
"Akkhh! sakiit maaak,tolong berhenti." Ratna memohon dengan berlinang air mata,kini gadis itu merasa kesakitan akibat dicambuk dan yang lebih menyakitkan adalah kondisi ibunya yang sudah tidak sadarkan diri akibat luka luka yang di deritanya.
Tak berhenti disana,tiba tiba saja Mak nenah membuka paksa mulut Ratna dan memasukan Belatung yang ia ambil dari toples penyimpanan nya.
"Akkhhh,emak mau apakan Nana?" tanya Ratna panik
"Diam! buka saja mulutmu!" bentak Mak nenah
"Akkhhh,hiyyyy..hmmmppp," Nana merinding geli,sekaligus ketakutan,ia menggeleng gelengkan kepalanya dan mengatupkan mulutnya rapat rapat.
Akan tetapi entah mengapa tenaga wanita tua itu terasa begitu kuat,hingga mulut Ratna terbuka paksa,dengan cepat Mak nenah memasukkan belatung belatung yang menggeliat itu kedalam mulut nya.
Entah kekuatan darimana,dengan refleks Ratna mendorong Mak nenah,ia menjerit jerit
"iihh,hiyyyy,gelii,puehh...puehh!" Ratna melpehkan semua belatung yang masuk kemulut nya dengan berjingkrak antara takut geli dan jijik semua menjadi satu.
"Rasakan itu bocah!" dengus Mak nenah,yang samasekali tak merasa kasihan kepada Ratna.
"Ibu...,hu~hu~hu~,bangun Bu...,ayo kita pulang," Ratna menangis pilu,gadis kecil itu mencoba menyadarkan sang ibu.
"Apa salah Nana sama ibu,Mak? kenapa Mak nenah melakukan ini pada kami?" tanyanya sendu
"Sshhh,aghhh,perih," Nana meringis kesakitan,luka yang dideritanya lumayan banyak,luka akibat cambukan dipunggung,dan luka akibat gigitan tikus.Namun gadis itu harus menahan nya.
"Kau dan ibumu sama saja,sama sama tidak sadar diri,percuma saja aku menjelaskan kepadamu bocah,kau tidak akan mengerti juga,sekarang kau nikmati saja kesakitanmu,kalian pasti akan membusuk disini," dengusnya
Setelah berkata seperti itu,Mak nenah berlalu pergi meninggalkan Ratna dan Mirah yang terkapar tak berdaya,ia lalu menggeser rak dan menutupnya kembali,kemudian keluar dari sananamun langkah kakinya terhenti karena kehadiran disah,Musa dan Herman disana.
"Mak nenah?!"
"Kalian?!"
Ucap mereka berbarengan,sama sama kaget.
"Mak ngapain disini?" Herman bertanya pertama kali kepada mertuanya
"Ah..emm,i-itu,a-anu,Mak..,Mak lagi melihat piaraan emak," jawabnya sangat gugup,
__ADS_1
"Piara'an? ditempat seperti ini?" disah mengerutkan kening keheranan.
"Hmmm,i-iya,Isah," jawabnya ragu ragu.
"Memangnya apa yang emak piara di tempat seperti ini? lalu emak kenapa membawa bawa cambuk segala?" Herman memicingkan mata curiga.
"A-ah..,itu..,seperti yang kalian lihat,macam macam hewan seperti di toples itu," ucapnya menunjuk toples toples yang berisikan hewan hewan menggeliat.
Herman dan disah pun mendekat untuk melihat lebih jelas hewan yang dimaksud Mak nenah,kemudian di susul Musa yang juga penasaran.
"Ulat,cacing,belatung?" Herman disah dan Musa berpandangan pasalnya mereka merasa janggal dengan apa yang dilihatnya.
"Iyaa,untuk pakan burung.Emak sengaja beternak hewan seperti itu,karena hasilnya menjanjikan," ucapnya berkilah dengan lihai.
Mata disah dan Herman saling pandang,sejurus kemudian mereka menyoroti cambuk yang semenjak tadi disembunyikan dibelakang punggung nya.
"Ah,ohhh..,so-soal cambuk ini,aku membawanya sengaja,untuk berjaga jaga sebagai senjata,apabila ada binatang binatang berbisa seperti ular ataupun untuk menakut nakuti tikus,iya..seperti itu," seolah faham dengan sorotan mata disah dan Herman ia segera menjelaskan soal cambuk yang dibawanya.
Namun disah Herman dan Musa yang semenjak tadi memperhatikan penampilan Mak nenah tetap saja merasa curiga,sebab penampilan wanita itu sangat mencurigakan,dengan jubah hitam rambut acak acakan,belum lagi cambuk yang semenjak tadi dipegangnya terlihat belepotan oleh darah segar.
