
"Lebih baik kamu pulang, kasihan Khanza sudah menunggu" ucap Aisyah dengan lembut
"Bunda beneran mau bantuin aku kan, tolong aku bun" sahut Yusuf memelas
"Nanti kita pikirkan solusi terbaiknya seperti apa, setelah dapat solusi, kita rembukin bersama keluarga mu, dan kita tanyakan langsung maksud serta tujuan mami yang sebenarnya" ucap Aisyah
"Depan bunda aku berani bersumpah dan berjanji jika aku tetap dipaksa oleh mami dan meninggalkan Khanza, lebih baik aku mati bun" sahut Yusuf dengan mata berkaca kaca
"Istighfar nak, tidak baik bicara begitu, insyaa Allah kita akan dapat solusi yang baik untuk kalian semua, saat ini bunda benar benar belum bisa berpikir apapun, satu sisi bunda masih sangat terkejut, sudah pulang sana nanti telalu malam" ucap Aisyah mengelus bahu mantunya
"Bunda ngusir aku?" tanya Yusuf
"Iya, bunda ngusir kamu, karena ada perempuan yang sedang menunggu mu dirumah kakek Niel, dan dia berharap kamu cepat pulang dengan selamet" jawab Aisyah
"Nenek Ras yang nungguin aku dong, hahaha" ucap Yusuf tertawa, Aisyah hanya tersenyum menanggapi candaan Yusuf
"Jangan ngebut bawa mobilnya, kalau masih mau lihat Khanza" sahut Aisyah saat Yusuf pamitan
"Insyaa Allah bun, assalamu'alaikum" ucap Yusuf meninggalkan rumah Aisyah
"Wa'alaikumsalam" jawab Aisyah
Ada ada saja kehidupan rumah tangga anak hamba ya Allah, tolong berikan petunjuk untuk menyelesaikan ini semua, pertahankan rumah tangga anak hamba, ampuni segala dosa Khanza dan Yusuf selama ini. Gumam hati Aisyah terasa sakit
"Bunda, kak Yusuf sudah pulang?" tanya Adi meletakan piring di atas meja makan
"Sudah, mau ngapain tanya kak Yusuf?" tanya balik Aisyah
"Mau minta uang buat besok jajan" jawab Adi nyengir
"Emang selama ini bunda dan ayah tidak memberikan mu uang jajan" ucap Aisyah aneh melihat tingkah Adi
"Ngasih kok, tapi kan aku mau dapat uang jajan tambahan aja dari kak Yusuf" sahut Adi dengan santai
"Anak bunda ini ngeselin sekali sih" ucap Aisyah mengacak acak rambut Adi
"Adi sayang bunda" sahut Adi memeluk bundanya
"Bunda juga sayang banget sama Adi, tetap menjadi anak soleh ya nak" ucap Aisyah mengelus kepala anaknya bungsunya
"Hmmm" suara deheman, mereka berdua langsung menoleh ke sumber suara
"Assalamu'alaikum, ayah" ucap Adi meledek ayahnya
"Wa'alaikumsalam" sahut Arnold cemberut
"Asem banget tuh muka" ucap Adi nyengir langsung memeluk bundanya
"Ketiak mu tuh asem" sahut Arnold duduk di samping Adi
"Hahaha, ayah pernah cium ketiak aku" tanya Adi menaik turun kan alisnya
"Huss, jangan di ganggu kalau macan lagi tidur" sahut Aisyah
"Macannya ndak tidur loh bun, macannya lagi melotot" ucap Adi cekikikan
__ADS_1
"Sudah puas ledekin ayahnya?" tanya Arnold datar
"Belum sih, hahaha" jawab Adi tertawa terbahak, Aisyah hanya senyum melihat tingkah Adi dan Arnold
"Ayah bersih bersih dulu sana, setelah itu makan bareng" ucap Aisyah dengan suara lembutnya
Tukk ... suara ketukan, Arnold menjitak kepala Adi, karena dia kesal selalu di anggap macan oleh anaknya sendiri
"Awwss, sakit bunda, aku mau lapor ke perlindungan anak ah, dengan kasus seorang ayah kandung menganiaya anaknya" ucap Adi memeluk bundanya Asiyah hanya tertawa
"Lebay kamu" sahut Arnold masuk kedalam kamar
"Padahal yang lebay kan ayah ya, bun" ucap Adi menatap bundanya
"Kalian berdua lebay dan suka berlebihan" sahut Aisyah tidak mau membela keduanya
"Jahara, ternyata bunda juga sudah tak sayang aku lagi" ucap Adi pura pura nangis
"Jijik ah bunda lihatnya, masa anak laki laki begitu banget gayanya" sahut Aisyah menatap Adi dengan tatapan tajam
"Hehehe, maaf bunda ku yang cantiknya mengalahkan Monalisa" ucap Adi
"Makan jangan banyak bicara" sahut Aisyah
"Kan nunggu ayah" ucap Adi "Bunda boleh makan puding lagi ndak?" tanya Adi
"Ndak boleh, besok lagi makan pudingnya, mau makan nasi kok makan puding, perut mu penuh dengan puding yang ada" jawab Aisyah lembut
"Ayah lama banget si mandi doang" gerutu Adi saat Arnold duduk di samping Aisyah
"Hufftt serba salah, tadi mau makan katanya nunggu ayah sekarang malah dapat jawaban ngapain nunggu ayah" sahut Adi nyengir
"Yang ingin nunggu ayah kan kamu, tadi bunda udah nyuruh kamu untuk makan duluan loh" ucap Aisyah heran dengan Adi yang bisa saja membuat drama
"Pantas kamu jadi pemain sinetron, penuh dengan drama" sahut Arnold
"Emang boleh, Adi daftar di tempat casting begitu, siapa tau kesampean jadi artis kan" ucap Adi semangat
"Ndak boleh, sekarang makan bukan ngobrol" sahut Aisyah
Keluarga Arnold menikmati makan malam, penuh canda dan tawa sebelumnya.
