
Mereka semua sudah menunggu hampir dua jam kurang lebihnya, tetapi dokter satupun belum ada yang datang dan memberikan informasi pada keluarga pasien.
Hal ini juga membuat keluarga pasien semakin panik dan tidak karuan pikirannya.
Ceklek... suara pintu ruangan terbuka
"Dokter, bagaimana kondisi ayah saya" tanya Aisyah lebih dulu
"Kami tim dokter sudah berupaya untuk pak Daniel, ternyata takdir berkata lain, Sang Pencipta sudah memanggilnya lebih dulu, Pak Daniel tidak bisa tertolong, ada pembuluh darah yang pecah juga dibagian otaknya" jawab dokter dengan berberat hati
Bagaikan disambar petir untuk Aisyah dan yang lain mendengar kabar duka yang diberikan oleh dokter, sudah menunggu lebih dari dua jam ternyata kabar buruk yang datang.
"Ayah tidak mungkin pergikan" lirih Aisyah lemas, begitupun dengan ibu dan kedua adiknya yang tidak berdaya menahan kesedihan.
Adi meminta pada keluarganya untuk segera pulang, sedangkan dia dengan Bayu yang akan mengurus kepulangan Jenazah ayah ataupun kakeknya.
Di dalam ambulance Adi dan Bayu hanya terdiam memandang wajah laki-laki yang sudah sangat tua itu. saat mendapatkan kabar meninggal Arnold, Bayu dan Adi menyembunyikan rasa sedihnya di depan para wanita.
"Kakek, maafin Adi ya, di sisa umur kakek, Adi tidak ada" lirih Adi menghapus airmatanya
Bayu yang mendengarkan keponakannya meminta maaf hanya diam saja, jujur ini berat juga untuknya, sebagai anak Bayu belum sempat berbuat banyak untuk kebahagiaan orangtuanya.
Ayah, bayu juga minta maaf, selama ini banyak sekali kesalahan Bayu pada ayah, dan Bayu juga mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kasih sayang dan cinta ayah yang begitu tulus pada Bayu, semoga ayah mendapatkan Surga-Nya Allah. batin Bayu bersedih
Yusuf membawa Khanza kerumah neneknya, Yusuf juga belum cerita apa yang sedang terjadi saat ini.
"Kak, kenapa rumah kakek Niel ramai" tanya Khanza melihat para tetangga keluar masuk kerumah kakeknya
"Nanti juga kamu tau, tapi kamu harus janji sama kaka, mau?" jawab Yusuf tenang
"Janji apa dulu" sahut Khanza
"Ya sudah kalau kamu tidak mau janji, kaka tidak jadi anter kamu kerumah kakek Niel" ucap Yusuf dengan santai
"Iya aku janji akan menuruti kemauan kaka" jawab Khanza semangat
"Ok, nanti setelah kamu melihat kenapa di sana ramai, kamu harus janji untuk selalu kuat dan ikhlas" ucap Yusuf tegas
"Kok janjinya begitu" sahut Khanza bingung
"Kita masuk sekarang, intinya kamu sudah berjanji sama kakak" jawab Yusuf menggandeng tangan istrinya
__ADS_1
Saat Khanza dan Yusuf masuk kedalam rumah, Khanza semakin bingung semua orang menangis dan ada matras kosong di tengah-tengah rumah.
"Ambulance sudah datang" ucap salah satu bapak-bapak dari luar, mata Khanza langsung mengarah pada mobil ambulance yang masuk ke halaman rumah secara mundur.
Detak jantung Khanza semakin tidak karuan, pikirannya mulai kesana kemari, Khanza melihat adik dan unclenya turun dari ambulance dengan wajah sendu dan mata yang memerah habis menangis.
Siapa yang di dalam ambulance itu. batin Khanza
Keranda mulai diturunkan, Bayu, Adi, Arnold dan Yusuf dengan sigap menggotong keranda tersebut dan juga dibantu beberapa tetangga, Khanza di jagain oleh Aisyah.
Keranda tersebut dibuka, maka terlihatlah wajah dari jenazah itu, betapa kagetnya Khanza melihat wajah kakeknya yang terbujur kaku di hadapannya, Khanza langsung mendekat saat kakeknya di pindahkan ke matras yang sudah disiapkan.
