
Mirah merasakan hidupnya kini bagaikan mimpi, bagaimana tidak? kini ia harus menerima kenyataan bahwa telah menjadi seorang istri dari Herman, laki laki yang paling ia benci, karena luka yang ditorehkannya.
"Hahhh..., mengapa nasibku seperti ini?" jalan satu satunya adalah mengadu kepada sang maha pencipta, "Bolehkah aku menolak semua ini ya Allah? sungguh! aku tidak menginginkan pernikahan ini, bahkan dalam mimpi pun aku tidak menginginkan nya,"
Ibunya Ratna Manggala itu kini tengah menyiapkan sarapan pagi, setelah beberapa hari lalu menyandang gelar sebagai istri...lagi. Dengan cekatan tangannya memotong motong sayuran dan bahan bahan lainnya, kali ini ia ingin membuat sup ayam bayam dan bakwan jagung.
Aroma harum menguar memenuhi Indra penciuman siapapun yang menghirupnya, begitupun dengan herman dengan mengikuti naluri kemanusiaannya yang tak bisa lepas dari makanan, kini tengah berjalan kedapur mendatangi sumber bau yang membuat perutnya keroncongan.
Dilihatnya sang istri tengah sibuk mengaduk ngaduk panci yang berisi sup ayam bayam
"Pagi, sayang," dengan percaya dirinya Herman memeluk mirah dari belakang, mungkin difikirnya ini adelah adegan romantis yang akan membuat Mirah klepek klepek dan luluh.
"Lepaskan!" Mirah terperanjat kaget dengan aksi Herman yang memeluknya, kemudian dengan reflek ia menepis kasar tangan yang melingkari pinggangnya dan melepaskan diri.
"Jangan coba coba menyentuhku, aku tidak Sudi. Dasar pria licik, pria egois!" umpat Mirah tak terima
"Ck, lihat saja suatu hari nanti kau tidak akan pernah bisa menolakku," sungguh hatinya merasa amat kesal dengan penolakan Mirah yang ke sekian kalinya.
Ya, semenjak ikatan suci itu di ikrarkan tak sekalipun Mirah menghiraukan Herman, wanita itu begitu acuh. Bahkan tak tersentuh, menikah hanyalah status bagi dia, karena hatinya belum ikhlas. Namun, walaupun begitu Mirah tetap menjalankan kewajiban yang lain, seperti menyiapkan makan dan lainnya kecuali urusan ranjang.
Mirah tetap tidur berdua dengan Ratna, dan Herman sama sekali tak diperbolehkan untuk seranjang dengan nya.
Sungguh sial bagi Herman, bisa menyentuh paha putih mulus itu tetaplah hanya dalam khayalan.
***
Selesai sarapan Ratna pun pamit ke sekolah.
"Nana, ayah antar kamu sekolah 'ya," tawar Herman antusias
"Tidak perlu, Nana sudah biasa berangkat sendiri," tolak gadis itu.
__ADS_1
"Mengapa? padahal ayah ingin sekali mengantarmu," ucapnya, menampilkan gurat kekecewaan.
"Ya sudah terserah saja," putus nya, walaupun Ratna belum seratus persen terbiasa dengan kehadiran herman, namun ia sedang berusaha untuk menerima status laki laki tersebut sebagai seorang ayah. Itu pun dikarenakan perginya Rohanah dari hidup sang ayah.
Akhirnya Herman berangkat mengantarkan Ratna ke sekolah, namun ada satu hal yang tidak diketahui semuanya, tentang maksud dan tujuan Herman memaksa ingin mengantar anaknya ke sekolah.
***
Sampai di gerbang sekolah Herman mengantarkan Nana, setelah dipastikan anak itu masuk ke dalam kelas nya Herman kemudian bergegas pergi ke rumah seseorang yang dirindukan nya.
"Assalamu'alaikum, Mak Nenah, Rohanah..., apa kalian ada di rumah?" Ternyata Herman mengunjungi rumah Rohanah, tak lama kemudian pintu rumah terbuka.
