KESETIAAN CINTA YUSUF

KESETIAAN CINTA YUSUF
Amir???


__ADS_3

"Aku percaya sama kaka, kaka akan selalu menjaga hati kaka untuk aku dan calon anak kita, jadi alangkah baiknya kaka besok datang ke proyek ya, jangan membuat rencana apapun yang tidak baik, aku takutnya berbalik ke kita yang tidak baiknya" tutur Khanza


"Aaahhh, kamu kenapa sih begini" sahut Yusuf tambah kesal, Khanza hanya tersenyum melihat tingkah Yusuf


Yusuf tidak balik lagi ke kantor, dia menunggu Khanza di parkiran kampus hingga terlelap, disaat Khanza sudah selesai dengan urusan kampusnya dan menghubungi Yusuf tidak diangkat, jadi Khanza berpikir Yusuf sibuk di kantor.


Khanza dan teman-temannya keluar dari kampus, Khanza sendiri berencana naik mobil online, dia tidak mungkin menghubungi bundanya, itu akan membuat repot, pikir Khanza.


"Za, pulang sama siapa?" tanya teman Khanza yang laki-laki


"Naik mobil online" jawab Khanza


"Bareng sama aku aja, dari pada naik mobil online" ucap Amir teman Khanza


"Makasih Mir, aku tidak ingin ada salah paham nantinya" jawab Khanza menolak dengan baik


"Aku mengerti, atau hubungi adikmu atau supir keluargamu, kurang aman naik mobil online, aku tidak bermaksud gimana-gimana ya, banyak oknum-oknum" ucap Amir


"Insyaallah semua aman, tinggal minta saja perlindungan sana sang Maha Penguasa" jawab Khanza tersebut


"Eh, Khanza suami mu nyariin tuh di kelas" ucap Aldo teman Amir dan Khanza juga


"Suami? dimana?" tanya Khanza


"Aku lihat dia di kelas mu, dan sedang mencari kamu, tapi aku bilang kamu sudah pulang" jawab Aldo apa adanya


"Makasih ya Do, aku menghubunginya tidak diangkat, makanya aku pikir dia tidak jemput" ucap Khanza


"Suamimu cinta mati, tidak mungkin dia membiarkan istrinya sendirian" sahut Amir tertawa


"Terlihat overprotektif ya" ucap Khanza tersenyum


"Ya begitu deh" sahut Amir dan Aldo tertawa bersama


Tin... tin... suara klakson mobil


Yusuf turun dari mobilnya menghampiri Khanza.


"Sayang kenapa mau pulang sendiri" ucap Yusuf memeluk Khanza


"Kak, dilihatin tuh" sahut Khanza melepas pelukan Yusuf, banyak mata yang melihat dirinya


"Peduli banget sama orang" ucap Amir dan Aldo


"Nah, bener kata mereka, lagian apa urusan mereka dengan kita" sahut Yusuf


"Lain kali jangan pernah pulang sendiri, paham" ucap Yusuf lagi


"Aku hubungi kaka, tidak diangkat, aku kira kaka sibuk di kantor" jawab Khanza pelan


"Sudah berapa kali kaka bilang, untuk kamu pekerjaan apapun akan kaka tinggalkan" ucap Yusuf tegas

__ADS_1


"Iya sudah maaf, ayo pulang, dilihatin tuh" sahut Khanza malu


Yusuf dan Khanza meninggalkan kampus menuju rumah bunda Aisyah.


"Yang beruntung Khanza dapatin suaminya atau suaminya dapatin Khanza, Bro" tanya Aldo menepuk bahu Amir yang masih menatap Khanza


"Mungkin keduanya" jawab Amir tersenyum


"Dirimu masih mencintai Khanza?" tanya Aldo lagi


"Hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya, dan aku juga akan pindah ke negeri tetangga, semoga saja bisa melupakan Khanza" jawab Amir


"Makanya bro, punya perasaan itu segera diutarakan jangan dipendam sendiri" sahut Aldo mengelus bahu Amir


"Aku tidak senekat kamu Do, kapan pun bisa bilang cinta pada perempuan-perempuan lain" jawab Amir


"Hahaha, harus belajar kamu sama aku Mir, caranya mengejar cinta" ucap Aldo tertawa senang


Awal masuk kuliah Amir selalu memperhatikan Khanza dan teman-temannya, dia pernah sesekali membantu Khanza saat ada kesulitan yang diberikan oleh senior.


