
Mirah kemudian merebahkan dirinya di ranjang,disampingnya Ratna sudah tertidur sangat lelap sampai sampai bocah itu mendengkur halus
"Tetaplah jadi anak yang ceria dan menyenangkan,karena hanya kamulah satu satunya alasan yang membuat ibu selalu kuat dan bertahan sampai saat ini," Mirah menatap lekat gadis kecilnya,tangan halus itu kemudian menyibak Surai sang gadis yang tengah terlelap.
Pergerakan sang ibu ternyata dirasakan oleh manusia kecil itu,ia pun menggeliat dan mengerjapkan mata indahnya.
"Hmmm,ibu...mengapa belum tidur ?" tanyanya dengan mata yang masih setengah terbuka.
"Baru mau tidur,keburu nana bangun," ucapnya lembut
"Apakah ibu akan ke bandung lagi?" kini mata sang gadis sudah terbuka sepenuhnya
"Mengapa Nana bertanya begitu?" ujar sang ibu
"Pengen tau saja,Nana pasti akan sangat sedih jika ibu berangkat lagi ke sana," ucapnya sendu
"Nana sayang,dengarkan ibu 'nak,ibu pergi kebandung itu untuk bekerja mencari uang,tujuannya apa? ya demi kelangsungan hidup kita.Ibu berharap Nana tidak kekurangan suatu apapun walaupun...," mirah menghentikan kalimatnya,ia hampir saja keceplosan.
"Walaupun apa Bu? kok berhenti?" tanya Nana penasaran
__ADS_1
"Ah tidak,maksud ibu begini sayang,Selama ini biaya hidup kita bergantung dari pak amir.Dan sekarang pak Amir sudah tiada,jadi ibu harus berusaha keras demi kelangsungan hidup kita.Kamu mengerti sayang?" Mirah segera meralat ucapan nya,ia sangat berharap Nana mengerti
"Iya,Nana mengerti kok 'bu,hanya saja Nana suka sedih kalau gak ada ibu,"
"Doakan saja,supaya ibu selalu sehat.Ibu akan berusaha menabung sampai uang itu terkumpul banyak,nantinya kita akan membangun usaha kita bersama," ucapnya memberi pengertian
"Hm,Nana akan selalu mendo'akan ibu," ucapnya mengangguk mantap
"Malam sudah larut,mari kita tidur," mirahpun segera merebahkan badannya di ranjang,kemudian di susul nana dengan posisi tidur memeluk sang ibu,Mirah langsung mengusap ngusap punggung sang anak sampai kembali terlelap menuju alam mimpi.
***
"Mir...,kamu kapan berangkat lagi ke Bandung?" disah membuka pembicaraan
"Mungkin lusa 'kak,semalam Nana terlihat sedih sekali ketika membicarakan kepergian ku ke Bandung,aku jadi merasa tidak tega," Mirah menghela nafas dalam,hatinya merasa bimbang.Jika tidak berangkat ke Bandung bagaimana dengan kehidupan mereka ke depannya,namun berangkat ke Bandung juga ia merasa sedih ketika terpaksa harus meninggalkan Nana.
Dikarenakan insiden cu'eng yang menghilang,Mirah jadi mengundur kepergiannya ke Bandung,kini sudah hampir sepuluh hari ia tinggal.
Dari itulah rasa berat hati untuk meniggalkan nana semakin kuat,ia sudah terlalu lama di rumah.
__ADS_1
"Mari kita pergi ke Bandung bersama," ajak cu'eng
"Huh? denganmu?" Mirah mengernyit
"Iya,denganku.Apa ada yang salah?" balas cu'eng
"A--ah,tidak.Hanya saja,aku merasa tidak enak jika pergi bersama.Aku takut akan merepotkan mu nanti," ujar Mirah cepat
"Kalau begitu jangan membuat aku repot.Gampang 'kan?" ucapannya begitu menyebalkan di telinga Mirah.
"Astagfirullah...lama lama aku bisa darah tinggi bicara denganmu,kalau kamu tidak mau direpotkan,ya sudah tidak usah saja kita pergi bersama," Mirah merasa jengkel,ia bicara sambil melengos pergi.
"Ya,marah dia,"
Sedangkan disah dan Musa yang semenjak tadi hanya menyimak saja sampai geleng geleng kepala melihat perdebatan kedua insan itu,dari situ juga sepasang suami istri itu menangkap,bahwa diantara cu'eng dan mirah ada sesuatu yang terjadi.
.
.
__ADS_1
.