KESETIAAN CINTA YUSUF

KESETIAAN CINTA YUSUF
Kehebohan Yusuf dan Khanza


__ADS_3

"Mamih bicara apa sih" tegur papih tegas


"Kamu mau kemana nak?" tanya papih lembut


"Tidak kemana-mana pih, ada urusan aja sebentar" jawab Khanza senyum pada papihnya


"Aku akan antar, tidak ada penolakan" ucap Yusuf mengajak istrinya ke dalam mobil


Selama dalam perjalanan Yusuf mengikuti arahan petunjuk jalan dari istrinya, Yusuf heran kenapa istrinya ke rumah sakit.


"Ngapain kita kesini? apa kamu sakit?" tanya Yusuf penasaran


"Kamu tunggu sini aja, aku sebentar" jawab Khanza mengabaikan pertanyaan suaminya dan segera berlari, Yusuf jadi tidak bisa menahannya, serta kehilangan jejak Khanza


"Ada apa dengan Khanza?" Gumam Yusuf pelan


Khanza kerumah sakit meminta hasil cek up dia yang menunjukan kalau dia sehat dan rahimnya bagus, kemarin hasilnya dia titipkan pada dokter agar tidak ada yang mengetahui jika dia habis periksa, dan dia juga melakukan visum setiap kali habis di sakiti mamihnya, setelah urusan rumah sakit selesai Khanza kembali ke parkiran menemui suaminya.


"Ada urusan apa kamu ke sini?" tanya Yusuf penasaran


"Hanya jenguk teman" jawab Khanza bohong


"Kita langsung pulang?" tanya Yusuf pelan


"Aku masih ada urusan di satu tempat, jika kamu mau pulang duluan silahkan, aku bisa naik taxi" jawab Khanza tenang


"Aku antar kamu lagi" ucap Yusuf cepat


Setiap Yusuf bicara, Khanza hanya diam. Yusuf sangat terkejut tujuan istrinya yang kedua membuat dia panik.


"Kamu ada urusan apa ke sini?" tanya Yusuf menatap tajam Khanza


"Membuat laporan perceraian kita kak, kalau cerai itu kan kita harus datang ke pengadilan agama, kebetulan kamu ikut kan" jawab Khanza tenang


"Kamu sudah gila apa, sampai kapan pun aku tidak mau pisah sama kamu" ucap Yusuf meninggikan suaranya

__ADS_1


"Kenapa? bukannya kamu lelah sama aku yang memiliki sifat manja dan cengeng, lalu jika kita sudah tidak ada ke cocokan untuk apa di pertahankan? untuk saling menyakiti? lebih baik kita cerai kan" jawab Khanza yang sudah terbawa emosi dari tadi


"Aku katakan sama kamu, SAMPAI KAPANPUN TIDAK AKAN PERNAH MAU AKU PISAH" ucap Yusuf penuh penekanan


"Apa yang kamu harapkan dari aku?" tanya Khanza menatap suaminya


"Aku ingin memiliki keluarga yang Sakinah Mawadah dan Waramah" ucap Yusuf tenang


"Kak, Sakinah itu tenang, dalam rumah tangga memberikan rasa tenang dan nyaman, Mawaddah yaitu Kasih Sayang,saling menerima kekurangan dan kelebihan Waramah cinta karena Allah, lembut dan melindungi, lalu apa yang aku dapat dari kamu, udah satu bulan ini kamu juga mengabaikan aku, aku tau tugas kamu pada ibumu itu masih kewajiban mu, aku tidak larang itu, bahkan tadi malam saja kamu berkata kasar pada ku, jadi untuk apa kita lanjutin hanya untuk saling menyakiti" jawab Khanza setenang mungkin


"Aku tidak akan pisah sama kamu" ucap Yusuf tegas dan kembali mengendarai mobilnya keluar dari tempatnya penghuni para dasim


"Kak kenapa kita malah pergi dari sana sih" ucap Khanza kesal tapi Yusuf diam


"Kak Yusuf, berhenti dan putar balik ketempat tadi" ucap Khanza lagi


"Kamu mau kita cerai? baiklah aku akan mengantarkan kamu ketempat tadi, dan akan aku pastikan hari ini juga kamu akan mendapat kabar kematian aku, atau kita mati sama-sama" ucap Yusuf menangis dan terbawa emosi


Yusuf langsung menginjak pedal gas menambah kecepatan laju mobilnya.