Amir juga sebenarnya selalu ada jika Khanza butuh, tapi harapannya pupus ketika mendengar Khanza akan dilamar anak pengusaha, saat diusut Amir baru mengetahui bahwa Khanza juga anak dari orangtuanya yang terpandang.


Dari situ Amir mundur secara perlahan, sebenarnya orangtua Amir bekerjasama dengan perusahaan orangtua Khanza, yaitu Zavier Intermedia, nyali Amir semakin turun, setau Amir orang kaya akan memandang derajat, atau status sosialnya.


Orangtua Amir juga selalu mengingatkan agar Amir tetap fokus pada pendidikan, jangan memikirkan perempuan apalagi pacaran, karena jodoh tidak akan pernah tertukar, akhirnya Amir mengikuti saran orangtuanya.


Setiap di kampus, Amir masih mencuri pandang pada Khanza, kali ini Amir bertekat untuk menghilangkan rasa cinta itu pada Khanza dan menganggap Khanza teman biasa tidak lebih.


"Laki-laki tadi teman kamu?" tanya Yusuf


"Iya, mereka Amir dan Aldo" jawab Khanza apa adanya


"Tampan" ucap Yusuf pelan


"Maksudnya?" tanya Khanza tidak paham


"Temanmu tampan, aku semakin takut meninggalkan istriku diluar rumah" jawab Yusuf melirik istrinya


"Berarti tandanya kaka tidak percaya sama aku" sahut Khanza


"Kaka selalu percaya sama kamu, cuma temanmu yang sulit kaka percaya" jawab Yusuf


"Mereka orang baik, buktinya Aldo memanggil aku dan bilang kalau kak Yusuf nyariin aku di kelas hingga ke kantin" ucap Khanza membenarkan posisi duduknya dan menatap Yusuf


"Kamu yakin mereka bisa dipercaya?" tanya Yusuf serius


"Bukan masalah yakin, kita sama orang lain boleh percaya tapi tidak 100%, terkadang kepercayaan yang kita berikan suka menjadi bumerang untuk kita sendiri" jawab Khanza


"Bener juga, kamu kenapa sih menatap kaka begitu" ucap Yusuf sedikit risih ditatap istrinya


"Memangnya aku tidak boleh memandang wajah suami ku sendiri?" tanya Khanza menaikan alisnya

__ADS_1


"Boleh saja, tapi jadi terlihat aneh deh" jawab Yusuf tersenyum


"Ya sudah, aku juga jadi males mandangin kaka, mendingan mandangi Aldo atau Amir" ucap Khanza ngambek


"Heh, enak saja tidak boleh, dosa tau masa yang dipandang laki-laki lain" jawab Yusuf tegas


"Siapa suruh tidak mau dipandang sama istrinya" ucap Khanza menatap keluar kaca mobil


"Maaf sayang" jawab Yusuf


"Iya di maafkan" sahut Khanza singkat


"Kamu apa hari ini, masa tidak mengidam apapun?" tanya Yusuf lembut


"Tidak mau apa-apa" jawab Khanza


"Satu saja kamu ingin apa gitu" ucap Yusuf memaksa


"Oke, aku ingin besok kaka datang meninjau proyek" jawab Khanza menoleh ke arah suaminya


"Jangan itu dong, yang lain, makanan atau minuman" ucap Yusuf kesal


"Saat ini tidak mau apapun, hanya ingin melihat kak Yusuf bertangungjawab pada pekerjaannya" sahut Khanza


"Kaka selalu bertanggungjawab sama pekerjaan" jawab Yusuf membela diri


"Dari sisi mana? setiap hari datang telat, siang sudah pulang lebih dulu, terus yang di bilang tanggung jawabnya mana?" tanya Khanza serius


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


hai readers terima kasih yang sudah setia membaca "Kesetiaan Cinta Yusuf" terus berikan dukungannya ya dengan cara


πŸ‘πŸΌ like


πŸ“ komen


🎁 hadiah


🎟️ vote


dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :



Cinta Zavier untuk Aisyah πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ


Beda Usia? Tak Masalah πŸ‘πŸΌπŸ“πŸŽπŸŽŸοΈ



berikan dukungan juga untuk kedua cerita ini. oh iya sebelum membaca Kesetian Cinta Yusuf baca terlebih dahulu yang no. 1 ya, supaya tidak bingung nantinya, sebab itu cerita ini adalah sambungan dari cerita yang No. 1.

__ADS_1


__ADS_2