
Setelah acara selesai semua, Yusuf dan Khanza pamitan untuk pulang sedangkan keluarga Arnold sudah kembali lebih dulu.
"Kami pamit pulang ya, pih, mih" ucap Yusuf
"Tinggal saja disini beberapa hari, kenapa buru-buru ingin pulang?" tutur mamih berharap anaknya mau tinggal disini
Yusuf memandang Khanza, dia tidak ingin istrinya tertekan lagi.
"Lain waktu saja mih, pasti kami akan menginap disini" ucap Yusuf
Kenapa harus menatap istrinya dulu, apa iya Khanza tidak ingin tinggal disini. batin mamih
"Malam ini saja deh, disini kan ada adikmu juga, memangnya rindu mu sudah habis pada Zalin" sahut mamih mencoba memaksa Yusuf
"Zalin kan disini tiga hari mih, Yusuf bisa bertemu lagi dengannya esok" jawab Yusuf masih tenang
"Khanza, coba bujuk suamimu, supaya mau menginap disini sama seperti Zalin, tiga hari" ucap mamih merayu Khanza
"Aku ikut kak Yusuf saja mih, kalau kak Yusuf bilang nginap ya aku ikut" jawab Khanza pelan
"Setidaknya kamu rayu suamimu, dia pasti akan mendengarkan ucapanmu" ucap mamih
Sekarang Khanza yang menatap Yusuf, agar suaminya bisa mengerti keinginan mamihnya.
"Begini saja, Khanza tidak membawa salin, dan keperluan kuliahnya, besok kami kesini lagi, tapi malam ini tidak bisa mih" tutur Yusuf berusaha tenang
"Itu hal kecil Yusuf, bisa minta tolong ambilkan dengan yang lain" ucap mamih
Yusuf mengusap wajahnya dengan kasar, dia tidak ingin berdebat dengan mamihnya.
"Mih, please ngertiin Yusuf" ucap Yusuf sedikit kesal dihalangi terus menerus oleh mamihnya
"Sudah jangan dipaksa Yusufnya, mungkin dia memang lagi ada urusan dengan Khanza" sahut papih yang dari tadi hanya menjadi pendengar
"Iya mih, kak Yusuf kan juga bilang besok akan kesini lagi" timpal Zalin mendukung Yusuf dan Khanza
"Dari awal kalian selalu tidak pernah mendukung mamih" ucap mamih kesal
Yusuf memijit pelipisnya yang terasa pusing atas sikap mamihnya.
"Malam ini kita disini saja, baru baikan masa mau ribut lagi, jika kamu membantah, mamih akan berpikir aku lagi yang salah" bisik Khanza pelan agar yang lain tidak mendengar
Yusuf melihat wajah istrinya yang terlihat serba salah, tapi Yusuf juga tidak mau melihat istrinya di hina kembali oleh orangtuanya.
"Tidak bisa malam ini, perlengkapan kamu semua dirumah" jawab Yusuf ikut berbisik pada Khanza
"Pagi-pagi sebelum berangkat kita mampir dulu kerumah kake Niel, ini suasananya beneran tidak enak" bisik Khanza lagi dan mulai khawatir
"Masalahnya beda jalur, dan akan memakan waktu lebih lama jika kita pagi-pagi kerumah kakek Niel" ucap Yusuf pelan
__ADS_1
"Jangan sampe kita berdebat lagi dengan mamih, aku cape kak" jawab Khanza sendu
"Kita tetap tidak bisa menginap malam ini, jadi kamu jangan khawatir dan tidak perlu juga memikirkan hal-hal yang tidak baik" ucap Yusuf mencoba menenangkan istrinya
"Bagaimana Yusuf?" tanya papih memecahkan keheningan
"Mohon maaf banget, pih, mih Zalin, aku beneran tidak bisa malam ini, aku pastikan besok akan kesini dan menginap" jawab Yusuf tegas
"Jika kamu mau pulang, silahkan, dan besok atau selamanya tidak perlu datang lagi kemari" ucap mamih ketus
"Astaghfirullah" ucap yang lain secara bersamaan
"Kenapa sih mamih egois?" tanya Yusuf masih bernada pelan dan tenang
"Kamu yang egois, mamih hanya meminta waktu kebersamaan dengan mu, tapi seperti ada benteng yang tinggi sedang menghalanginya" jawab mamih kesal
"Kita nginap malam ini mih" ucap Khanza tiba-tiba, Yusuf menatap tajam istrinya dan menggelengkan kepala tanda tidak setuju
"Beneran?" sahut mamihnya memastikan kembali
"Iya, malam ini kita menginap" jawab Khanza pelan tidak berani melihat Yusuf
"Bukan malam ini saja, tapi selama tiga hari kedepan barengan dengan Zalin" ucap mamih
"Iya mamih, kita akan menginap disini selama tiga hari kedepan" jawab Khanza tersenyum
Kasihan kak Yusuf dan kak Khanza. batin Zalin
Selesia diskusi dengan keluarganya Yusuf masuk ke dalam kamar lebih dulu tanpa menunggu Khanza yang masih setia duduk diruang keluarga, Khanza hanya melihat kepergian suaminya.
