
"Apa mamih punya rekam medis yang menyatakan aku mandul?" tanya balik Khanza menatap mamihnya tanpa rasa takut
"Memang ngga punya bukti, tapi bisa kita buktikan sekarang ke rumah sakit" jawab mamih santai
"Baik, Khanza akan mengikuti semua keinginan mamih, tapi apabila Khanza dinyatakan baik-baik saja, mamih tidak ikut campur lagi dalam urusan rumah tangga Kak Yusuf" ucap Khanza menahan rasa yang amat sakit
"Oke, tapi jika kamu di nyatakan mandul, maka kamu tinggalkan Yusuf" jawab mamih sinis
"Jika kak Yusuf merasa aku pantas untuk diceraikan karena kekuranganku, maka aku akan dengan ikhlas melepasnya" ucap Khanza dengan mata yang sudah berkaca-kaca
"TIDAK ADA SATU PUN DARI KALIAN YANG MELAKUKAN TES TERHADAP KHANZA" teriak Yusuf penuh penekanan, dia ngga sanggup melihat istrinya dipojokan dengan keluarganya sendiri
"Kita pulang" ucap Yusuf lagi dengan lembut pada Khanza menggenggam tangan Khanza, Khanza hanya menganggukan kepala
"Tunggu Yusuf" panggil Sabrina kesal melihat Yusuf ingin pergi
"Urusan kita belum selesai" ucap Sabrina lagi
"Apa yang anda maksud, dengar kan dengan telinga kamu yang masih berfungsi, sampai kapanpun saya tidak akan pernah meninggalkan istri saya, mau dia sehat ataupun mandul sekali pun" jawab Yusuf pelan tapi penuh penekanan
"Gitu kek jadi lagi dari tadi, jangan mau dipengaruhi" ucap Zalin menyindir
"Pulang yuk" ucap Yusuf lembut menatap istrinya yang masih menahan airmata untuk keluar
"Tunggu Yusuf" ucap papih masih dengan aura kemarahan
"Kamu dengar juga baik-baik, jika kamu menyakiti sedikit saja istrimu, akan papih pastikan hidupmu habis ditangan papih, sebelum orangtua Khanza yang menghabisi kamu" ucap papih lagi menatap Yusuf dengan tatapan tajam
Yusuf dan Khanza meninggalkan rumah orangtua Yusuf. Yusuf semakin merasa bersalah pada Khanza. Selama diperjalanan tidak ada yang saling bertegur sapa, keduanya hanya diam.
"Khanza" panggil Yusuf pelan melirik ke istrinya sebentar
"Aku lagi ngga mau ngebahas apa-apa kak" jawab Khanza tanpa menoleh
"Kamu marah?" tanya Yusuf hati-hati
"Apa alasannya aku marah dengan kaka?" tanya balik Khanza membuat Yusuf bingung
"Dengan kejadian dirumah, apa kamu marah" jawab Yusuf lembut
"Aku cukup sadar diri kak, dengan semua kekurangan yang ada dalam diriku" ucap Khanza pelan
__ADS_1
"Apa kaka ngga pantas mendapatkan perempuan seperti kamu?" tanya Yusuf tanpa melihat Khanza
"Sungguh, kaka ngga bermaksud mengabaikan kamu saat di rumah mamih, kaka hanya ingin menyelesaikan urusan dengan mamih dan Sabrina, agar mamih tidak terus memaksa aku menikah dengan Sabrina" ucap Yusuf menjelaskan apa yang terjadi
"Kaka fokus aja nyetirnya" jawab Khanza mengalihkan pembicaraan
"Tolong, buang jauh-jauh pikiran kamu untuk meninggalkan kaka, kaka ngga suka kamu bicara seperti tadi didepan keluarga ku" ucap Yusuf pelan
"Biar kaka tenang, bagaimana kalo kita kerumah sakit untuk memeriksakan kondisi rahimku" jawab Khanza tenang
"Tidak akan pernah kaka melakukan itu, kaka ingin menjalankan rumah tangga dengan mu apa adanya, apabila kita di berikan anak secepat mungkin, maka Allah sudah percaya bahwa kita mampu menjadi orangtua, tapi apabila kamu belum juga mengandung kaka akan menganggap itu sebagai bentuk Allah sayang pada kita dan mengizinkan kita pacaran lebih lama" ucap Yusuf sungguh-sungguh
"Tapi setidaknya, kalo hari ini kita cek kesehatan ku pada dokter, mungkin hati dan pikiran kaka menjadi lebih tenang, dan..." jawab Khanza terpotong
"Dan aku tau hasilnya lalu kasih tau mamih, jika hasil jelek, kamu bersedia meninggalkan aku? gitukan maksud kamu?" tanya Yusuf tenang
"Jika itu terbaik buat mamih bukan" jawab Khanza menatap jendela kaca mobil dengan pandangan ke arah luar
"Tapi tidak baik untuk kita berdua, kamu dengarin kaka baik-baik, mulai hari ini kaka tidak akan pernah mengajak kamu kerumah mamih, dan papih. Kaka janji itu" ucap Yusuf sedih melihat istrinya tertekan
Selama di perjalanan, mereka hanya saling diam, dengan pikiran masing-masing. Tujuan Yusuf mengajak Khanza melihat rumah-rumah yang dijual.