"Coba sini,aku mau lihat cambuk nya," Herman meminta mertuanya tersebut untuk menyerahkan cambuk itu.
"Tidak apa apa,aku ingin melihatnya,barangkali aku tertarik untuk membeli nya,untuk mengusir binatang binatang yang merusak tanaman kak disah," bujuk Herman lagi.
"Sudah sudah,kau tidak boleh memegang cambuk ini,lagipula untuk apa kalian kemari,dan kau Herman,bukannya kau kerumah jenguk Rohanah supaya dia lekas sembuh,malah keluyuran kemari!" ucapnya mengalihkan pembicaraan
"Aku dan kakak awalnya sedang mencari Ratna,namun pada saat pencarian ternyata Mirah juga ikut menghilang,pada akhirnya kami menemukan sebuah lubang seperti jebakan yang kami yakini Mirah terperosok kedalamnya,akhirnya kami mengikuti dan sampailah disini," Herman menjelaskan semuanya kepada Mak nenah.
"Deg! deg! deg!" jantung Mak nenah berdebar kencang.
"Apakah emak melihat Mirah?" pertanyaan sederhana,namun itu adalah jebakan,pasalnya Herman disah dan Musa sudah merasa curiga sejak tadi,apalagi melihat gelagat Mak nenah yang selalu gugup dan terkesan menyembunyikan sesuatu.
"Jadi benar kata Rohanah,sekarang yang kau perhatikan hanya si Mirah itu,kau sudah mengabaikan Rohanah hingga sakit seperti sekarang," ucapnya sinis
"Maksud Mak apa sih,aku gak ngerti,kenapa malah jadi Rohanah yang dibahas?" herman mengernyit heran.
"Kau! tega teganya menyiksa Rohanah,aku tidak terima!" tiba tiba saja suara Mak nenah meninggi.
__ADS_1
"Oke,aku minta maaf sama emak,masalah penyiksaan yang kulakaukan kepada Rohanah,aku sedang khilaf waktu itu,dan lagipula kak disah sudah menghajarku habis habisan,kita sudah impas 'kan? akan tetapi,jika soal Rohanah yang emak bilang sampai sakit,aku rasa tidak! sebab tadi aku menemuinya dan dia baik baik saja,bahkan sudah mau kusentuh!" ujar Herman sedikit frontal
"Dugh!"
"Aughh,"
"Sakit kak," dengus Herman
"Diam saja kau!" disah melotot.
Disah menendang kaki Herman yang berbicara terlalu terang terangan,ia merasa jika sangat tak pantas adiknya berbicara seperti itu.
Mendengar ucapan Herman yang seperti itu Mak nenah sangat kaget,namun ia berusaha meneyembunyi kan nya.Berarti Herman sudah tau apabila Rohanah tidak sakit kejiwaan seperti yang dikatakan nya.
"Dasar anak sialan,aku berusaha mati Matian untuk balas dendam,tapi dia malah enak enakan,tidak bisa diandalkan," ucapnya dalam hati
"Kau,istrimu,dan anakmu harus merasakan akibatnya!" ucapnya lagi,entah sadar atau tidak,Mak nenah kini seperti sedang membongkar kejahatan nya sendiri.
"Maksudmu?"
"Apakah kau yang menyembunyikan Ratna dan Mirah?" tiba tiba saja Musa yang sejak tadi hanya diam menyimak,kini mendekati Mak nenah,ia menatap tajam wanita tua itu dengan raut wajah yang suram dari jarak yang begitu dekat,sontak saja hal itu membuat Mak nenah mundur karena merasa takut dan tertekan.
"A-apa apa an kau ini? mengapa menuduhku?" tanya nya tergagap
"Aku tidak menuduhmu,aku hanya bertanya,JADI JAWAB SAJA!" Bentak Musa yang tiba tiba meninggikan nada suaranya menjadi sangat menggelegar,dengan cepat pria baik hati itu pun merebut cambuk yang semenjak tadi di sembunyikan Mak nenah.
Saking kaget dan takutnya Mak nenah pun menangis
"Kau jahat! kembalikan cambuk itu,hu~hu~hu," tangisnya gemetaran
Setelah cambuk ada ditangan Musa,ketiga orang itu pun langsung memeriksanya,dan terlihatlah darah segar serta potongan potongan kain yang tidak sengaja tersangkut di cambuk itu.
"Kau bilang tadi ini darah tikus, lalu ini apa? sejak kapan tikus memakai baju?" disah memperlihatkan cambuk yang dipenuhi potongan kain yang menempel dengan darah lengket kepada Mak nenah.
Mak nenah hanya diam membisu,dirinya tak bsa mengelak lagi sekarang.
.
__ADS_1
.