenang
Tatapan Zalin melihat sekelilingnya, benar saja mobil yang dinaiki sudah melaju, bahkan sudah mau sampai di rumah keluarga Zavier.
Dirumah Zavier, Zalin berlari masuk ke dalam kamar, Aisyah yang melihat Zalin berlari ketakutan sangat bingung.
"Ndak apa-apa bunda, Yusuf temani sebentar ya" jawab Yusuf tenang, Khanza menganggukan kepala tanda setuju.
"Zalin Kenapa?" tanya Aisyah penasaran dan khawatir
"Tadi ada badut di lampu merah, dia sampai loncat ke bangku depan duduk di atas Kaka" jawab Khanza santai
"Sebegitunya dia takut, dengan badut?" tanya Aisyah lagi
"Kata kak Yusuf punya trauma saat kecil, Zalin di culik, makanya begitu deh traumanya kambuh" jawab Khanza mencicipi puding buatan bundanya
"Ya Allah kasihan sekali Zalin, bunda temui dia dulu ya agar Zalin lebih tenang" ucap Aisyah membelai kepala Khanza yang terbalut hijabnya
"Silahkan bunda ku tersayang" sahut Khanza memeluk sebentar bundanya
Aisyah masuk ke dalam kamar yang di tempati Zalin, dan melihat Yusuf sedang merayunya, agar sang adik membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Yusuf, biarkan bunda saja ya, kamu istirahat dengan Khanza, jangan lupa bersih-bersih, Zalin urusan bunda" ucap Aisyah yang duduk di sisi Zalin sambil mengelus kepalanya
__ADS_1
"Terima kasih bunda, tapi Yusuf ingin tau kondisi Zalin dulu" sahut Yusuf berat meninggalkan adiknya
"Nanti setelah tenang ya, istirahat lah" jawab Aisyah lembut penuh kasih sayang
"Baik bunda, Yusuf dan Khanza istirahat sejenak" ucap Yusuf keluar dari kamar Zalin
"Gimana, apa Zalin baik-baik aja?" tanya Khanza membawa air mineral untuk Yusuf
"Mengurung dirinya dalam selimut" jawab Yusuf apa adanya
"Kamu sih, orang udah bener dia ndak lihat, malahan di panggil suruh menoleh" ucap Khanza gemas dengan Yusuf, tau adiknya punya trauma tapi masih di isengin
"Semoga bunda bisa memberikan ketenangan untuk Zalin, entah kenapa aku merasa bunda jadi lebih sayang Zalin dari pada aku" jawab Yusuf cemberut
"Hahaha, masa iri dengan Zalin, harusnya tuh aku yang iri, itu kan bunda aku, aku aja santai masa kamu iri sama adik sendiri" ucap Khanza tertawa
"Kasih sayangnya berkurang untuk ku" sahut Yusuf pura-pura kesal sebenarnya
*******************
Maaf ya baru bisa update lagi, karena sedang padat sekali pekerjaan lain diluar menulis. Apabila sudah stabil. Insyaa Allah akan kembali update setiap harinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Kesetiaan Cinta Yusuf" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Beda Usia, Tak Masalah ππΌππποΈ
__ADS_1
Berikan dukungan juga untuk Kedua cerita ini. Oh iya sebelum membaca Kesetian Cinta Yusuf baca terlebih dahulu yang No. 1 ya, karena masih sambungan cerita