"Ah, kang Herman. Ayo masuk," ajak rohanah sumringah.
sebentar sebentar,jadi drama talak mentalak kemarin itu apa sih? 🤔 kok bisa bisanya mereka langsung akur begitu.
Ternyata oh ternya, disebalik Herman menjatuhkan talak itu adalah karena ada maksud terselubung, semuanya sudah mereka berdua rencanakan dengan matang.
"Mak mu kemana?" ia celingukan mencari ibunya Rohanah.
"Ah, baguslah kalau begitu." ucapan Herman begitu ambigu
"Bagus? maksudnya?" Rohanah mengernyit tak faham
"Beberapa hari ini aku tersiksa, berjauhan denganmu," Herman mulai melancarkan aksi rayuan mautnya.
"Ah, kau gombal," Rohanah malu malu
"Tapi kau senang 'kan, aku gombali," goda Herman, sambil terus mendekat kepada wanita itu
"Ih...dasar," wanita itu semakin malu malu tapi mau
__ADS_1
"Kalau begitu, boleh 'kan, jika aku...," Herman tak meneruskan ucapan nya, karena mulutnya di bungkam oleh Rohanah
"Stop! jangan kau teruskan. Kau sudah menjatuhkan talak padaku, ingat?" Rohanah menatap Herman lekat, namun tak sesuai dengan ucapannya, tangan wanita itu sekarang tengah menelusuri dada bidang Herman dengan gerakan gerakan yang bisa membangkitkan gairah.
Herman menangkap tangan wanita itu kemudian mengecupnya dengan lembut, "Ucapanmu tak sama dengan keinginanmu, aku tau kau juga kesepian dan merindu kan aku, bukan begitu?" Herman mengerling nakal
"Ahhh, masa bodoh dengan talak. Lagipula itu hanya sandiwara belaka, cepat nikahi aku lagi. Bukankah Mirah sudah menjadi istrimu, dan sekarang kau bisa menguasai dia, juga semua harta nya, lihatlah kalung serta perhiasan lain yang dikenakan Mirah. Aku menginginkan semua itu, dan kau harus mendapatkan nya untukku," ucap Rohanah dengan manja, dan memaksa.
"Sabar, aku belum mendapatkan hati nya, kalau hatinya sudah luluh, barulah aku bisa mengabulkan permintaanmu sayang," bujuk Herman
"Alah...!, belum mendapatkan hatinya, tapi kau sudah tidur dengan nya dan mereguk nikmatnya 'kan?" Rohanah membuang muka merajuk.
"Boro boro, mereguk kenikmatan. Yang ada aku harus selalu menahan hasrat ku," ucapan nya memang jujur
"Betul? kau belum melakukan apa apa dengan mirah?" binar kebahagiaan terpancar jelas di mata rohanah, dalam hatinya ia bersorak karena Herman tetap miliknya.
"Kalau begitu, apa yang kau tunggu," Rohanah tersenyum penuh arti.
Selanjutnya pasti sudah bisa ditebak, bibir mereka menyatu, permainan lidah pun tak terhindari mereka saling *******, saling membelit dan mencecap satu sama lain, ciuman panas yang kian menuntut kini tengah terjadi, dosa mereka anggap biasa.
Keduanya melepaskan pagutan saat dirasa hampir kehabisan nafas.
"Aku tak bisa menahan lagi," dengan cepat Herman melucuti pakaian yang dikenakan nya, begitupula Rohanah.
Dengan sangat agresif Rohanah memimpin permainan, posisinya yang duduk di pangkuan Herman memudahkan si burung masuk ke goa terdalam.
Lalu begitulah, permainan yang mereka lakukan tak hanya dilakukan sekali dua kali saja, namun berkali kali sampai mereka puas dan lemas.
Namun ada satu hal yang Rohanah tidak tahu, Herman melakukan itu dengan membayangkan mirah sebagai lawan mainnya, sebab apa? tubuh Mirah lebih indah dan menggoda jika dibandingkan dengan tubuh Rohanah, bisa dikatakan Herman hanya ingin menuntaskan hasratnya saja. Dan ternyata Rohanah menerima nya dengan tangan terbuka dan baju terbuka tentunya🤣.
.
__ADS_1
.
.