Maaf kak Yusuf, aku juga tidak mau rusak lagi hubungan ku dengan mamih. batin Khanza sedih
Bruukk... suara bantingan pintu
Kamar Yusuf tertutup secara kasar, dia kesal dengan istrinya karena menyetujui untuk tinggal disini, susah payah dia mencari alasan agar tidak keseringan dengan mamihnya. Yusuf yakin mamihnya penuh sepenuhnya menyukai Khanza, makanya dia lebih ingin menghindar.
Khanza masih setia duduk di ruang keluarga bermain ponsel, dia tau suaminya saat ini pasti marah padanya.
"Kaka masih disini?" tanya Zalin
"Hai, iya nih lagi ada tugas kuliah yang dikirim ke email, jadi kaka kerjakan di handphone saja" jawab Khanza jujur
"Mau pakai laptop Zalin?" tanya Zalin lagi merasa kasihan
"Tidak perlu, kaka masih bisa pakai ini" jawab Khanza menunjukan ponselnya
"Kaka tidak pagi berantem dengan kak Yusuf kan?" tanya Zalin yang masih penasaran
"Kamu istirahat sana, pasti lelah perjalanan cukup jauh" ucap Khanza mengelus sayang wajah Zalin dan mengalihkan pembicaraan
__ADS_1
"Itu bukan jawab atas pertanyaan ku, kak" sahut Zalin pelan
"Kaka dan kak Yusuf baik-baik saja, sudah sana istirahat" ucap Khanza tidak ingin Zalin khawatir padanya
"Kaka juga istirahat dong" sahut Zalin
"Selesai dengan tugas, pasti kaka akan istirahat ya" jawab Khanza bernada lembut pada Zalin
Zalin tidak ingin memberikan lagi pertanyaan pada Khanza, jadi dia memilih untuk masuk kedalam kamar.
Didalam kamar, Yusuf melihat jam, istrinya tak kunjung masuk kamar, akhirnya dia berinisiatif menemui istrinya diruang keluarga.
"Masih mau main ponsel?" tanya Yusuf ketus
"Lagi tanggung bikin tugas" jawab Khanza keceplosan, Yusuf sudah menatapnya dengan tajam seperti orang mau menerkam
"Maksud aku ...." ucap Khanza terpotong
"Kita pulang sekarang kerumah kake Niel" sahut Yusuf menarik pelan tangan Khanza
"Nanti mamih nyariin, ini udah mau selesai" ucap Khanza
"Dengerin kata aku coba, jangan membantah, dan jangan membuat keputusan apapun tanpa persetujuan ku" bentak Yusuf kesal
"Kita istirahat yuk, ke kamar" ucap Khanza mengalihkan dan memegang lengan suaminya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
hai readers terima kasih yang sudah setia membaca "Kesetiaan Cinta Yusuf" terus berikan dukungannya ya dengan cara
ππΌ like
π komen
π hadiah
ποΈ vote
dan berikan juga dukungan di karya yang lainnya seperti :
Cinta Zavier untuk Aisyah ππΌππποΈ
Beda Usia? Tak Masalah ππΌππποΈ
berikan dukungan juga untuk kedua cerita ini. oh iya sebelum membaca Kesetian Cinta Yusuf baca terlebih dahulu yang no. 1 ya, supaya tidak bingung nantinya, sebab itu cerita ini adalah sambungan dari cerita yang No. 1.
__ADS_1