Khanza menatap rumah-rumah itu dengan aneh yang penuh tulisan di jual.
"Lihat-lihat rumah, siapa tau ada yang cocok dengan mu" jawab Yusuf santai tersenyum manis pada Khanza
"Daerah sini mahal-mahal kak, lebih baik jangan diperumahan begini" ucap Khanza tenang
"Kan hanya lihat dan bertanya harga dulu, belum langsung beli sayang" jawab Yusuf lembut
"Cari daerah lain aja yuk, jangan disini" ucap Khanza seperti ketakutan
"Jelaskan dulu sama aku, kenapa ngga mau diperumahan ini, pasti bukan karena mahal dong" tanya Yusuf lembut
"I..itu, be..benaran cuma masalah mahal kok kak" jawab Khanza gugup
"Jujur sayang" ucap Yusuf semakin lembut menatap Khanza
"Perumahan ini adalah rumahnya Rubi kak" jawab Khanza pelan menundukan kepala
"Astaghfirullah" ucap Yusuf "Sayang maafkan aku ya, aku malah membuka ingatan kamu lagi, kalo gitu kita pulang" ucap Yusuf lagi langsung menjalankan mobilnya dengan sedikit cepat
__ADS_1
"Kaka, aku pengen makan mie ayam" ucap Khanza tiba-tiba
"Boleh, kaka juga lapar, kira-kira mie ayam yang enak dimana?" tanya Yusuf senang
"Deket rumah kake Niel, disitu enak deh mie ayamnya, terus harganya juga murah" jawab Khanza antusias
"Belakangan ini kamu itu selalu menyertakan kata murah, kenapa sih? makan mahal juga kaka masih mampu kok" ucap Yusuf pelan
"Bukan begitu kak, kita itu harus belajar menghemat dan menghargai uang, mencari uang itu sulit, kata bunda seperti itu, walau ayah mampu memberikan untuk bunda tapi bunda ngga pernah memakai uang ayah untuk hal yang tidak penting, ayah dulu juga suka marah dengan bunda, pengeluaran bulanan hanya kebutuhan pokok saja, tidak ada tagihan keluar untuk kepentingan bunda sendiri" jawab Khanza ingin menjadi orang yang bisa menghargai apapun yang dimiliki
"Bunda hebat deh, kalo gitu aku mau curhat dengan ayah deh tentang kamu yang menjadi hemat seperti bunda" ucap Yusuf tersenyum
Benar kata Zalin, hanya orang bodoh yang akan melepaskan Khanza, dia sederhana, tidak pernah menuntut apapun, apalagi dia sudah di sakiti berkali-kali oleh mamih. Gumam Yusuf dalam hati
******Ya Allah, bantulah hamba agar bisa mempertahankan rumah tangga ini yang masih seujung kuku, bantulah hamba untuk bertahan dengan sikap mamih, dan bantulah hamba agar hati mamih terbuka untukku, aku hanya bisa meminta dan memohon kepada - Mu ya Allah. Gumam Khanza dalam hati******
"Kak, habis makan kita kerumah sakit yuk" ucap Khanza tersenyum melihat Yusuf
"Untuk apa kesana?" tanya Yusuf melihat istrinya sekilas
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers terima kasih yang sudah setia membaca "Kesetiaan Cinta Yusuf" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ Like
π Komen
π Hadiah
ποΈ Vote
Dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Beda Usia, Tak Masalah ππΌππποΈ
__ADS_1
Berikan dukungan juga untuk Kedua cerita ini. Oh iya sebelum membaca Kesetian Cinta Yusuf baca terlebih dahulu yang No. 1 ya, karena masih sambungan cerita.