"Kakek" lirih Khanza, Yusuf merangkul istrinya agar lebih kuat mengetahui kakeknya sudah tiada
"Kakek, bukan kah kakek bilang ingin menunggu anak Khanza lahir, tapi sekarang apa, kakek meninggalkan kami semua" ucap Khanza terisak
"Yusuf, bawa Khanza ke kamar" timpal Aisyah tidak tega melihat anaknya menangis, apalagi Khanza pernah hidup bersama dengan kakek Niel dan nenek Ras
"Khanza mau disini aja bunda, temani kakek" jawab Khanza menangis
"Kalau kamu mau disini, berjanjilah sama kakak, kamu harus kuat dan ikhlas, dan bersihkan airmata ini, pasti kakek tidak suka melihat kamu dan yang lainnya menangis" tutur Yusuf begitu perhatian pada Khanza
"Segera dimandikan saja ya, supaya bisa langsung di makamkan juga" ucap pak ustad yang baru saja tiba
Keluarga besar pak Daniel ikut ke pemakaman bersama yang lain.
"Ayah, maafkan ayah Daniel ya, jika semasa hidupnya mungkin punya salah sama ayah, sengaja atau tidak, bunda harap ayah dengan ikhlas memaafkan ayah Niel" ucap Aisyah sedih
"Insyaallah ayah Niel tidak punya salah dengan ayah, dan juga ayah ikhlas memaafkan ayah Niel" jawab Arnold memeluk istrinya yang sedang bersedih
"Bunda" panggil Khanza melihat bunda yang menangis dalam pelukan ayahnya
"Iya sayang" jawab Aisyah dengan cepat menghapus airmatanya
"Haruskah di hapus airmata bunda saat melihat kaka?" tanya Khanza
"Maksud kaka apa?" tanya balik Aisyah tidak mengerti
"Kaka tau bunda pasti kehilangan kakek Niel kan? jadi kalau bunda mau menangis, menangis saja, walau itu harus di depan kaka, insyaallah kakak akan baik-baik saja" jawab Khanza sedih
"Bunda hanya ingin membagi kebahagian di depan kaka, bukan kesedihan, ayo kita pulang tidak baik untuk kakak berlama-lama disini" ucap Aisyah
__ADS_1
"Padahal kaka ingin melihat kakek Niel, tapi dilarang mendekat, emang kenapa sih bun" tanya Khanza
"Bagi orang jawa seperti kita, untuk ibu hamil ada beberapa pantangan sayang, kita ikuti saja budaya yang ada ya" jawab Aisyah
"Bunda, nenek Ras ajak saja tinggal bersama bunda, atau Aunty Santi bisa juga uncle Bayu, daripada sendirian dirumah" sahut Yusuf menimpali
"Inginnya bunda begitu" ucap Aisyah melirik ke arah suaminya
"Ayah tidak akan pernah keberatan jika ibu bersama kita, justru ayah senang, setidaknya ayah bisa menjaga ibu juga untuk ayah Niel" jawab Arnold paham dengan lirikan istrinya
"Nenek Ras belum tentu mau tinggal dengan kita" sahut Khanza sedih
"Kenapa?" tanya Aisyah melihat anaknya
"Waktu kaka tinggal disana, nenek Ras pernah bercerita, lalu ada kata-kata yang nenek ucapkan, katanya jika kakek pergi lebih dulu maka nene akan menjaga rumah tersebut hingga nenek pun pergi meninggalkan rumah itu untuk menyusul kakek, nenek akan terus merawat rumah itu walau tanpa kakek, ungkapan itu juga pernah keluar dari kakek" tutur Khanza sedih, Yusuf mengelus kepala istrinya
"Nanti kita coba tanya baik-baik lagi sama ibu, tapi jangan sekarang-sekarang ini, hati dan pikirannya pasti masih tidak sinkron" ucap Arnold
"Hari ini nginap dirumah ibu boleh?" tanya Aisyah pada Arnold
"Boleh sayang" jawab Arnold "Kaka sama Yusuf pulang saja ya, kasihan anak kalian, pasti lelah habis ikut Daddy n Mommy nya" ucap Arnold tersenyum karena dia tau panggilan cucunya untuk Yusuf dan Khanza
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
hai readers terima kasih yang sudah setia membaca "Kesetiaan Cinta Yusuf" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ like
π komen
π hadiah
ποΈ vote
dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Beda Usia? Tak Masalah ππΌππποΈ
__ADS_1
berikan dukungan juga untuk kedua cerita ini. oh iya sebelum membaca Kesetian Cinta Yusuf baca terlebih dahulu yang no. 1 ya, supaya tidak bingung nantinya, sebab itu cerita ini adalah sambungan dari cerita yang No. 1.