Rumah kakek Niel
"Assalamu'alaikum" ucap Yusuf masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang
"Wa'alaikumsalam, baru pulang tumben" jawab nenek Ras
"Iya nek, tadi mampir dulu ke rumah bunda Aisyah" sahut Yusuf jujur
"Loh ayah Arnold tadi dari sini" ucap nene Ras
"Hooh, tadi bunda juga bilang, kesana juga cuma ingat sama Adi dia suka sekali puding, makanya mampir deh, nih aku juga bawa puding dan roti untuk nene dan kake" tutur Yusuf
"Alhamdulillah, terima kasih semoga semakin banyak rezeki ya nak, sekarang masuk lah ke kamar dan bersihkan dirimu" ucap nene Ras
__ADS_1
"Aamiin, iya nek, aku juga cape sekali hari ini, rasanya mau langsung rebahan" sahut Yusuf masuk ke dalam kamar
Yusuf masuk kedalam kamar melihat sang istri sedang mengaji, betapa sangat bersyukur dan bahagia melihatnya, semakin dia yakin untuk mempertahakan pernikahannya dengan Khanza.
"Sayang" ucap Yusuf merebahkan kepalanya di pangkuan Khanza, sontak saja Khanza kaget dan berhenti mengaji, untuk melayani suaminya yang baru pulang kerja
"Kaka mandi dulu sana, aku buatin minuman hangat untuk kaka" ucap Khanza mengelus kepala suaminya
"Kaka bawa sesuatu" sahut Yusuf tersenyum
"Bawa apa?" tanya Khanza penasaran
Yusuf memberikan paperbagnya kepada Khanza, dan Khanza langsung membukanya dan melihat brownis keju panggang dan setangkai mawar putih.
"Dalam rangka apa?" tanya Khanza heran
"Memberi semangat untuk istriku yang paling cantik ini, karena hari ini pasti kamu lelah dengan semua kegiatan kampus kan" jawab Yusuf apa adanya
Khanza hanya tersenyum, padahal dia hari ini hanya santai dirumah, bahkan saat mau masak ternyata neneknya sudah selesai memasak.
"Kok diem, tidak suka ya?" tanya Yusuf
"Bukan tidak suka, aku hanya bahagia, tapi aku juga berpikir apa aku akan terus dapat kebahagiaan seperti ini" jawab Khanza tersenyum tapi matanya sudah berair
Yusuf langsung memeluk Khanza dengan perasaan bersalahnya.
"Maafin kaka ya" ucap Yusuf memeluk dengan erat
Khanza langsung membersihkan airmatanya yang mengalir dan melerai pelukan sang suami.
"Kaka mandi ya, aku buatin minum dulu, setelah itu makan malam, pasti kaka belum makan" ucap Khanza mengalihkan semuanya, Yusuf hanya menganggukan kepala dan dan tersenyum menatap istrinya lagi lagi mengeluarkan airmata, ada perasaan sakit saat melihat Khanza meneteskan airmata
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
hai readers terima kasih yang sudah setia membaca "Kesetiaan Cinta Yusuf" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ like
π komen
π hadiah
ποΈ vote
dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Beda Usia? Tak Masalah ππΌππποΈ
berikan dukungan juga untuk kedua cerita ini. oh iya sebelum membaca Kesetian Cinta Yusuf baca terlebih dahulu yang no. 1 ya, supaya tidak bingung nantinya, sebab itu cerita ini adalah sambungan dari cerita yang No. 1.
__ADS_1