"Kak Yusuf pelankan mobilnya" ucap Khanza takut, tapi Yusuf mengabaikannya


"Turun" ucap Yusuf dingin


"Kakak mau kemana?" tanya Khanza yang masih deg-degan


"Kamu mau ceraikan, aku akan wujudkan, setelah aku mati kamu bisa langsung cerai mati dengan ku, itu pilihan yang terbaik supaya kamu tidak direndahkan oleh orang" ucap Yusuf tanpa melihat ke istrinya


Jujur Khanza terkejut apa yang dibilang suaminya, dia memikir hal kedapan setelah perceraian apabila terjadi.


"Turunlah" ucap Yusuf lagi sudah berderai airmata


"Kita pulang saja" jawab Khanza masih menatap Yusuf


Yusuf kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju rumah Arnold. Tiba di rumah ternyata Arnold dan Aisyah lagi tertawa bersama, melihat kedatangan anak dan mantunya mereka sangat senang, Arnold yang melihat mata anaknya merah dan bengkak menjadi khawatir.

__ADS_1


"Ada apa lagi Yusuf" tanya Arnold tegas to the point


Khanza dan Yusuf saling pandang.


"Kenapa ya setiap kali pulang dari rumah orangtua mu, muka anak saya tidak pernah fresh, ada apa sih" cecer Arnold menatap tajam Yusuf


"Kalian berdua masuk kamar, istirahat" ucap Aisyah tenang tersenyum


"Bunda ini apaan sih, aku lagi bicara sama mereka kenapa menyuruhnya masuk ke kamar" sahut Arnold emosi


"Kita tidak boleh ikut campur, sudah berapa kali bunda bilang jangan ikut campur masalah rumah tangga anak kita, jika kita ikut campur, rumah tangga mereka berantakan, ayah mau rumah tangga anaknya berantakan" jawab Aisyah tegas


"Kenapa kita tidak boleh ikut campur, keluarganya Yusuf boleh, bunda pernah lihat sendiri waktu itu keluarganya dari mamihnya Yusuf menjelakan anak kita, saat itu ayah marah bun, tapi bunda selalu melarang ayah, kali ini ayah tidak tinggal diam" ucap Arnold dengan nada meninggi hingga bibi dan pak Yono datang


"Ada dua pilihan untuk ayah, yang pertama ayah ikut campur rumah tangga kakak tapi kita tidak saling tegur sapa atau yang kedua kita bercerai" ancam Aisyah senyum


Arnold, Yusuf, Khanza bibi dan pak Yono kaget mendengarnya.


"Bun" panggil Khanza pelan


"Biarkan ayah mu memilih, biar tidak menjadi kebiasaan ikut campur rumah tangga siapapun" ucap Aisyah tenang masih menatap suaminya


Arnold langsung masuk kedalam kamar tanpa bicara apapun.


"Kalian berdua masuk kamar, istirahat, kalau belum makan lebih baik makan dulu, bibi sudah masak" ucap Aisyah senyum meninggalkan anak dan mantunya untuk masuk ke dalam kamar.


Aku salut sama bunda, bunda selalu bisa mengingatkan ayah untuk tidak ikut campur dalam rumah tangga ku dari awal nikah hingga saat ini, beda dengan mamih dan papih, bunda juga rela rumah tangganya hancur agar tidak ikut campur rumah tangga aku. Gumam Yusuf dalam hati.


Didalam kamar Khanza dan Yusuf mencoba membicarakan masalahnya yang sedang terjadi, Yusuf mendesak Khanza, akhirnya Khanza menceritakan semua pada Yusuf apa yang terjadi pada dirinya dan mamihnya Yusuf. Yusuf emosi dan sangat kesal pada mamihnya, tapi Khanza selalu bilang tetaplah bersikap layaknya anak dan ibu.


"Kenapa mamih tidak seperti bunda sih, mamih selalu saja ikut campur urusan rumah tangga kita" gerutu Yusuf menahan emosi


"Jangan membandingkan tidak boleh dan tidak baik, masalah aku mandul atau tidak, aku sempat cek, dokter bilang rahimku bagus dan sehat" ucap Khanza menunduk


"Ya Allah kamu sampai cek segala?" tanya Yusuf memastikan, Khanza pun menganggukan kepala tanda iya

__ADS_1


"Kita sudah pernah buat kesepakatan, apapun masalah yang ada kita akan bicarakan, bukan menutupi, aku juga tidak mau kejadian hari ini terjadi lagi" ucap Yusuf memeluk istrinya


...*****☝︎☝︎☝︎*****...


__ADS_2